Potret mahasiswa sedang mengangkat banner Organisasi Mahasiswa (Ormawa) sebagai bentuk promosi kepada Mahasiswa Baru (Maba) pada pelaksanaan Taaruf Tahun Akademik 2026/2027 di Kampus I Universitas Islam Bandung (Unisba), Jl Tamansari No.20 Kota Bandung pada Senin, (14/9). (Foto: Siti Nur Halizah/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Sejumlah Organisasi Mahasiswa (Ormawa) mengeluhkan keterbatasan waktu pengenalan organisasi dalam Taaruf Universitas Islam Bandung (Unisba) Tahun Akademik 2026/2027. Hal tersebut dinilai dapat mengurangi efektivitas Ormawa dalam menjaring Mahasiswa Baru (Maba).
Sebelumnya, pihak kemahasiswaan telah mengundang seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Kegiatan Mahasiswa (LKM) untuk membahas sistematika Taaruf 2026 pada Jumat, (28/8). Dalam pertemuan tersebut, dibahas mengenai pengenalan Ormawa pada Taaruf yang dilakukan secara luring dan daring.
Ketua Umum Unisba Nihon Kyoukai (UNK), Dimas Tri Surya Kusuma, mengatakan dalam pertemuan pada hari Jumat tersebut pihak kemahasiswaan menjelaskan adanya perubahan mekanisme pengenalan Ormawa karena efisiensi. Sehingga, mekanisme Taaruf berubah dari luring penuh selama tiga hari menjadi hybrid dengan dua hari luring dan satu hari daring.
Lanjut, Wakil Ketua UNK, Ardra Rafif Maulana menambahkan, pada pengenalan Ormawa tahun lalu UNK memperoleh banyak anggota baru karena berkesempatan tampil di atas panggung ketika Taaruf berlangsung. “Kalau kita nggak naik panggung secara langsung tuh yaudah kita cuma sekali lewat aja bahasanya tuh jadi nggak ada first impression.” Ujarnya pada Senin, (7/9).
Di samping itu, Muhammad Rizki Saputra selaku Ketua Umum Unit Pengembangan Tilawatil Quran (UPTQ) Unisba, menilai pengenalan Ormawa melalui video profile dan stand dirasa kurang efektif. Terlebih, Rizki mengharapkan UPTQ dapat menunjukkan tilawatil quran melalui penampilan agar dapat menarik minat Maba.
“UPTQ itu kan Unit Pengembangan Tilawatil Quran, menunjukkan apa yang ada di dalam tilawatil quran itu, hasil, dan prosesnya itu sebenarnya mau ditunjukkan di penampilan itu supaya menarik mahasiswa baru dalam mengembangkan bakat atau minat mereka,” jelasnya pada Senin, (7/9).
Di sisi lain, Ketua Umum Clean and Green (CNG) Unisba, Dio Ariano Purbaya, mengaku tidak mengirimkan perwakilannya untuk menghadiri rapat bersama kemahasiswaan pada Jumat, (28/8) lalu. Namun, ia mengetahui pengenalan Ormawa akan disertakan dalam buku saku digital yang diberikan kepada Maba.
Menurut Dio, mekanisme tersebut kurang efektif karena adanya kemungkinan Maba tidak mengakses buku tersebut. Selain itu, ia juga menyoroti sempitnya waktu yang diberikan kepada Maba untuk mengunjungi stand Ormawa pada Taaruf hari pertama.
“Saya denger-denger katanya untuk mendirikan stand itu hanya diberi waktu satu jam untuk maba mengakses ke stand-stand. Dalam waktu satu jam itu saya bisa menyimpulkan kayak waktunya terlalu singkat,” kata Dio pada Senin, (7/9).
Berbeda dari UKM lain, Eka Fitriyani Widiyastuti selaku Ketua Umum Karate Unisba mengaku baru mendapat informasi oleh kemahasiswaan pada Senin, (7/9) bahwa UKM Karate mendapat kesempatan tampil pada Taaruf hari pertama. Sedangkan sebelumnya Karate hanya diminta untuk membuat video profile dan membuka stand.
Eka memandang pengenalan Ormawa tahun ini terkesan mendadak dibandingkan tahun sebelumnya. Ditambah, pihak Karate harus mempersiapkan penampilan hanya dengan rentang waktu satu minggu sebelum pelaksanaan Taaruf.
Penuturan Warek Belmawa Soal Pengenalan Ormawa
Menanggapi persoalan tersebut, Wakil Rektor (Warek) Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Asnita Frida B. R. Sebayang, mengatakan Taaruf tahun ini dilaksanakan secara luring dan daring karena adanya efisiensi anggaran. “Kita juga aware dengan kondisi sekarang, ya, terkait dengan budget itu juga harus menjadi konsideran gitu,” jelasnya saat diwawancarai pada Kamis, (10/9).
Asnita juga menjelaskan, beberapa Ormawa akan tetap dilibatkan untuk tampil pada hari pertama Taaruf. Ormawa yang akan ditampilkan yakni Bela Diri, Paduan Suara Mahasiswa Unisba (Pasuma), Studi Teater Unisba (Stuba), Unit Pecinta Seni dan Budaya Minang (UTASEBUMI), Lingkungan Seni Budaya Sunda (LSBS), dan Badan Eksekutif Mahasiswa Unisba (BEMU).
Menurutnya, tidak semua UKM harus melakukan pengenalan secara langsung dalam Taaruf. “Nanti akan kita bikin lagi acara untuk UKM khusus bukan Taaruf, nggak semua harus ditaruh, ya, kan? Nanti kan kita bisa bikin acara lain yang berbeda.” Tutur Asnita.
Meski begitu, Ardra berharap Taaruf tahun depan tidak lagi menerapkan efisiensi agar pengenalan Ormawa dapat lebih maksimal. Sementara itu, Rizki berharap pihak kemahasiswaan dapat lebih memperhatikan keberadaan Ormawa.
Reporter: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Siska Vania/SM
