Oleh: Fadhillah Dzikri*
Lanskap luas segala imajinasi dan harap bergantung.
Menari hingga biru menyetubuhi semburat oranye.
Awan adalah saksi yang menertawakan sementara ilalang tersenyum.
Jemari mengait dan bersenggama hingga meracau.
Kupu-kupu penuhi rongga tubuh, pelangi muntahkan warna-warni hari.
Hati melantur abstrak, memakan otak.
Beratapkan langit biru mereka berbunga.
Setia menanti mentari terlelap.
Dan mengubur janji dalam nafas langit biru, yang (hanya) terkuak ajal berselimut damai.
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi angkatan 2013
