Kotak saran dan kritik yang dirasa masih kurang efektif oleh Nuran dan Lidya dalam menyalurkan aspirasi dan keluhan bagi mahasiswa terpampang di salah satu fakultas pada Selasa, (15/4).
Suaramahasiswa.info, Unisba – Kotak kritik dan saran, pada dasarnya merupakan jembatan bagi mahasiswa dengan pihak kampus dalam menyalurkan masukan atau keluhan. Jika semuanya dapat berjalan dengan baik, maka kedua belah pihak akan merasakan simbiosis mutualisme; mahasiswa bisa berekspresi, pihak kampus dapat berbenah lebih baik lagi.
Mahasiswa dari tiap fakultas memiliki kebebasan dalam mengutarakan pendapatnya, namun dengan etika yang lebih baik. “Kita dapat menggunakan kotak kritik dan saran. Namun sejauh mata memandang, mahasiswa belum bisa menggunakan fasilitas tersebut secara maksimal untuk berpendapat,” ungkap Nuran Fiqolbi, Presiden Mahasiswa Unisba. Mahasiswa Teknik Tambang 2010 ini menambahkan, untuk hal ini DAMU merupakan tempat bersandarnya mahasiswa ketika ada permasalahan di kampus. Setelah lembaga tersebut menampung keluhan dan masukan dari warga kampus biru, selanjutnya BEMU menindaklanjuti hal tersebut.
Senada dengan Nuran, Lidya Hapsari selaku mahasiswa Psikologi 2011 berujar bahwa ia setuju dengan kotak kritik dan saran namun tidak merasakan keefektifannya. “Kotak saran kayaknya jarang sekali diisi oleh mahasiswa. Lagipula perubahan tidak terlalu dirasakan,” ujarnya saat ditemui Selasa (15/04).
Di sisi lain, Santi Indra Astuti selaku Wakil Dekan I kurang menyetujui atas pengadaan kotak kritik dan saran. Ia berpendapat khususnya bagi mahasiswa Fikom, saran dan kritik akan lebih baik bila disampaikan secara langsung. (Bobby Agung Prasetyo, Teti Diana Ayu/SM)
