Potret Ambulans Universitas Islam Bandung (Unisba) yang terparkir di depan Gedung Aquarium Unisba Jl. Tamansari, No. 1 Kota Bandung pada Rabu, (10/12). (Foto: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Malam kerap turun dengan cara yang tak biasa di Universitas Islam Bandung (Unisba), seakan gelapnya membawa sesuatu yang enggan ditinggalkan. Ketika derap langkah terakhir mahasiswa memudar dan lorong-lorong hanya dihiasi lampu yang meredup, siapa pun yang masih bertahan akan merasakan bahwa mereka tidak benar-benar sendirian.
Dalam senyap yang menebal, udara acapkali berubah tanpa sebab, seolah kampus turut menahan napas bersama sesuatu yang berdiam di dalamnya. Angin mendadak berhenti dan dari arah ambulans terhembus wangi lembut yang terasa asing, seperti sapaan dari sosok yang berdiri dekat meski tak terlihat.
Bagi para petugas keamanan terutama koordinator driver ambulans Unisba yang kerap disapa Jeje, tahu kemana isyarat itu tertuju, kepada sosok yang mereka kenal sebagai “Si Tante Penunggu Ambulans”. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan berusia sekitar 50 tahun, rambut bersanggul rapi, berkebaya merah, dan mengenakan kain samping bercorak yang memancarkan pesona perempuan Jawa tempo dulu.
Konon, kemunculan si Tante bermula ketika Jeje yang sekaligus menjadi driver ambulans Unisba ditugaskan mengantar jenazah dosen Unisba ke Lamongan. Dalam perjalanan pulang menjelang malam, ia melihat sosok perempuan duduk tenang di kabin belakang pada kursi yang seharusnya kosong, dan saat itu ia menyadari bahwa penumpang yang ikut pulang bersamanya bukanlah manusia.
“Sejak akhir 2010 ambulans ini saya bawa ke Lamongan untuk membawa salah satu jenazah dosen Fakultas Dakwah Unisba. Ada sosok perempuan duduk di belakang saya, tapi alhamdulillah hantunya tidak mengganggu hanya mengikuti dan ternyata dia betah ada di mobil,” ujarnya seolah mengakui bahwa sosok yang kini di panggil si Tante sudah lama menjadi bagian dari keseharian mereka.
Namun, sosok perempuan itu bukan satu-satunya, sebab ada dua anak yang kerap terlihat di belakangnya seperti bayangan yang enggan berpisah. Seorang gadis berpostur seperti remaja dan bocah laki-laki yang tampak seperti menggunakan popok kerap mengikuti di belakangnya lalu perlahan lenyap seperti ditelan udara.
Sejak saat itu, petugas keamanan Unisba beberapa kali terperanjat oleh kehadirannya. Satpam baru yang bertugas pun kerap menjadi sasaran dari tingkah iseng si penunggu ambulans, entah berupa bayangan yang berlalu atau kehadiran yang membuat tengkuk merinding.
Ada satu kejadian yang tak pernah lepas dari ingatan sang pengemudi, ketika ia merasa dirinya tidak sendirian di dalam ambulans dan ada seseorang yang duduk di sampingnya, si Tante menatapnya dengan wajah datar hingga udara di sekitarnya ikut berubah. Tatapan itu hanya berlangsung sekejap sebelum sosoknya lenyap seolah terseret ke ruang yang tak pernah bisa dijangkau manusia.
Ketika dirinya ditanya apakah ia takut, ia hanya tersenyum kecil yang lebih mirip seperti penerimaan daripada keberanian. “Kalau saya merasa takut, saya khawatir saya celaka. Saya bilang aja ke dia, kalau mau ikut ya ikut tapi jangan mencelakakan saya, “ ucapnya dengan penuh rasa yakin.
Menurut cerita dari para satpam yang bertugas di malam hari, si Tante kerap menampakkan diri ketika kampus telah benar-benar sepi dan menjelang tengah malam. Mereka menyebutnya pemalu, namun justru sifat itulah yang membuat kehadirannya terasa semakin mengusik.
Tanda-tanda kehadirannya pun beragam. Mulai dari harum bunga sedap malam, hingga perubahan suhu yang mendadak hangat layaknya hembusan napas.
Pada akhirnya, keberadaannya dipercayai sebagaimana tiap orang memandangnya. Namun, saling menghargai tentu salah satu jalan yang dapat dilalui karena sejatinya manusia tetap hidup berdampingan dengan makhluk lain.
Reporter: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
Penulis: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
