Suara Mahasiswa

Nakal, Tajam, Menggelitik

Berita

Sejumlah Fakultas di Unisba Antusias Sambut Kuliah Tatap Muka

Ilustrasi perkuliahan tatap muka. (Fahriza Wiratama/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Universitas Islam Bandung (Unisba) mulai merancang sistem perkuliahan tatap muka yang akan dilaksanakan tahun 2021. Wakil rektor I, Harits Nu’man mengatakan bahwa diterbitkannya Surat Edaran Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) nomor 6 tahun 2020 menjadi acuan sistem pembelajaran tatap muka.

“Ketentuan tatap muka ini tidak berlaku bagi perguruan tinggi. Namun dalam Surat Edaran Dirjen Dikti dimungkinkan dapat melakukan tatap muka dengan memenuhi ketentuan yang tertulis dalam Surat Edaran Dirjen Dikti nomor 6 tahun 2020 yang berisi tentang penyelenggaraan pembelajaran pada semester genap tahun akademik 2020/2021,” ujarnya melalui pesan singkat, pada Kamis (3/12).

Protokol kesehatan selama pembelajaran tatap muka yang tertulis di dalam SE Dirjen Dikti, yakni;

  • Melakukan disinfeksi sarana prasarana dan lingkungan satuan pendidikan;
  • memastikan kecukupan cairan disinfektan, sabun cuci tangan, air bersih di setiap fasilitas CTPS, dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer);
  • memastikan ketersediaan masker, dan/atau masker tembus pandang cadangan;
  • memastikan thermogun (pengukur suhu tubuh tembak) berfungsi dengan baik; dan
  • melakukan pemantauan kesehatan warga satuan pendidikan: suhu tubuh dan menanyakan adanya gejala umum seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas, sakit kepala, mual/muntah, diare, anosmia (hilangnya kemampuan indra penciuman), atau ageusia (hilangnya kemampuan indra perasa).

Menanggapi hal tersebut, sejumlah fakultas di Unisba menyambut baik dilaksanakannya kuliah tatap muka. Wakil Dekan I Fakultas Dakwah, Nandang Hmz menanggapi mengenai protokol kesehatan yang diterapkan ketika perkuliahan tatap muka berlangsung. Pihak Universitas diharapkan dapat mengatur sistem protokol kesehatan yang ketat.

“Yang harus diutamakan itu keselamatan para mahasiswa dan dosen, serta membuat pengaturan jadwal kelas. Tidak sekaligus semua fakultas dalam waktu bersamaan, tetapi harus dijadwal perhari berapa fakultas dan berapa kelas,” ujarnya melalui pesan singkat, pada Selasa (24/11).

Begitu pula Wadek I Fakultas Tarbiyah, Asep Dudi Auhardini memandang perlu adanya kajian internal oleh pihak Universitas terkait perkuliahan tatap muka. Hal tersebut bertujuan untuk mematangkan konsep jalannya akademik agar berjalan dengan aman ditengah pandemi.

“Rektor atau pimpinan perguruan tinggi disamping mengikuti arahan kementerian juga perlu melakukan kajian internal. Sehingga benar-benar memastikan proses dan kegiatan akademik aman,” katanya saat diwawancarai melalui pesan singkat, pada Senin (23/11).

Perkuliahan dalam jaringan (daring) sedikit menghambat jalannya proses kegiatan akademik, terutama dalam hal pelaksanaan praktikum. Hal tersebut diungkapkan oleh Wadek I Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Mipa), Nety Kurniaty. Maka dari itu, Ia menyambut antusias kuliah tatap muka dikarenakan proses praktikum yang kembali dilakukan secara langsung.

Disamping itu, Nety masih mengkhawatirkan pandemi Covid 19 yang masih melanda. “Tapi saya juga masih khawatir tertular, karena belum ada vaksin dan masih banyak kasus yang positif Covid 19 setiap harinya,” tuturnya melalui pesan singkat, hari Selasa (24/11).

Ada pun tanggapan dari beberapa mahasiswa terkait kuliah tatap muka, seperti tanggapan mahasiswa Fakultas Hukum, Zakwan Ramadhia Zulfa mengatakan masih meragukan pelaksanaan kuliah tatap muka, terutama menyangkut karena berpotensi adanya kerumunan.

“Saya masih sedikit ragu akan pelaksanaannya karena semuanya menyangkut kerumunan di masa pandemi. Harus ada izin melalui pemerintahan pusat, apakah menolak atau setuju, tetapi degan persyaratan yang ketat, semisal kelas diisi hanya setengah dan bergiliran,” ujarnya saat diwawancarai pada sabtu (28/11)

Lain hal dengan Zakwan, mahasiswa Fakultas Mipa, Azyyati Adzhani setuju bila kuliah tatap muka di gelar pada tahun 2021. Ia pun mengatakan bahwa kegiatan pratikum sulit dijalankan ketika pembelajaran daring.

“Setuju ya, apalagi kan ada kegiatan praktikum, tingkat kesulitan nya lebih susah saat dijalankan secara daring. Makanya, saya setuju kalo misal 2021 ada perkuliahan tatap muka,” ujarnya saat diwawancarai, pada Selasa (1/12).

Reporter: Ahmad Fadlan

Penulis: Ahmad Fadlan

Editor: Ifsani Ehsan Fachrezi

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *