Suara Mahasiswa

Nakal, Tajam, Menggelitik

Editorial Opini

Kilas Balik Momen ‘Ramai’ di Tahun 2020

Ilustrasi angka 2020 yang dikelilingi virus corona. (Ifsani Ehsan Fachrezi/SM)

Suaramahasiswa.info – Tahun 2020, angka yang terbilang cantik namun tidak semua orang menyepakati makna dari 2020 secantik angkanya. Tidak sedikit guyon dari akun-akun media sosial yang menginginkan tahun 2020 harusnya di-skip saja. Mungkin segala guyon yang tercetus itu diakibatkan oleh fenomena tahun tersebut yang kurang mengenakkan.

Awal tahun yang digegerkan dengan potensi Perang Dunia tiga, hingga pada pertengahan tahun dunia dilanda pandemi bernama Covid 19. Garis besar tahun 2020 sepertinya layak diberikan kepada pandemi Covid 19, lantaran sejak awal tahun hingga penghujung tahun rasanya topik Covid 19 masih saja hangat untuk dibicarakan. Headline pemberitaan, timeline sosial media, obrolan tongkrongan, hingga judul penelitian tugas akhir yang hingga saat ini masih dikerjakan oleh penulis, pembahasannya tentang Covid 19.

Sepertinya terlalu jauh jika media kampus seperti Suara Mahasiswa membahas garis besar pandemi Covid 19 secara global maupun nasional. Dengan segala pembahasan dan perdebatan kaum konspirasi dan non-konspirasi yang tidak berujung, sebagai seorang mahasiswa, alangkah baiknya kita menjaga kesehatan maupun kebersihan apapun yang terjadi. Penyakit tidak akan hinggap jika kesehatan dan kebersihan kita terjaga, bukankah begitu?

Sembari menikmati kuliah rasa liburan akhir tahun, kali ini Suara Mahasiswa akan membawa kamu kembali mengingat fenomena-fenomena yang terjadi di “kampus biru” maupun luar, sejak awal hingga penghujung tahun 2020.

  1. Pengusiran Pelajar Tunanetra dari Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN)

32 Pelajar tunanetra penghuni Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Bandung diusir oleh oknum aparat, pada Kamis (9/1). Kronologi terjadinya pengusiran tersebut dipaparkan oleh Elda Fahmi yang merupakan mahasiswa tunanetra penghuni panti. “Pada hari kamis (9/1) ada oknum TNI yang mengintimidasi. Lalu, tiba-tiba jendela sudah dibongkar, langsung disegel dan ditumpuk kayu dan lain-lain,” tutur Elda.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh perubahan nomenklatur yang semula Panti menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna. Mahasiswa tunanetra, Muhammad Sofwan memaparkan jika perubahan nomenklatur tersebut dapat berdampak pada pendidikan formal dan pelatihan kerja.

“Dengan adanya perubahan nomenklatur ini mereka (pihak balai) beralasan mereka sudah tidak bertanggung jawab mengurusi pendidikan formal. Bahkan awalnya anak SD, SMP, SMA ada kemungkinan dikeluarkan, cuman terjadilah negosiasi dan untuk sementara ini mereka aman. Cuman yang mahasiswa ya sudah di sini (di luar),” pungkasnya ketika diwawancarai di depan BRSPDSN Wyata Guna, Jalan Padjajaran.

  1. Kejahatan Seksual di Kampus Biru

Per tanggal 4 Februari 2020, Suara Mahasiswa mengunggah video wawancara dengan seorang korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum tenaga pengajar di Unisba. Hingga tulisan ini dimuat, sebanyak 7.240 pasang mata telah menyaksikan video tersebut yang dimuat di platform Youtube Suara Mahasiswa.

Selang beberapa hari setelah itu, korban mengalami perundungan dari rekan sejawatnya. Meski telah disamarkan, kerabat terdekatnya dengan penasaran memastikan kepada korban jika yang berada dalam video adalah dirinya. Hal tersebut membuat korban merasa trauma dan tertekan ketika hendak menuju Kampus atau melakukan kegiatan di Kampus.

Dengan begitu, hal tersebut menunjukkan bahwa perlindungan korban kejahatan seksual semakin mengkhawatirkan. Lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi support system, berbanding terbalik dengan kenyataannya. Ini tentunya menjadi ‘PR’ besar bagi pihak Unisba agar menindak tegas para pelaku kejahatan seksual di lingkungan civitas akademika, dan kemudian memberi perlakuan khusus bagi korban kejahatan seksual.

