Potret petugas kebersihan yang sedang memilah tumpukan sampah di area Climbing Wall Universitas Islam Bandung (Unisba) Jl Tamansari 1, Bandung pada Jum'at, (5/12). (Foto: Deila Noer Habiba/Job)
Suaramahasiswa.info, Unisba- Pengelolaan sampah di Universitas Islam Bandung (Unisba) masih menyisakan persoalan setelah tumpukan sampah kembali terlihat di area Climbing Wall dan area benteng dekat Taman Teknik Pertambangan Kampus I Unisba, Jalan Tamansari No. 1, Kota Bandung. Walaupun volume sampah harian menurun, keterlambatan pengangkutan dan terbatasnya fasilitas pengelolaan sampah membuat masalah ini belum tuntas.
Kepala Seksi Kebersihan Unisba, Eko Widiantoro menyatakan bahwa produksi sampah di kampus Unisba masih tergolong tinggi. Namun, jumlah kantong sampah harian yang mulanya berjumlah lebih dari 10, kini menjadi lebih sedikit berkat pemilahan dan pemadatan yang berjalan lebih optimal.
Adapun, penumpukan sampah dalam jumlah berlebih masih kerap terjadi ketika berlangsungnya agenda tahunan kampus, seperti Milad, Ta’aruf, dan Wisuda Unisba. “Kadang kita juga meminta bantuan kalau panitia mengadakan kegiatan, sampahnya diminimalkan, selalu saya informasikan seperti itu.” Tuturnya saat diwawancara pada Rabu, (3/12).
Ia menambahkan, pengangkutan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung yang dijadwalkan setiap malam pun kerap tertunda. Dalam beberapa bulan terakhir, penarikan sampah selalu molor sekitar lima hari kerja karena adanya pengurangan tonase sampah yang diterima DLHK.
Selain dua faktor tersebut, pihak Unisba juga tidak memiliki fasilitas Tempat Pengumpulan Sementara (TPS) yang memenuhi standar. “Dikatakan TPS, berdasarkan UU (Undang-Undang-Red) nggak ada fisiknya. Syukur-syukur kita masih bisa diangkut sampahnya, kalau kena teguran dari DLHK kaya gitu, harusnya TPS ada fisiknya, kan,” ujar Eko.
Sementara itu, Ketua Task Force Zero Waste Unisba, Imam Indratno menilai persoalan utama sampah di kampus bukan hanya terkait fasilitas, tetapi juga budaya pemilahan yang belum terbentuk di kalangan sivitas akademika. Ia menyebut, meski sosialisasi telah dilakukan melalui berbagai media, kebiasaan memilah sampah belum sepenuhnya terinternalisasi dalam aktivitas sehari-hari.
Lebih lanjut, Imam menuturkan pihak kampus telah melakukan sosialisasi melalui tim Social Engineering Task Force Zero Waste, baik melalui media sosial maupun pengumuman sebelum waktu shalat. Namun, perubahan perilaku tidak bisa dicapai tanpa kesadaran bersama.
Imam juga menegaskan, penanganan sampah di kampus berjalan paralel dengan pengembangan teknologi Zero Waste, termasuk rencana pemanfaatan reaktor plasma. Namun, penempatan reaktor di kampus masih terkendala ketersediaan lahan serta belum adanya persetujuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Perseroan Terbatas Kereta Api Indonesia (PT KAI).
“Tergantung dapet CSR atau tidak, pengennya ya pengennya, cuma kan CSR nya enggak gampang, penelitian kan, dari KAI. Sampai sekarang untuk dana yang kita usulkan harus ketemu Dirut (Direktur Utama-Red) PT. KAI, enggak mudah karena pengambilan keputusannya ada di Dirut.” Kata Imam pada Senin, (8/12).
Khairunnisa Putria, Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2024 memberikan tanggapan terkait penumpukan sampah yang sudah mengganggu. “Jujur sedikit terganggu karena baunya juga enggak enak, beberapa kali sering dibakar, polusinya kemana-mana, sampahnya juga kadang lama di angkatnya.” Ujarnya pada Rabu, (3/12).
Berbeda dari Khairunnisa, Muhammad Raffi Whardana, Mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2025 menyampaikan jika kondisi sampah di gedung fakultasnya tergolong aman karena tidak terjadi penumpukan. Namun, ia berpendapat, penumpukan terjadi karena pengelolaan yang belum maksimal sehingga, perlu dilakukan perbaikan agar tidak menimbulkan bau di lingkungan kampus.
Raffi berharap, mahasiswa dapat lebih memahami cara memilah sampah. “Mungkin bisa diperbanyak untuk tempat sampahnya gitu supaya mahasiswa juga bisa membuang sampah sesuai tempatnya.” Ujarnya pada Rabu, (3/12).
Sementara itu, Imam mengharapkan perubahan budaya memilah sampah perlu menjadi fokus utama ke depan dalam memperbaiki persoalan sampah di Unisba. “Harapan saya paling utama itu mau berubah budayanya karena tidak gampang untuk melakukan perubahan kebudayaan, itu kan satu ya, harus punya mindset harus punya paradigma.” tutup Imam.
Reporter: Deila Noer Habiba/Job & Rasya Aditya Nugraha/Job
Penulis: Deila Noer Habiba/Job
Editor: Siska Vania/SM

