Ilustrasi naik-turunnya investasi crypto yang menggambarkan risiko dan peluang besar dalam dunia aset digital. (Ilustrasi: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM)
Oleh: Sudarmawan Dwi Sularso
Suaramahasiswa.info, Unisba- Dalam satu dekade terakhir, industri crypto di Indonesia berkembang pesat seiring maraknya konten digital dan pengaruh influencer di media sosial. Banyak anak muda memandang crypto sebagai simbol kemajuan, namun dorongan memperoleh keuntungan cepat membuat sebagian masyarakat berinvestasi tanpa pemahaman yang memadai.
Crypto sebagai Inovasi Finansial
Crypto menjadi instrumen investasi yang mengubah pandangan masyarakat terhadap uang, transaksi keuangan, dan kepemilikan aset. Teknologi seperti blockchain dengan volatilitas tinggi membuat crypto lebih mudah dipahami oleh mereka yang memiliki literasi keuangan digital.
Di Indonesia, tingkat literasi keuangan masih terbatas meskipun berbagai komunitas edukasi bermunculan. Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat literasi finansial nasional berada pada kisaran 65 – 66% sehingga masih banyak masyarakat yang belum memahami fundamental instrumen investasi seperti crypto.
Kondisi ini memperlebar jurang pemahaman ketika teknologi kompleks hadir lebih cepat daripada kesiapan masyarakat. Mereka yang memahami crypto mampu memanfaatkan momentum, sedangkan masyarakat yang mengikuti Fear of Missing Out (FOMO) cenderung mengalami kerugian.
Spekulasi di Pasar Crypto
Tren investasi digital mendorong jumlah investor crypto di Indonesia mencapai 14,16 juta orang berdasarkan data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) pada April 2025. Pertumbuhan tersebut terjadi karena banyak masyarakat memasuki pasar tanpa pemahaman mendalam dan lebih banyak mengikuti ajakan influencer.
Sebagian investor membeli aset digital berdasarkan dorongan emosional alih-alih melakukan analisis fundamental. Pola seperti ini membuat crypto bergeser dari instrumen investasi menjadi sarana spekulasi bagi masyarakat.
Fenomena tersebut memicu kerugian karena keputusan investasi dilakukan tanpa memahami risikonya secara menyeluruh. Kondisi ini menunjukkan bahwa adopsi crypto belum berjalan seiring dengan kesiapan masyarakat untuk menerima instrumen investasi yang berisiko.
Keterbatasan Edukasi Crypto
Ketika sebuah inovasi diperkenalkan, masyarakat idealnya memperoleh edukasi dasar tentang literasi keuangan. Namun, edukasi semacam ini masih terbatas di Indonesia dan sering kali muncul setelah instrumen seperti crypto terlanjur berkembang luas.
Keterbatasan tersebut membuat banyak orang menafsirkan grafik candlestick tanpa pemahaman dan mudah menerima ajakan influencer tanpa proses verifikasi. Selain itu, laporan OJK menunjukkan bahwa meski transaksi crypto terus meningkat, hanya 31,8% investor yang memahami fundamental crypto sehingga literasi keuangan tertinggal dari laju pertumbuhan pasar.
Upaya Meningkatkan Literasi Crypto
Agar crypto benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia, dibutuhkan kesiapan yang matang sebelum publik diarahkan pada aset yang memiliki risiko tinggi. Pemerintah dan platform crypto dapat menyediakan modul edukasi wajib agar calon investor memahami dasar-dasar aset digital sebelum melakukan transaksi.
Institusi pendidikan dapat berperan sebagai pusat literasi dan riset untuk membantu masyarakat memahami investasi digital secara lebih terarah dan bertanggung jawab. Media juga perlu menghadirkan informasi yang seimbang dengan menekankan edukasi risiko, karena crypto sebagai inovasi keuangan digital membutuhkan literasi kuat dan pola pikir investasi jangka panjang agar dapat dimanfaatkan sebagai peluang.
Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Filsafat, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada.
