Hari Laut Dunia: Apa Kabar Ikan dan Karang di Laut?

Ilustrasi bawah laut. (Foto/Wallpaper Access)

Suaramahasiswa.info –  Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan Jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Begitulah nyanyian Reni sehabis pulang dari laut. Berjalan menuju ke rumah, Reni tampak senang membawa sejumlah ikan hasil memancing hanya dengan menggunakan kail dan umpan cacing.

Petikan pesan kisah Reni, mengingatkan betapa laut telah berbaik hati pada kita. Banyaknya ikan yang mengisi laut sepertiga bumi ini, sewajarnya membuat laut tidak luput diistimewakan pula. Nah, Bertepatan pada tanggal 8 Juni sebagai Hari Laut Sedunia, apa kabar ya dengan kondisi laut saat ini?

Nampaknya, laut butuh lebih dari sekedar rasa diistimewakan dengan hari peringatan, apalagi banyaknya informasi pencemaran laut yang berseliweran di televisi maupun sosial media. Dari banyaknya kasus pencemaran laut yang ada, sampah plastik adalah sorotan paling utama.

Kondisi laut coba diperlihatkan dalam film dokumenter berjudul Ocean Plastic. Saking memperihatinkannya, banyaknya plastik hingga membentuk daratan dimana kita bisa berjalan diatasnya. Meski lokasi rumah jauh dari laut, sampah seperti pemantik api, botol minuman, dan sampah lainnya terbukti menganggu kehidupan makhluk laut.

Berdasarkan World Economic Forum 2016, kondisi laut telah tercemar lebih dari 150 juta ton sampah plastik di dunia. Setiap tahunnya, terdapat sekitar 8 juta ton sampah plastik yang mengalir ke laut.

Kondisi laut Indonesia pun perlu diperhatikan. Hasil riset Lembaga Riset Penelitian Indonesia (LIPI) menyebut, sekitar 594 ribu ton sampah dihasilkan setiap tahunnya dan sebagian besar sampah berujung mencemari kawasan pesisir pantai. Banyaknya plastik kemudian membuat ikan, penyu, dan paus tidak sengaja memakan plastik tersebut. Inilah yang mendukung banyaknya paus dan penyu terbunuh oleh bahan yang sulit diurai tersebut.

Nah loh, kayanya penggalan lagu tadi kok beda? Semoga ikan yang dibawa Reni bukan salah satunya ya. Apalagi adanya hari laut sedunia bisa merubah nasib laut lebih baik

Adanya hari peringatan yang mengistimewakan laut, justu permasalahan sampah plastik diakibatkan oleh pola hidup kita. Aksi menguranginya harus dimulai dari diri sendiri seperti menerapkan 3R (Reduce, Reuse, Rycyle) dan menggunakan wadah berbahan plastik dipakai ulang mengingat plastik termasuk bahn tidak mudah rusak. Menggunakan kemasan yang mudah terurai oleh alam seperti daun dan kertas pun bisa membantu mengurangi sampah plastik.

Jumlah plastik nampaknya tidak bisa dihentikan dengan cepat, karena diperlukan perubahan cara pandang baru dalam menggunakannya. Beberapa cara pandang coba ditawarkan dengan berbagai trend saat ini. Bisa dilihat adanya trend sedotan berbahan logam guna mengurangi sedotan sekali pakai, membawa  tumbler dan misting dari rumah, untuk memangkas penggunaan wadah sekali pakai.

Pencegahan membludaknya sampah laut turut diambil Indonesia dengan adanya Rencana Aksi Nasional penanganan sampah laut. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Desember 2019, telah menyiapkan lima strategi untuk menjaga kehidupan laut.

Lima tahap ini bisa kita bantu agar tercapai, dimulai dari kesadaran para pemangku kepentingan; pengelolaan sampah yang bersumber dari darat; penanggulangan sampah di pesisir dan laut; mekanisme pendanaan, penguatan kelembagaan, pengawasan dan penegakan hukum; serta penelitian dan pengembangan. Diharapkan, adanya rencana ini akan mengurangi sampah sampah plastik di lautan sampai 70% pada 2025. 

Penggalan lagu yang dinyanyikan Reni tadi, nampaknya memberi kesan yang berbeda setelah tau kondisi laut. Lagu buatan koes-plus ini menjadi teguran kalau pola hidup yang berhadapan dengan sampah perlu diubah. Pasti ngga mau dong liburan ke laut tapi terganggu meihat sampah dan ikan-ikan mengambang? 

Penulis: Efiana Salfini & Laily Kurniawati

Editor: Muhammad Sodiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *