Takhayul Rakyat Jawa Tatkala Pandemi Influenza 1918

Pasien Pandemi Influenza tahun 1918 yang dirawat. (Foto/Universal Images Group)

Suaramahasiswa.info – The Great Influenza atau Flu Spanyol (1918-1919) menjadi peristiwa pandemi paling mematikan sepanjang sejarah manusia. Flu ini menyerang 500 juta orang dan membunuh 50-100 juta orang dalam waktu enam bulan. Pandemi ini menyebar lewat pasukan Amerika yang terinfeksi saa Perang Dunia I. Mereka berkumpul di barak dan berpindah ke tempat lainnya. Dikutip melalui jurnal kesehatan (Murti, 2010: 9-10).

Mengutip dari jurnal berjudul “Evolution and Ecology of Influenza A Viruses” (Webster, dkk, 1992:153), influenza timbul dari sejumlah hewan seperti ayam, babi, kuda, bebek, unggas air dan burung pantai. Namun riset World Healt Organization (WHO) menunjukan virus influenza semua tipe (tipe A penyebab pandemi) awalnya hinggap di burung air.

Awalnya influenza ditetapkan sebagai epidemi di Eropa pada awal 1510, namun tempo waktu berlalu, statusnya menjadi pandemi pada 1918. Indonesia yang kala itu masih berbendera Hindia Belanda terkena dampaknya, dan pulau Jawa merupakan yang terparah.

Wabah Influenza di Jawa ini dapat digambarkan dalam jurnal “Wabah Influenza di Jawa (2013). Situasi wabah dikisahkan dalam Warna-Warni Pengalaman Hidup R. Slamet Iman Santoso, Buleleng dinilai merupakan salah satu pelabuhan yang membawah wabah ke Jawa Timur. Bahkan pada akhir 1918, Influenza memasuki daerah Jawa Barat. Terjadi peningkatan jumlah kematian pada awal tahun 1919 di sejumlah daerah di Jawa Barat, seperti di Bandung, Sukabumi, Cianjur, Cilacap, Semarang serta Lebak.

Burgerlijken Geneeskundigen Dients atau Dinas Kesehatan Rakyat mengatakan jika penyebaran disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya karena kurang istirahat, gaya hidup kotor, serta penduduk sakit yang ngotot bekerja dan bersosialisasi.

Acapkali rakyat Jawa melakukan ritual ketika menghadapi wabah Influenza. Zending Mojowarno di Jombang merupakan tempat yang dianggap sebagai tempat suci terkena wabah Influenza. Mereka mendatangi tempat itu lalu melaksanakan sebuah ritual untuk mengusir wabah serta mendapatkan kesembuhan (Dewi, 2013:138).

Wabah influenza, dianggap sebagai roh jahat atau hantu penunggu lokasi tertentu. Oleh sebab itu, masyarakat yang terkena wabah kerapkali melaksanakan upacara tradisional. Pelaksanaannya dilakukan dengan menyembelih kerbau dan memberikan sesajen bunga-bunga. Upaya ini diharapkan dapat meredakan amarah ataupun mengusir roh jahat (Dewi, 2013:138).

Takhayul lainnya juga dilakukan di Bandongan, Magelang, Mutilan dan sekitarnya. R. Slamet Iman Santoso dalam bukunya (dalam Dewi, 2013:138-139) berkisah bahwa pada awalnya terdapat tetangganya yang meninggal dunia. Jenazah langsung dimandikan, disembahyangi, serta disiapkan. Karena wabah sebabkan banyak kematian yang membuat tanah di perkuburan padat, maka warga berencana menyemayamkan jenazah pada pukul enam pagi di keesokan harinya. Tatkala warga sedang tertidur, sementara ada yang juga warga menjaga jenazah, terdengar teriakan yang membuat warga mengerumuninya. 

Setelah dilihat, rupanya jenazah tersebut berguling-guling dan bergerak terus menerus, sehingga membuat warga lainnya ketakutan. Jenazah yang semula dibungkus, kemudian dilepas. Jenazah kemudian duduk serta meminta minum. Hari-hari berikutnya, jenazah tersebut bahkan bisa diajak berbicara pelan-pelan.

“Tersusunlah cerita sabagai berikut: dia diambil oleh seorang lelaki, diajak ke Samudera Selatan, menghadap Nyai Loro Kidul. Kemudian, ia diperintahkan menjaga api. Nyai Loro Kidul sedang mantu. Oleh karena kepanasan, ia keluar dari dapur, ngisis. Tetapi ia kepergok, dimarahi, tidak bisa dipakai, kemudian dikirim pulang,” kutip Slamet Iman Santoso dalam bukunya.

Cerita lainnya dari Semarang, berkembang sebuah cerita seorang kaya raya pelit yang meninggal akibat wabah Influenza. Ketika disemayamkan, tangan kanan jenazahnya lepas dan terbang mondar-mandir. Jika terdapat anak kecil, maka akan dicekik sampai mati kemudian akan dijadikan temannya. Jika tangan tersebut diberikan uang sak endil atau setengah sen, maka “hantu” dari jenazah akan berhenti menganggu.

Penulis: Fadil Muhammad

Editor: Febrian Hafizh Muchtamar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *