Ilustrasi Jar of Hearts atau Toples Kebahagiaan berisi beragam hal, seperti doa tidur, makan, keluarga, dan teman yang dibutuhkan oleh setiap manusia untuk mencapai kebahagiaan. (Ilustrasi: Violetta Kahyang Lestari Fauzi).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Kesehatan mental menjadi isu serius yang tak bisa dipandang sebelah mata, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z). Di tengah meningkatnya kasus gangguan mental dan bunuh diri di Indonesia, kesadaran serta dukungan soal kesehatan mental menjadi langkah penting guna menyelamatkan generasi muda ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi ketika seseorang mampu mengenali kemampuannya, menghadapi tekanan hidup dengan baik, dan bekerja secara produktif. Sebaliknya, gangguan kesehatan mental terjadi saat seseorang kesulitan menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kondisi di sekitarnya.
Gen Z yang lahir pada 1997-2012, menghadapi tantangan tersendiri dalam menjaga kesehatan mental. Berdasarkan survei dari IDN Research Institute, sebanyak 51% responden menyebut kesehatan mental sebagai salah satu isu utama yang paling mereka perhatikan.
Penelitian yang sama menunjukkan, kesehatan mental masih dipandang negatif sehingga menghalangi individu untuk mencari bantuan atau dukungan. Meski begitu, Gen Z cenderung lebih terbuka membicarakan isu tersebut yang turut membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.
Adapun pada 2023, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sekitar 20 persen penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional, 9,8 persen remaja sempat memiliki pikiran untuk bunuh diri, dan lebih dari 2.000 kasus bunuh diri terjadi setiap tahun. Ironisnya, hanya 8 persen dari mereka yang mendapatkan penanganan tenaga profesional.
Jika menilik kasus bunuh diri, penyebabnya sangat beragam. Dalam jurnal Mengapa Semakin Banyak Remaja Indonesia Bunuh Diri disebut bahwa ide, perbuatan dan tindakan bunuh diri muncul melalui proses interaksi dengan lingkungan, dan hal negatif berupa kemarahan atau membalas dendam dapat memicu tindakan tersebut.
Di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan serta masa transisi dari pubertas ke remaja turut memengaruhi tingkat kecemasan dan depresi seseorang. Kondisi ini menjadi lebih berat apabila seseorang mengalami kehilangan orang tua di usia remaja.
Menurut Psikolog dari Universitas Airlangga (Unair), Valina menyebutkan langkah awal untuk menyelamatkan generasi agar terhindar dari masalah mental adalah dengan look (melihat), listen (mendengar), dan link (menghubungkan). Selain itu, berkonsultasi dengan psikolog atau terapis merasa butuh juga dapat membantu seseorang mengatasi kecemasan.
Selain dukungan sosial dan bantuan profesional, pola pikir menjadi aspek penting dalam menjaga kesehatan mental. Menurut jurnal Pengaruh Pikiran Positif Terhadap Kesehatan Mental: Suatu Analisis Konseptual, individu yang memiliki pola pikir positif cenderung merasakan kepuasan hidup lebih lama, sedangkan pikiran negatif dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan menurunkan kualitas hidup.
Menjaga kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab individu, namun keluarga dan lingkungan sekitar pun berperan penting. Dengan kesadaran, dukungan, serta pola pikir positif, generasi muda diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan sehat secara mental maupun emosional.
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
