Ilustrasi edukasi finansial dan investasi seorang siswa melalui gawai (Ilustrasi: Dwi Ratna).
Oleh: Dwi Ratna
Di tengah meningkatnya minat investasi di kalangan muda, kecakapan finansial pelajar Indonesia masih menghadapi jurang pemahaman yang cukup lebar. Hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2025, tingkat literasi keuangan remaja usia 15-17 tahun baru menyentuh 51,86%. Sementara itu, berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), lebih dari 19 juta investor pasar modal nasional berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Namun, peningkatan jumlah investor muda ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang risiko, perencanaan keuangan, dan budaya investasi yang sehat. Kurangnya akses dan minat pada edukasi keuangan memperbesar risiko financial ignorance, terutama di tengah gencarnya promo aplikasi dan tren konsumsi digital yang serba cepat.
Fenomena ini terlihat dari kebiasaan umum pelajar yang cenderung menghabiskan uang jajan untuk kebutuhan instan tanpa perhitungan jangka panjang. Nominal kecil seperti Rp10.000 sering dianggap remeh, padahal jika dikelola secara terencana, jumlah tersebut dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian finansial.
Padahal, memahami konsep dasar keuangan menjadi kunci. Misal, menabung dan berinvestasi adalah dua hal yang berbeda. Menabung berarti menyimpan uang dengan pertumbuhan rendah tetapi aman. Sementara investasi menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi melalui efek bunga majemuk.
Praktik Finansial di Negara Maju
Contoh sederhana, seorang pelajar yang konsisten menyisihkan Rp10.000 per minggu ke reksa dana yang legal dan berizin memperoleh nilai akhir lebih besar dibandingkan saldo yang mengendap di rekening. Namun, potensi tersebut hanya dapat dicapai melalui perhitungan yang tepat dan tujuan jangka panjang.
Di jepang, edukasi finansial masuk kurikulum nasional sejak 2022 melalui program seperti J-FLEC, Kids Money Station, hingga Hands-on Finance and Securities yang digerakkan Japan Securities Dealers Association (JSDA). Model pembelajaran yang interaktif membuat pelajar memahami uang, tabungan, investasi, dan risiko secara praktis.
Lebih lanjut di Korea Selatan juga menerapkan langkah serupa melalui Korean Council for Investor Education (KCIE). Program tersebut mengintegrasikan materi keuangan dalam kurikulum sosial dan ekonomi sekolah menengah serta mendorong siswa berpikir kritis terhadap tawaran investasi.
Sayangnya, Indonesia masih tertinggal dalam penerapan kurikulum literasi keuangan yang menyeluruh. Sehingga, adaptasi konsep efektif dari negara lain perlu dilakukan dengan mempertimbangkan konteks budaya, kurikulum, dan kebutuhan remaja Indonesia.
Inovasi Platform Edukasi Finansial untuk Pelajar

Kebiasaan mengelola uang, memahami risiko, dan merencanakan tujuan keuangan sejak dini dapat membentuk generasi muda yang lebih mandiri dan rasional. Namun, langkah tersebut membutuhkan pemahaman tentang potensi kerugian, konsep risiko imbal hasil, matematika dasar investasi, serta kemampuan memilah informasi valid di tengah maraknya penipuan berkedok edukasi finansial.
Maka dari itu, kolaborasi antar pemerintah, sekolah, hingga pengembang aplikasi perlu menyediakan ekosistem pembelajaran yang mudah diakses, aman, dan terarah. Tanpa itu, pelajar akan sulit membedakan aplikasi edukatif dari aplikasi spekulatif yang hanya menjanjikan keuntungan instan.
Sebagai pelajar serta calon inovator, hadirnya aplikasi InvestSiswa dapat menggabungkan berbagai fitur, seperti gamifikasi, materi literasi keuangan, simulasi risiko, dan pemantauan progres investasi secara sederhana. Dengan modal minimal Rp10.000 per minggu dan panduan yang terstruktur, pelajar dapat belajar berinvestasi secara aman, memahami risiko dan potensi, serta menumbuhkan budaya literasi keuangan.
Sebagai alternatif, dapat dibayangkan jika hadir platform edukasi seperti InvestSiswa yang menggabungkan literasi keuangan, simulasi risiko, gamifikasi, dan pemantauan progres investasi secara sederhana. Dengan modal minimal Rp10.000 per minggu dan panduan yang terstruktur, pelajar dapat belajar berinvestasi melalui platform resmi berizin OJK, memahami risiko sekaligus manfaatnya, serta membangun budaya finansial yang sehat.
Pada akhirnya, masa depan finansial tidak ditentukan oleh besarnya modal awal, melainkan oleh keberanian memulai, kedisiplinan, dan pola pikir kritis. Jika investasi dijadikan kebiasaan cerdas, dan edukasi finansial ditumbuhkan sebagai budaya, maka satu langkah kecil hari ini dapat berkembang menjadi aset berharga bagi pelajar Indonesia.
Penulis merupakan mahasiswa SI Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga yang memiliki ketertarikan pada literasi keuangan, inovasi digital, dan pengembangan ekonomi generasi muda.
