Potret penumpukan barang di Parkiran Basement 3 (B3) Gedung Dekanat Universitas Islam Bandung (Unisba), Jl Tamansari No.24, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung pada Selasa, (4/8). (Foto: Siti Nur Halizah/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Basement 3 (B3) Gedung Dekanat Universitas Islam Bandung (Unisba) tak hanya menjadi tempat kendaraan parkir. Di salah satu sudutnya, berbagai inventaris memenuhi sebagian area sambil menunggu jadwal pelelangan.
Sebagian besar inventaris tersebut merupakan hasil pengembalian dari berbagai fakultas dan unit di lingkungan Unisba. Inventaris yang dikembalikan kemudian diperiksa untuk memastikan apakah masih dapat diperbaiki, dimanfaatkan kembali, atau sudah tidak dapat digunakan.
Kepala Seksi (Kasi) Inventaris Barang Unisba, Galang Eka Yusuf Arifin, mengatakan pelelangan barang telah berlangsung sebelum tahun 2015. Menurutnya, pelelangan dilakukan terhadap barang yang sudah tidak lagi layak pakai.
“Dari sebelum 2015 juga ada. Kalau menurut saya kampus ada pelelangan itu normal, ya, barang kan nggak mungkin ditumpuk, pada intinya ketika barang terus ditumpukan mau diapakan gitu,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, (28/7).
Meski telah berlangsung sejak lama, pelelangan tidak dilakukan secara berkala. Galang menjelaskan, barang hasil pengembalian dikumpulkan terlebih dahulu hingga jumlahnya dinilai mencukupi sebelum dijadwalkan untuk dilelang.
Komputer beserta aksesorinya menjadi jenis inventaris yang paling sering diajukan dalam pelelangan. Berbeda dengan barang elektronik, Galang mengatakan mebel yang masih memungkinkan untuk diperbaiki umumnya tetap dimanfaatkan sehingga tidak seluruhnya dilepas.
Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pengadaan dan Perawatan Barang Inventaris Unisba, Septa Guryadi, mengatakan setiap inventaris terlebih dahulu diperiksa oleh teknisi bagian perawatan. Salah satu pertimbangan dalam pemeriksaan tersebut ialah biaya perbaikan sebelum barang diputuskan untuk dilelang.
“Kalau misalkan biaya perbaikannya di atas 60 atau 70 persen dari harga printernya, nah itu masuk ke klasifikasi yang nggak bisa diperbaiki, karena harganya terlalu mahal untuk perbaikannya,” jelas Septa pada Selasa, (28/7).
Tak hanya itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk memilah komponen elektronik yang masih dapat dimanfaatkan. Septa menjelaskan, komponen seperti Random Access Memory (RAM), hard disk, dan monitor yang masih berfungsi dipisahkan terlebih dahulu untuk digunakan sebagai suku cadang perangkat lain.
Selama menunggu jadwal pelelangan, inventaris yang telah dinyatakan tidak layak pakai tetap disimpan di B3 Gedung Dekanat. Kondisi tersebut membuat sebagian area parkir beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan sementara.
Terkait kondisi tersebut, Septa mengakui penyimpanan inventaris di B3 berdampak pada kapasitas area parkir. “Kalau menyempit pasti, ya, namanya juga yang tadinya lahan terbuka terus dipakai barang. Cuman kadang kita lihat lagi daripada numpuknya di mana-mana, ya, kita kumpulin di satu bagian kalau misalkan barang yang akan dilelangnya lama,“ tuturnya.
Selain memanfaatkan B3 Gedung Dekanat sebagai tempat penyimpanan sementara, Unisba juga memiliki gudang di Kampus II Ciburial. Galang mengatakan lokasi tersebut kini lebih banyak digunakan untuk menyimpan mebel dan material kayu, sedangkan barang elektronik dipusatkan di Gedung Dekanat.
Setelah proses pelelangan selesai, hasil penjualan barang terlebih dahulu dilaporkan kepada Kepala Bagian (Kabag) Sarana dan Prasarana (Sarpras). Selanjutnya, dana hasil pelelangan disetorkan ke bagian keuangan Yayasan Unisba.
Adapun, Septa berharap tidak banyak barang yang berakhir dilakukan pelelangan. Dirinya menuturkan lebih baik memaksimalkan perawatan agar tiap inventaris dapat dipakai dalam jangka waktu semaksimalnya.
Reporter: Siska Vania/SM
Penulis: Siti Nur Halizah/SM
Editor: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