  1. Undur-Undur Pendaftaran Capresma

Mendekati penghujung tahun hingga awal tahun, dinamika organisasi mahasiswa Unisba disibukkan dengan adanya Pemilu Raya (Pemira). Seperti pemilu yang diselenggarakan sebuah negara, dalam sebuah kampus akan dipilih seorang Presiden mahasiswa (Presma) yang akan menjadi pemimpin bagi mahasiswa Unisba. Mahasiswa Unisba akan memilih calon Presma yang layak untuk memimpin selama satu tahun masa jabatnya.

Namun, di Unisba sendiri bakal calon Presma sangat sulit dicari. Pendaftaran Capresma yang dilaksanakan oleh Dewan Amanat Mahasiswa Unisba (DAMU), hari senin (13/1/2020) hingga Jum’at (31/1/2020) terhitung sepi peminat. Tak kunjung adanya pendaftar, DAMU kembali memperpanjang masa pendaftaran sejak Kamis (6/2/2020) hingga Minggu (16/2/2020) yang disepakati melalui sidang paripurna pada Senin (3/2/2020).

DAMU kembali memutuskan untuk memperpanjang pendaftaran hingga Kamis (20/2/2020) yang telah disepakati dalam rapat koordinasi, hari Minggu (16/2/2020). Perpanjangan kali ini bukan disebabkan sepinya pendaftar, namun ada persyaratan yang belum dipenuhi oleh pendaftar. Diutarakan oleh ketua DAMU, Panji Nurhadiansyah sudah ada dua formulir yang diambil, dan hanya satu yang telah dikembalikan.

“Ada yang sudah datang mengembalikan formulir, tapi tanggal 16 itu masih kurang KTM dari tiga fakultas. Waktu Senin sudah diselesaikan, dan tinggal satu fakultas lagi yang belum. Kalau enggak salah tinggal Fakultas Hukum yang kurang 25 KTM,” ucap Panji ketika ditemui di Sekretariat DAMU, Jalan Tamansari No. 1, Kota Bandung pada Selasa (18/2/2020).

  1. Drama Pemira 2020

Masih berkaitan dengan topik di atas, setelah menutup pendaftaran, masih ada jalan terjal yang dilalui DAMU dalam memutuskan siapa saja pasangan calon (paslon) yang dapat maju dalam Pemira 2020. Pasalnya, paslon nomor urut dua, yakni Bijaktama Syahasal dan Agung Rahmat tidak lolos dalam verifikasi syarat pendaftaran. Keduanya tidak menyertakan surat kelakuakn baik dari tiap fakultasnya. Kemudian foto dari Bijaktama tidak disertakan, hingga sertifikat pesantren mahasiswa baru (maba) dari Agung tidak disertakan pula.

Hal ini menjadi celah bagi pihak paslon nomor urut satu, yakni Dani Ramdani dan Iqbal Tanjani untuk menyerang pihak oposisinya. Pihak paslon satu meminta kepada DAMU untuk melakukan transparansi pada proses verifikasi data. Walaupun melanggar aturan, DAMU pada akhirnya mengamini permintaan tersebut dengan melaksanakan rapat koordinasi, pada Kamis (20/2/2020).

Pada akhirnya, drama ditutup dengan pengumuman kedua pasangan yang akan maju pada Pemira 2020, pada Jum’at (21/2/2020). Paslon dua tetap diputuskan maju dalam Pemira 2020, walaupun persyaratan yang dikumpulkan tidak lengkap. DAMU dan BPPU memutuskan merubah ketentuan pendaftaran, seiring dengan adanya peraturan DAMU tentang Pemilu Presma Unisba pasal 25 tentang Perubahan Peraturan yang berbunyi:

Perubahan-perubahan Peraturan ini dapat dilaksanakan pada situasi dan kondisi tertentu yang memang sangat mendesak dan/atau sangat diperlukan untuk diadakannya perubahan oleh DAMU.

  1. Shock Therapy Kampus oleh Kemunculan Covid 19

Unisba melalui Surat Keterangan Rektor Nomor  181/G.13/Rek-k/III/2020 yang diterbitkan pada (16/3/2020) perihal Pencegahan Penularan Corona Virus Disease 19, melarang segala kegiatan di Kampus Unisba, baik itu berbentuk akademik maupun non-akademik. Kegiatan akademik dialihkan menjadi berbasis online melalui situr e-learning Unisba.

Tentunya hal tersebut menjadi kendala bagi sistem perkuliahan yang baru diterapkan oleh Unisba ini. Tidak sedikit mahasiswa yang mengeluhkan sistem perkuliahan online yang dirasa tidak efektif dalam penyampaian dan pemahaman materi. Kemudian Ujian Tengah Semester (UTS) terpaksa dilaksanakan secara online dan permasalahan muncul kembali ketika mahasiswa kesulitan mengakses laman e-learning ketika UTS.

Tidak hanya sistem perkuliahan, akomodasi untuk mengakses situs kuliah online yang memerlukan kuota internet menjadi satu dari sekian banyak hambatan. Dengan begitu, Unisba dengan sigap melirik kesempatan program kuota belajar gratis dari beberapa provider seperti XL Axiata, Indosat, dan Telkomsel. Berbeda dengan Universitas Pasundan yang memberi fasilitas kuota internet dengan nominal Rp150.000 dan Telkom University dengan nominal Rp300.000.

  1. Shock Therapy Organisasi Mahasiswa Unisba oleh Kemunculan Covid 19

Tidak hanya sistem akademik perkuliahan saja yang mengalami kejutan, dinamika organisasi mahasiswa pun mengalami kejutan tak terduga oleh Covid 19. Serangkaian agenda yang telah disiapkan berbulan-bulan, pupus sudah oleh kehadiran Covid 19. Pasalnya salah satu rangkaian agenda dari organisasi mahasiswa berpotensi menyebabkan kerumunan atau keramaian.

Seperti yang dialami oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (BEM Fikom) Unisba yang terpaksa event tahunannya, yakni Fikom Fest batal digelar. Tidak hanya ormawa yang batal menyelenggarakan festival, Pemilu Raya Unisba pun terpaksa dibatalkan.

Belum lagi pihak Universitas yang menutup dan menyegel sekretariat seluruh organisasi mahasiswa menjadi kendala lain terhambatnya roda organisasi. Rapat-rapat terpaksa dilakukan secara online, acara yang semula diselenggarakan secara langsung, kini beralih online. Kasus ini menjadi babak baru bagi organisasi mahasiswa untuk bisa bertahan dan beradaptasi di situasi pandemi Covid 19.

  1. Ta’aruf Online untuk Pertama Kalinya

Unisba menyelenggarakan hajat tahunan yang isinya memperkenalkan kampus biru kepada wajah baru mahasiswanya. Hajat tersebut diberi nama Ta’aruf yang secara bahasa berarti saling mengenal. Ta’aruf yang diselenggarakan pada Senin (14/9/2020) hingga Rabu (16/9/2020) ini berbeda dengan ta’aruf sebelumnya. Mungkin ini pertama kali sistem penyelenggaraan ta’aruf berbasis online dengan menyatukan ribuan mahasiswa baru dalam satu platform khusus. Tentunya hal ini tidaklah mudah dengan kontrol massa yang sangat banyak secara jarak jauh.

Benar saja, panitia penyelenggara kewalahan mengantisipasi peserta yang mengikuti prosesi ta’aruf. Berbagai macam masalah seperti tidak menyalakan kamera, berkata yang tak pantas, hingga bercanda tidak kenal waktu sulit untuk di kontrol. Seperti yang diutarakan peserta ta’aruf 2020 yakni Adinda Tiara yang menurutnya masih banyak mahasiswa yang tidak memperhatikan materi dan lebih banyak yang bercanda.

“Masih banyak yang enggak memperhatikan apa yang dijelaskan, masih berisik dan riweuh, servernya juga selalu error karena banyak yang akses.” Ucapnya ketika diwawancarai via pesan whatsapp pada (15/9/2020).

  1. Akhir Cerita Pemira

Babak akhir Pemira 2020 adalah dengan pernyataan pengunduran diri dari kedua paslon. Bukan tanpa sebab, namun karena pihak penyelenggara yang berleha-leha tak kenal waktu dalam mengambil keputusan. Diutarakan oleh Calon Wakil Presiden paslon satu, Iqbal Fajril Tanjani menjelaskan jika pihaknya mengundurkan diri dari pemira dikarenakan kinerja yang lamban dari BPPU maupun Dewan Amanat Mahasiswa Unisba (DAMU) terkait penyelenggaraan pemira tahun ini.

“Karena sistem dan respon DAMU serta BPPU belum paripurna dan lama menanggapi pemira tahun ini, sehingga terjadi kemoloran waktu periode yang berpengaruh kepada kalender akademik mahasiswa itu sendiri,” jelasnya melalui aplikasi pengolah pesan.

Pada akhirnya, Presma Unisba dipilih secara musyawarah dalam kongres yang diselenggarakan, pada Jum’at (25/9) melalui daring. Proses panjang nan alot dilalui ketika kongres hingga diputuskan bahwa Taufik Sirajuddin, sebagai Presma dan Agung Rahmat, sebagai Wapresma. Itu artinya, untuk kedua kalinya Unisba menunjuk Presma secara aklamasi, setelah sebelumnya cara ini dilakukan ketika Pemira 2016.

  1. Gejolak Aksi Tolak Omnibus Law di Kampus Biru

Rasanya akan terlalu rumit jika pada pembahasan kali ini menceritakan jajak awal mula Omnibus Law. Pada intinya puncak kemarahan rakyat adalah ketika ketukan palu disahkannya Rancangan Undang Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) pada rapat paripurna hari Sabtu (3/10/2020). Merespon akan hal tersebut, mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya Kota Bandung menggelar aksi besar-besaran menolak disahkannya RUU Ciptaker. Gelombang aksi besar tak surut sejak Senin (5/102020) hingga Kamis (8/10/2020).

Huru-hara demonstrasi terjadi dalam empat hari itu. Menengok aksi RUU KUHP pada Senin (23/9/2019), Unisba menjadi kembali menjadi titik evakuasi bagi korban huru-hara demonstrasi. Pada saat aksi hari Rabu (7/10/2020), kumpulan mahasiswa yang sedang dievakuasi di kampus Unisba Tamansari ditembaki gas air mata dan bom asap oleh aparat kepolisian. Akibatnya kaca pos keamanan yang berada di dalam kampus Unisba Tamansari pecah.

Tidak hanya itu, berselang satu hari setelahnya aparat kepolisian kembali menyasar kampus Unisba sebagai targetnya. Pada hari Kamis (8/10/2020) kaca pos keamanan LPPM Unisba pecah dan salah satu petugas keamanan Unisba yang sedang berjaga di Gedung Rektorat mengalami tindakan represif oleh aparat kepolisian.

Pada saat itu, nama Unisba menjadi ramai diperbincangkan yang bahkan menjadi trending topic twitter. Bukan soal prestasinya, namun soal simpati rakyat kepada Unisba atas tindakan kurang mengenakkan oleh aparat kepolisian. Merespon hal tersebut, pihak Rektorat Unisba hingga Keluarga Besar Mahasiswa Unisba (KBMU) melayangkan tuntuan kepada pihak kepolisian untuk bertanggungjawab atas tindakkannya.

  1. Perkuliahan Online yang Kembali Diperpanjang

Rencana perkuliahan tatap muka pada awal tahun akhirnya tidak dapat direalisasikan. Hal tersebut disebabkan semakin melonjaknya kasus Covid 19 di Indonesia pada penghujung tahun. Melihat kasus ini, Unisba tidak mau mengambil resiko dengan memaksakan kuliah tatap muka di awal tahun. Pada akhirnya Unisba akan memperpanjang masa kuliah online hingga Ujian Tengah Semester (UTS) semester genap.

Hal tersebut diutarakan langsung oleh Wakil Rektor I, Harits Nu’man mengatakan regulasi ketat yang dikeluarkan Direktorat Jendral Tinggi (Dikti) melalui Surat Edaran Dikti nomor 6 tahun 2020. “Universitas lain juga belum ada yang pasti melaksanakan (kuliah) tatap muka karena regulasinya demikian ketat seperti dalam Surat Edaran Dirjen Dikti nomor 6 tahun 2020, jika dimungkinkan untuk adanya (kuliah) tatap muka Unisba akan menyelenggarakannya setelah kegiatan UTS genap,” tuturnya saat diwawancari melalui pesan singkat, pada Rabu (9/12).

Baik dan buruknya tahun 2020 ini alangkah baiknya jika kita syukuri dan jadikan pelajaran untuk kehidupan di tahun selanjutnya. Halaman baru ada di depan mata, siapkan pula pena untuk merangkai goresan yang baru.

Terima Kasih 2020.

Redaksi

______

Naskah dihimpun dari laman Suara Mahasiswa sepanjang tahun 2020.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *