Ilustrasi dua orang yang sedang tertawa lepas sambil melontarkan candaan sarkastik di media sosial. (Ilustrasi: Siti Nur Halizah/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Fenomena meme tidak hanya digunakan sebagai hiburan oleh para pengguna di media sosial. Tetapi juga bisa diaplikasikan sebagai bentuk ekspresi terhadap isu politik yang sedang marak terjadi.
Meme sendiri dapat diartikan sebagai penggabungan teks, gambar, dan video sebagai sarana penyampaian kritik yang dibalut humor. Karena hal tersebut, meme mudah direplikasi dan menyebar luas di media sosial.
Awal Mula dan Perkembangan Meme
Richard Dawkins pertama kali memperkenalkan istilah meme dalam bukunya yang berjudul The Selfish Gene pada tahun 1979. Kata meme diambil dari bahasa Yunani yaitu “mimeme” yang artinya tiruan.
Salah satu meme yang pertama muncul adalah Dancing Baby pada 1996 yang dibuat oleh desainer Michael Girard dengan format Graphics Interchange Format (GIF). Meme tersebut kemudian masuk dalam drama komedi Amerika Serikat Ally McBeal dan menjadi salah satu contoh awal perkembangan budaya meme di internet.
Selain itu, muncul meme Hampster Dance pada 1998 yang dibuat oleh Deidre Lacarte dari Kanada dalam format GIF. Meme pun berkembang lebih luas dengan adanya situs berbagi gambar atau imageboard seperti 4chan pada 2003 dan situs populer bernama Reddit.
Sementara di Indonesia, meme mulai menyebar sekitar tahun 2008. Pada awalnya, meme muncul dalam bentuk foto dan video yang dibuat secara tidak sengaja. Seiring berkembangnya teknologi, meme tidak hanya digunakan sebagai hiburan tetapi juga menjadi bentuk ekspresi terhadap berbagai persoalan.
Meme sebagai Kritik Politik
Lambat laun, meme mulai masuk ke ranah politik. Salah satunya adalah meme Doge, gambar seekor anjing yang populer pada 2013 dan dimanfaatkan untuk menyampaikan kritik secara satire.
Meme juga terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu meme remaja dan percintaan yang membahas perasaan. Ada juga meme sarkasme yang digunakan untuk menyindir atau menyinggung pihak tertentu. Di samping itu, terdapat meme quotes, meme kritikan, serta meme parodi yang memelesetkan suatu hasil karya dengan cara yang menghibur.
Penggunaan meme sebagai bentuk kritik terlihat pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, terutama setelah acara debat Calon Presiden (Capres) atau Calon Wakil Presiden (Cawapres). Beberapa adegan dalam debat kemudian dibuat menjadi meme sehingga memberikan warna baru sekaligus menarik perhatian.
Salah satu meme yang muncul saat itu berupa gambar dua karakter Kapten Tsubasa yang sedang menyepak bola. Karakter yang di sebelah kiri diberi tulisan ”Ganjar”, sedangkan yang yang di sebelah kanan bertuliskan ”Anies”, sementara gambar bolanya dibubuhi tulisan “Pertanyaan ke Prabowo”.
Contoh lainnya berasal dari Universitas Hasanuddin (Unhas). Meme tersebut mengkritik Rektor Unhas terkait Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Tunggal Kuliah (UKT). Dalam meme tersebut, sang rektor digambarkan sedang menutup kedua telinganya sebagai sindiran terhadap sikap yang dianggap tidak peduli.
Hal tersebut menunjukkan bahwa meme memiliki kelebihan dalam menyampaikan isu politik yang rumit menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah diterima. Namun, penyederhanaan isu dalam meme juga dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dimanfaatkan sebagai propaganda politik, sementara pengguna terkadang lebih tertarik pada humornya daripada makna dari meme itu sendiri.
Melalui meme, orang-orang bisa menikmati humor sekaligus mengekspresikan respons terhadap berbagai persoalan. Namun, tetap perlu memahami konteks dan makna meme yang disampaikan agar tidak terjadi miskomunikasi atau penyebaran informasi yang keliru.
Penulis: Siti Nur Halizah/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
