Kembalinya Popularitas TikTok pada 2020 dan Dampak Negatifnya

Ilustrasi TikTok. (Fahriza Wiratama/SM)

Suaramahasiswa.info – Mungkin agaknya sobat kampus sudah akrab mendengar aplikasi bernama TikTok yang sebelumnya sempat populer pada 2018 lalu. Aplikasi ciptaan Zhang Yaming ini memiliki keunggulan berupa pengguna yang dapat merekam video sekaligus mengeditnya, yang mana pada saat itu aplikasi serupa masih tergolong langka.

Seiring berjalannya waktu, TikTok sempat tidak bisa diakses oleh masyarakat karena diblokir oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Indonesia pada Selasa (3/7/18). Namun, aplikasi tersebut dapat kembali diakses pada Selasa (10/7/18).

“TikTok mulu, dasar bocah alay!”

“Joget-joget enggak jelas!”

“Sok asyik.”

Kurang lebih begitulah celotehan netizen di sosial media. Tetapi seakan musnah, para pemberi komentar buruk itu pun kini kian berkurang dan pada awal 2020 ini keadaan berbalik: TikTok mulai mendapatkan hati dan popularitas dari masyarakat.

Popularitas aplikasi ini mulai kembali melalui konten asyik dan tagar yang menarik. Seperti: #AnySongChallenge, #YummyChallenge, #BagaikanLangitChallenge, dan masih banyak lagi.

Penggunanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak kecil bahkan orang dewasa sekali pun turut meramaikan TikTok. Tidak mau tertinggal, tokoh tersohor dari kalangan selebriti pun turut antusias membuat konten video di aplikasi tersebut.

Bukan tanpa alasan, TikTok menarik perhatian bagi penggunanya karena banyaknya fitur untuk bebas berkreativitas. Ada juga pengguna TikTok yang memanfaatkan untuk mengisi waktu luang, kejenuhan, dan membuat senang saat menggunakannya.

Tapi sobat kampus, perlu diingat ya! Walaupun TikTok membuat seseorang berkreativitas membuat video. Namun, penggunaan aplikasi ini juga dapat memberikan dampak psikologis lho. Mau tahu apa saja? Mari kita simak!

TikTok dengan Efek Candunya

Melansir dari kompas[dot]com, manusia akan menjadi malas karena kemajuan teknologi. Kebanyakan orang terlalu asyik, menghabiskan waktu untuk membuat video kreatifnya dan sampai lupa aktivitas yang harus dikerjakan.

Kecanduan juga disebabkan karena eksistensi diri di media sosial. Semakin besar eksistensi diri maka semakin membuat pengguna ketagihan. Selain itu, juga dapat membuat seseorang menjadi mudah lelah.

Konten Pornografi dalam TikTok

Pengguna dapat berinteraksi dan melihat video yang diunggah di TikTok, dan tidak sedikit penggunanya berasal dari kaum hawa. Menurut jurnal yang berjudul ‘Kajian Dampak Negatif Aplikasi Berbagai Video bagi Anak-anak dibawah Umur di Indonesia’ oleh Ilham Gemiharto.

Terkadang pengguna berpakaian terbuka dan menunjukkan bagian pribadi mereka. Adanya konten pornografi ini dikeluhkan oleh para orang tua yang memiliki anak dibawah umur. Para orang tua resah akan video-video tentang hal itu. Kominfo telah menerima 2.830 laporan dari masyarakat.

Merusak Kualitas Diri

Aplikasi ini membuat seseorang tidak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Berdasarkan jurnal ‘Pengaruh Media Sosial TikTok Terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik di SMPN 1 Gunung Sugih Kab. Lampung Tengah’ oleh Riska Marini.

Menurut hasil pantauan Riska, kebanyakan pengguna TikTok merupakan anak dibawah umur. Sehingga kerap kali ditemukan kasus dimana pengguna lupa waktu karena terlalu asyik memainkan aplikasi tersebut.

Jadi sobat kampus, bermain TikTok ataupun aplikasi lain tentunya tidak apa-apa. Namun, perlu diperhatikan juga intensitas penggunaannya. Jangan sampai aktivitas bermain TikTok kalian sampai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Penulis: Nima Kasina Auliarahman

Editor: Shella Mellinia Salsabila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *