Ilustrasi tangan memegang ponsel disertai tiket wristband pada pergelangan tangan, daftar pengeluaran, tiket konser, potongan-potongan berita terkait ekonomi, dan catatan pada sticky notes. (Ilustrasi: Siti Nur Halizah/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Sepanjang awal hingga pertengahan 2026, berbagai konser musik lokal hingga internasional ramai digelar dan disambut antusias oleh masyarakat Indonesia. Kehadiran artis, seperti Padi Reborn, Deep Purple, hingga grup Korea Pop (K-Pop) membuat tiket konser habis terjual meskipun kondisi ekonomi dan daya beli melemah.
Kondisi ekonomi Indonesia sendiri diproyeksikan mengalami perlambatan pada 2026. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di angka 5 persen, sementara Bank Dunia lebih pesimis 4,7 persen akibat ketidakpastian global, kenaikan harga minyak, dan sentimen penghindaran risiko.
Selain itu, tekanan ekonomi Indonesia yang berat, karena beberapa faktor seperti isu geopolitik Timur Tengah yang membuat rantai pasokan global terganggu serta pelemahan nilai mata uang rupiah yang menyentuh Rp17.790,00 per dolar AS, sehingga membuat biaya yang dikeluarkan semakin bertambah besar.
Melansir dari Tempo.co, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) pada Maret 2026 berada di angka 107,8 menurun dibanding Februari 2026 yang mencapai 110,7. Kondisi ini menunjukkan adanya pelemahan ketersediaan lapangan kerja yang berpotensi menekan pendapatan masyarakat sehingga berdampak pada daya beli.
Sebagai contoh, harga tiket BLACKPINK dengan kategori restricted view dipatok mulai Rp1,4 juta, belum termasuk persaingan dengan praktik percaloan tiket. Hal tersebut tergolong mahal dan tak sebanding dengan rata-rata upah masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) rata-rata upah pegawai per 6 Mei 2026 di Indonesia sebesar Rp3.287.675.
Fenomena tersebut sejalan dengan penelitian Spillan dan Ramsey (2019) yang menyebut permintaan tiket konser musisi ternama bersifat inelastis. Artinya, meskipun harga tiket tinggi, minat masyarakat untuk membeli tetap stabil karena tidak hanya dianggap sebagai hiburan, tetapi sebagai gaya hidup.
Pergeseran pola konsumsi yang terjadi membuat masyarakat tidak hanya berfokus pada kebutuhan dasar tetapi digunakan juga untuk memuaskan sesuatu sebelum merasa terlambat atau dianggap penting dalam kehidupan mereka, salah satunya melalui konser musik.
Industri konser musik di Indonesia kembali bergairah setelah pandemi CoronaVirus Disease of 2019 (Covid-19) mereda. Setelah dicabutnya pembatasan aktivitas serta semakin mudahnya perizinan acara membuat konser dan festival lokal maupun internasional kembali marak digelar.
Sepanjang 2023, jumlah konser meningkat dibanding tahun sebelumnya dan disambut dengan antusias tinggi dari masyarakat, khususnya generasi muda. Euforia tersebut tidak hanya terlihat dari cepat habisnya tiket, tetapi juga dari budaya mengekspresikan diri melalui outfit saat menghadiri konser maupun festival musik.
Media sosial pun turut memperkuat antusiasme masyarakat terhadap konser musik. Unggahan video, foto, dan ulasan dari para penonton membuat konser terlihat sebagai pengalaman menyenangkan sekaligus menjadi gaya yang ingin diikuti oleh banyak orang.
Di sisi lain, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi pengaruh dalam keputusan masyarakat untuk menghadiri konser. Rasa takut kehilangan pengalaman yang dianggap langka atau tidak terulang membuat masyarakat rela mengeluarkan uang demi memperoleh pengalaman emosional, seperti membeli tiket konser dengan harga yang tidak murah.
Konser musik juga menjadi bentuk pelarian dari stres di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan kehidupan sehari-hari. Fenomena ini dikenal sebagai lipstick effect, yaitu kondisi ketika masyarakat tetap mengeluarkan uang untuk hal-hal non primer yang dianggap mampu memberikan kepuasan emosional.
Fenomena konser juga memberikan dampak positif bagi perekonomian, seperti membuka lapangan kerja sementara, meningkatkan sektor pariwisata dan bisnis lokal, serta menggerakkan ekonomi kreatif dan UMKM. Kehadiran konser internasional di Indonesia bahkan menjadi daya tarik wisata musik yang turut memperkenalkan budaya dan destinasi lokal kepada pengunjung.
Namun, di balik euforia tersebut, konser juga memunculkan dampak negatif, mulai dari perilaku konsumtif, penggunaan pinjaman online demi hiburan, hingga tekanan gaya hidup akibat pengaruh media sosial dan fenomena takut tertinggal atau FOMO.
Tingginya antusiasme masyarakat terhadap konser di tengah krisis ekonomi menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi di kalangan masyarakat saat ini. Konser tak hanya sebatas hiburan, tetapi juga menjadi ruang pelarian dari tekanan hidup sehari-hari sekaligus dari pengalaman emosional dan gaya hidup.
Penulis: Siti Nur Halizah/SM
Editor: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
