Ragam Tradisi Perayaan Idulfitri

Tradisi Pukul Menyapu. (Foto/Antara)

Suaramahasiswa.info – Setelah berpuasa selama satu bulan lamanya, Hari Raya Idul Fitri tentu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu seluruh umat Islam. Tradisi yang umumnya dilakukan seperti mudik atau pulang kampung, takbir keliling pada malam hari raya, menyalakan petasan, sungkeman dan silaturahmi ke rumah saudara atau tetangga. 

Di sisi lain, ternyata ada beberapa daerah di Indonesia yang memiliki tradisi unik ketika hari raya. Berikut, tradisi perayaan Hari Raya Idul Fitri di beberapa daerah di Indonesia.

1. Festival Tumbilotohe

Tumbilo berarti mengatur dan tohe berarti lampu adalah cara Masyarakat Gorontalo untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mereka akan menyalakan lampu yang sangat beragam bentuknya. Ada lampu yang berbahan minyak tanah, ada juga yang berisi wadah cangkang kerang bekas. Perayaan ini diselenggarakan pada tiga malam terakhir sebelum Hari Raya Idul Fitri, biasanya pemasangan lampu dilakukan sejak maghrib hingga subuh tiba. 

Perayaan ini sudah berlangsung turun-temurun sejak abad ke-15. Zaman dahulu, perayaan Tumbilotohe ditujukan sebagai penerang jalan masyarakat yang ingin membayar zakat fitrah agar mudah berjalan ke masjid saat malam hari. Menyalakan lampu pada perayaan Tumbilotohe juga merupakan simbol bahwa setiap manusia menyambut Idul Fitri dengan jiwa dan hati yang bersih, serta terang benderang.

2. Ngejot

Meskipun Bali didominasi oleh masyarakatnya yang beragama Hindu, namun umat Islam di Bali juga mempunyai tadisi yang unik. Tradisi Ngejot merupakan akulturasi budaya Islam dengan budaya Bali yang bertujuan menciptakan hubungan yang harmonis antar umat beragama. Ngejot artinya memberikan sesuatu (umumnya makanan) kepada orang lain. Biasanya makanan yang dibagikan dalam bentuk siap saji, kue serta buah-buahan. Dalam tradisi ini umat Islam di Bali akan membagi-bagikan makanan bagi semua warga tanpa membedakan agama yang dianutnya. Lalu, umat Hindu yang menerima pemberian pada Hari Raya Idul Fitri lantas membalasnya pada hari raya Galungan, hari raya besar Hindu yang memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan).

3. Ronjok Sayak

Tradisi Ronjok Sayak atau Bakar Gunung Api ini biasa dilakukan masyarakat Kota Bengkulu, khususnya warga Suku Serawai dan sudah dilakukan selama ratusan tahun. Mereka percaya bahwa api merupakan penghubung antara manusia dengan leluhur. Biasanya Suku Serawai akan menyusun batok-batok kelapa di depan rumah hingga menjulang tinggi kemudian dibakar.

Tradisi ini dilakukan menjelang lebaran, yaitu pada malam ke-27 Ramadhan dan malam takbiran. Selain merupakan penghubung dengan leluhur, masyarakat Suku Serawai menganggap batok kelapa sebagai simbol ucapan rasa syukur pada Tuhan. Tradisi ini dilakukan dengan khidmat dengan berdoa kepada Tuhan, lalu dilanjutkan dengan berbagi makanan dengan warga sekitar.

4. Pukul Menyapu

Tadisi unik sekaligus ekstrim ini biasa digelar oleh masyarakat Desa Mamala dan Desa Morela, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Pukul Menyapu atau Baku Pukul Menyapu dalam Bahasa daerah Morela disebut ‘Palasa’ yang artinya saling memukul dengan sapu lidi. Tradisi yang digelar pada hari ke tujuh Hari Raya Idul Fitri ini, biasanya dilakukan oleh perwakilan pria dari masing-masing desa.

Para pemuda yang terbagi dalam dua kelompok, masing-masing terdiri dari 20 orang akan saling berhadapan. Kemudian saat terdengar ada aba-aba dari suling atau peluit, mereka akan memukul bergantian menggunakan lidi enau (aren). Lidi baru akan diganti jika rusak atau patah. Setelah acara pukul menyapu selesai, luka-luka akan diobati dengan getah pohon jarak. Ada juga yang menggunakan olesan minyak nyualaing matehu (minyak Mamala) yang mujarab untuk mengobati patah tulang dan luka memar.

Tradisi ini diciptakan oleh tokoh agama Islam di Maluku bernama Imam Tuni yang merayakan keberhasilan pembangunan masjid pada tujuh Syawal. Asal muasal tradisi ini juga dikaitkan dengan sejarah perjuangan Kapitan Telukabessy beserta pasukannya pada Perang Kapahaha melawan VOC Belanda pada 1636 hingga 1646.

Kala itu pasukan Kapitan Telukabessy kalah saat mempertahankan Benteng Kapapaha. Telukabessy yang memilih menyerahkan diri supaya pejuang yang menjadi tawanan Belanda dibebaskan, akhirnya dihukum gantung. Sepeninggal Telukabessy, tawanan Kapahaha dibebaskan pada 27 Oktober 1646. Pada momen inilah, terjadi pukul sapu secara spontan sebagai ungkapan rasa sedih. Perih di badan karena lecutan sapu menjadi perlambang kerasnya perjuangan yang disertai dengan pengorbanan jiwa raga. 

Itulah tradisi perayaan Idul Fitri yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya unik, tapi juga ada yang ekstrim dan memiliki kisah bersejarah di dalamnya. Lalu, bagaimana dengan tradisi perayaan Idulfitri di daerahmu?

Penulis: Wahyu Nursinta A.S & Mochamad Raihan Rachmansyah

Editor: Meilda Amdza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *