Senin, 17 Agustus 2015 saya seperti bisa merasakan suasana pada 70 tahun silam, 17 Agustus 1945. Di mana semua rakyat riuh, gegap gempita, dan bersuka cita. Ramai-ramai memasang bendera disekitar rumahnya, menghias rumah dengan tema merah putih, gang-gang dihias dengan gapura khas 17-an, mengadakan lomba-lomba, sampai melakukan upacara pengibaran bendera. Uniknya, kini tak hanya dilaksanakan di lapangan, tapi juga di puncak gunung, di tengah lautan, sampai yang paling terkini akan ada pengibaran bendera merah putih raksasa di titik nol Indonesia di Sabang sana. Roman nasionalisme itu begitu membuat bulu kuduk merinding.
Saat 17-an kita bangga untuk bilang, “Ayo kita pakai dresscode daerah kita! “ atau “Panitia 17-an harus memakai batik, biar Indonesia banget.“ Saat 17-an kita bangga untuk bilang, “Ayo gotong royong kita hias desa kita, agar lebih bagus, indah dan semarak.“ Saat 17-an juga kita senang di depan rumah kita berkibar sang saka merah putih, bangga! Prestise! Keren! Saat 17-an kita lahap makan-makan khas Indonesia, sayur asem, ikan asin, sambal, tempe, tahu, sega liwet, wedang jahe, bandrek dan banyak lainnya. Saat 17-an kita adakan lomba membacakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar.
Setelah euphoria 17-an berakhir, apa yang terjadi? Mulai nasionalisme itu luntur, bahkan sengaja kita hilangkan. “Aduh, males banget sih disuruh pakai batik, apa-apaan coba, kayak mau ke undangan aja. “
“Halah gotong royong untuk desa segala, saya sibuk. Tapi oke saya bisa bantu, asal bayarannya pas.“
“Duh kaya rumah pejabat aja, enggak pantas rumah kita di depannya ada bendera merah putih gitu. Kalo rumah presiden sih cocok hahaha.“
“Ya ampun, ndeso banget sih. Makan mah steak, hot dogg, pizza dong, modern dikit napa!“
“Yah, kaya bocah SD aja. Baca pancasila sama UUD. Saya sudah SMP, SMA, Mahasiwa. Gausah deh!“
See?
Cinta budaya sendiri hilang. Semangat gotong royong, hilang. Cinta kuliner khas Indonesia, hilang. Sampai, kekaguman pada merah putih, Pancasila, juga hilang.
Lalu apa makna dari momentum 17 Agustusan sebenarnya? Apakah hanya momentum NASIONALISME SEHARI? Lalu setelah itu lupa lagi. Amnesia kambuhan! Nilai-nilai ke-INDONESIA-an ini, pelan-pelan tapi pasti, kita kubur sendiri. Kita lebih asik membangun rumah persemayaman untuk budaya-budaya asing. Karena yang ada di dalam mindset kita semua, budaya mereka jauh lebih MODERN, dan hal-hal yang berbau ke-INDONESIA-an cukup kita namakan sebagai sesuatu yang TRADISIONAL.
Maka tak usah kaget, tak usah gemetar, tak usah binggung. Kalau suatu saat nanti, entah generasi keberapa. Mereka akan bertanya kepada kita semua, “Warna bendera indonesia apa sih?“ atau “ Pancasila itu apa sih? Kok aku baru denger yah.“
INDONESIA RAYA MERDEKA MERDEKA
TANAHKU NEGERIKU YANG KUCINTA
INDONESIA RAYA MERDEKA MERDEKA
HIDUPLAH INDONESIA RAYA
Persetan ormas, persetan orpol, persetan warna, persetan jabatan, persetan intrik, persetan kepentingan, INDONESIA RAYA tetap harus merdeka sesuai maknanya!
DIRGAHAYU INDONESIA KE- 70
(Gana Kanzi H.*/SM)
*Penulis adalah Pemimpin Umum Pers Suara Mahasiswa Unisba periode 2015-2016
