Suara Mahasiswa

Nakal, Tajam, Menggelitik

Artikel

Mahasiswa: Perjuanganku, Idealismeku, Derita Alat Kelaminku

Oleh: Bobby Agung Prasetyo*

Saat ini, permasalahan mahasiswa tak hanya soal paham dan idealisme saja, melainkan juga selangkangan. Ya, selangkangan. Mengapa harus selangkangan? Bukankah problematika ini sensitif dan sangat pribadi adanya?

Dalam suatu penelitian psikologi, manusia memiliki daya dobrak nan dahsyat dalam hal libido seksual pada umur 18-25 tahun. Jika dikaitkan dengan jenjang umur, maka kita mendapat kesimpulan bahwa usia tersebut adalah usia mayoritas mahasiswa tahap Strata 1. Pun tak dipungkiri bahwasanya kami, Pers Suara Mahasiswa, pernah membuat sebuah pemberitaan pada 2006 tentang fenomena mucikari penyedia ‘ayam-ayam’ di Kampus Biru, Unisba. Hal tersebut bagi saya tak hanya terjadi di lembaga institusi pendidikan tercinta kita saja, namun perguruan tinggi lainnya. Ya, efeknya begitu masif.

Wajar kan, bila suatu saat kita menemukan video porno berformat 3gp dengan embel-embel nama suatu perguruan tinggi? Mari kita akui.

Pertemanan saya dengan beberapa mahasiswa (tak hanya di Unisba saja), tak pernah luput dari obrolan soal pengalaman seksnya semalam yang begitu dahsyat. Dewasa muda, minimnya kontrol dari orang tua, dan fasilitas kost yang tak hanya untuk menetap dan mengerjakan tugas saja namun melakukan eksperimen bercinta yang dahsyat bersama pasangannya, menjadi alasan mengapa masa-masa mahasiswa terasa begitu sejati dan berdiri sendiri tanpa pengekangan dari pihak lain. Pilihan terbuka bebas bagi siapapun mahasiswa, namun kembali mengingatkan bahwa di setiap kenikmatan pasti ada yang namanya derita.

Berbicara soal Married By Accident (MBA), itu sudah biasa. Pergi ke panti pijat, beberapa menganggap sudah bukan hal yang aneh (jika hanya pijat biasa karena pegal-pegal, maka tak usah dipermasalahkan). Tak bisa berkritis ria sebelum melakukan kontak genital baik dengan lawan jenis, sesama jenis, ataupun secara ‘intrapersonal’ jika dianalogikan dengan mata kuliah psikologi komunikasi, menjadi alasan wajib mahasiswa sebelum berkarya.

Bahkan, sekalinya takut dengan penyakit menular AIDS pun, kita masih saja tetap melakukan hubungan-hubungan bebas tersebut. Pembenarannya, dengan berkata “kan sudah ada kondom?”, “kan pasanganku ‘bersih’?”, “kan aku ‘keluar’nya di luar?”, dan segala pembenaran cantik lainnya.

Guna dari sebuah agama adalah menyelaraskan batasan agar manusia hidup seimbang juga berpadu padan atas manusia-manusia lainnya. Banyak sekali tafsir yang menyebutkan tentang pelarangan melakukan hubungan seks bebas. Memang jika berbicara secara psikologis, melakukan hubungan seksual dapat menenangkan penat dan melunturkan stress. Tapi ingat, penyakit kelamin harus kita perhitungkan. Bagi saya, kita butuh percikan rasa kewaspadaan demi kesehatan tubuh kita.

Atau ketika saya harus berbicara dengan konteks yang sempit, perlu adanya rasa sayang yang mendalam terhadap alat kelamin kita.

Grafik penderita AIDS haruslah menurun. Sedih rasanya jika membayangkan idola saya Faroukh Bulsara a.k.a Freddie Mercury, vokalis grup musik Queen, meninggal gara-gara AIDS. Jangan sampai hal tersebut berulang, jangan sampai kesadaran kita terkikis gara-gara libido yang membabi buta. Maka dari itu, marilah kita meresapi makna tanggal 1 Desember sebagai Hari AIDS Sedunia secara mendalam. Semoga kita dapat menyadari betapa bahayanya AIDS, semoga menjaga kesehatan adalah prioritas utama kita.

Selamat hari AIDS Sedunia tanggal 1 Desember. Jaga dan sayangilah alat kelaminmu, karena kita hanya punya satu. Kecuali jika ada yang punya lebih dari dua, maka pilihan kembali lagi pada Anda.

 

*Penulis adalah Pemimpin Umum Pers Suara Mahasiswa

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *