Membawa Dua Helm dan Dua Jas Hujan adalah Jalan Ninjaku

Ilustrasi sepeda motor. (Fahriza Wiratama/SM)

Oleh Raden Muhammad Wisnu

Saat sedang menunggu lampu merah, banyak yang saya pikirkan, mulai dari poin-poin bahan tulisan yang akan saya tulis di blog pribadi saya, hingga memikirkan masa depan bangsa dan negara ini. Dan inilah hasil lamunan saya. “Sepertinya hanya orang Indonesia yang tidak pernah membawa dua helm dan dua jas hujan, padahal sepeda motor diperuntukan untuk doa orang penumpang, dan di Indonesia hanya ada dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan.”

Kebetulan beberapa hari yang lalu saya membawa dua helm dan dua jas hujan ketika berkunjung ke salah satu rumah teman saya, dan mereka keherahan kenapa saya membawa dua helm dan dua jas hujan yang saya ikat di jok motor saya. Mereka bertanya apakah saya mengambil pekerjaan sampingan dengan menjadi ojek online? Jawabannya tentu saja bukan, saya bukan pengemudi ojek online, hanya bermaksud membantu sesama umat manusia saja dengan membawa dua helm dan dua jas hujan kemanapun saya pergi.

Untuk mengawali latar belakang mengapa saya membawa dua helm dan dua jas hujan kemana-mana, saya akan sedikit bercerita. Saya baru memiliki motor pertama saya tahun 2019, ketika kurang lebih sudah satu tahun bekerja, dan dua tahun lulus kuliah. Saya tidak memiliki privilege untuk memiliki sepeda motor sejak SMA atau sejak berkuliah karena orang tua hanyalah pensiunan sehingga mereka lebih memprioritaskan pengeluaran mereka untuk biaya pendidikan saya maupun kebutuhan sehari-hari lainnya sehingga tidak ada uang lebih yang dapat disisihkan untuk membeli sepeda motor untuk mobilitas saya. Saya lebih banyak naik angkutan umum dan beralih menggunakan ojek online ketika ojek online sudah menjamur di Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Sejak kelas satu SMA, sebenarnya saya juga cukup sering menumpang pada teman-teman yang memiliki sepeda motor. Namun kebanyakan dari mereka tidak mau memberikan tumpangan dengan alasan mereka tidak membawa dua helm. Adapun beberapa dari mereka, hanya memberikan tumpangan sekadar pada persimpangan jalan maupun sebatas keluar komplek karena dikhawatirkan ada razia kendaraan bermotor ataupun bertemu dengan polisi lalu lintas yang bertugas.

Ada juga sih, yang memberikan tumpangan sampai tujuan dengan melewati jalan protokol yang besar dan penuh risiko akan kecelakaan lalu lintas karena saya tidak memakai helm, maupun ditilang politisi lalu lintas. Namun, sangat jarang. Dan saya pernah menumpang pada salah satu teman dengan melewati jalan protokol di Kota Bandung, dan sialnya, kami bertemu dengan polisi lalu lintas yang sedang bertugas dan akhirnya menilang kami. Sebagai penumpang yang tahu diri, saya pun bersedia membayarkan dendanya dan meminta maaf kepada teman saya tersebut. 

Ada juga, teman saya yang membawa dua helm kemana-mana, disamping dia memakai motor matic kekinian yang memiliki bagasi besar sehingga muat untuk menyimpan dua helm, dia adalah bucin alias budak cinta sejati yang kemana-mana selalu mengantarkan pujaan hatinya disaat dia tidak sibuk sehingga selalu standby dua helm kemanapun. Naas, ketika menumpang padanya, hujan pun turun. Kami pun berteduh di bawah jalan layang, dan ternyata banyak sekali pesepeda motor lainnya yang berteduh di sana sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas dan tentu saja kami diklaksoni oleh para pengendara mobil.4

Itulah yang membuat saya berpikir, “Mengapa para pesepeda motor ini tidak membawa dua helm dan dua jas hujan? Padahal beli motor saja mereka sanggup.

Saya berpikir, meskipun tidak mengendarai sepeda motor kekinian dengan bagasi yang muat untuk memuat dua helm, motor bebek ataupun motor sport dapat menaruh helm cadangannya di jok bagian belakang dengan membeli tali karet yang dapat diikat di behel atau ekor motor bukan? Atau pada motor sport ukuran besar bisa juga dengan menambahkan kotak atau container di ekor motornya. Lagipula harga helm standar tidak akan lebih dari RP150.000 kok!

Lalu, jas hujan tentu saja tidak mahal, banyak jas hujan dengan kualitas bagus dengan harga di bawah Rp100.000 yang ada di pasaran, dan ukurannya terbilang tipis sehingga para pesepeda motor ini dapat menaruhnya di bagasi motor mereka, ataupun ditaruh di container tambahan jika memakai motor sport berukuran besar. 

Lebih dari sepuluh tahun hanya jadi penumpang dan tidak memiliki motor, membuat saya bertekad untuk membawa dua helm dan dua jas hujan kemana-mana karena pengalaman tidak mengenakan yang saya ceritakan tersebut. Dan di awal tahun 2019 ketika saya memiliki motor pertama saya, yakni Astrea Supra tahun 2001, saya pun sampai hari ini membawa dua helm dan dan dua jas hujan kemana-mana dengan menaruhnya di jok bagian belakang, yang diikat dengan tali karet yang saya beli seharga Rp 10.000 saja. Sempat kepikiran untuk menggunakan container tambahan di ekor motor saya, tapi saya urungkan niat tersebut karena alasan estetika.

Membawa dua helm dan dua jas hujan kemana-mana tentu saja saya harapkan dapat membantu teman yang kebetulan kita temui di suatu tempat dengan memberikannya tumpangan karena kita membawa dua helm dan dua jas hujan kemanapun. Setidaknya, hanya ini sumbangsih yang dapat saya berikan kepada teman yang saya temui di jalan, dengan memberikan tumpangan ketika perjalanan kami searah dan saya masih memiliki waktu senggang untuk sekadar mengantarkannya sampai tujuan dengan memperhatikan aspek keselamatan karena memakai helm dan tidak akan ditilang polisi lalu lintas karenanya. Inilah jalan ninja saya.

Penulis merupakan alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *