Suasana gerbang Universitas Islam Bandung (Unisba) saat ini dengan seorang Tenaga Pendidik (Tendik) menyapu di sekitar gerbang tepatnya di Jl. Tamansari No. 1, Kota Bandung, pada Rabu, (3/9). (Foto: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Aparat Brimob Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Kodam III Siliwangi melakukan penyergapan di area Kampus I Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas) yang berada di Jalan Tamansari pada Senin, (1/9). Berdasarkan keterangan CCTV, penyergapan tersebut terjadi berkisar pukul 23.25 hingga 23.35 WIB.
Madi, salah satu warga di sekitar Gedung Fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unisba menjelaskan jika sebelumnya ia melihat rombongan aparat yang melintas sekitar pukul sepuluh malam. Rombongan tersebut melewati jalan yang sebelumnya telah diblokade oleh massa untuk mengamankan jalur evakuasi.
Ia menambahkan, aparat datang dengan tiga mobil polisi, dua kendaraan tentara, serta satu mobil taktis seperti tank dan panser Anoa. Madi sendiri mengaku tidak melihat secara langsung adanya gesekan antara aparat dan pihak demonstran.
Namun, ia mendengar sebanyak empat kali tembakan gas air mata. “Tembakan yang setahu saya tahu, tuh tembakan gas air mata ada tiga kali empat kali, di sekitar jam sepuluh-an, kalau yang selanjutnya mah, saya udah tidur,” tuturnya saat diwawancarai pada Selasa, (2/9).
Di sisi lain, salah satu mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas), James (Bukan nama sebenarnya) mengaku jika ia melihat iring-iringan motor polisi di arah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Wastukencana pada sekitar pukul dua belas malam. Saat itu, Ia bersama empat orang lainnya secara kebetulan sedang berada di pertigaan Jalan Tamansari-Wastukencana.
“Nah, setelah itu saya lari ke atas, balik lagi ke kampus sambil memberitahu rekan-rekan mahasiswa atau demonstran yang ada di luar segera masuk. Nggak lama polisi mulai belok dari arah Jalan Wastukencana ke Tamansari,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, (2/9).
Ia menambahkan, sekitar lima puluh motor polisi menghampiri Unpas saat itu. Tindakan represif yang dilakukan berupa pelemparan gas air mata kepada massa yang berada di lingkungan kampus. “Memang ada beberapa demonstran juga yang melempari polisi dengan molotov. Mungkin sebagai Self-defense karena polisi juga sebelumnya sudah menembakkan gas air mata ke kampus,” jelasnya.
Sementara di daerah Unisba, Kamal Rahmatullah, selaku Presiden Mahasiswa (Presma) Unisba dan saksi saat kejadian menjelaskan jika awalnya ia berada di depan Gerbang Kampus I Unisba bersama massa yang sebelumnya mengikuti aksi. Kemudian sekitar pukul 23.30, gerombolan aparat datang dari arah Balubur Town Square (Baltos) menuju Kampus I Unisba.
“Lalu tiba-tiba ada gerombolan polisi, TNI, beserta mobil dan motornya menyerang. Lewatlah sekelompok itu, tiba-tiba menembakkan gas air mata, ada beberapa korban karena kan, kondisi di depan gerbang banyak orang dan ditembaki gas air mata otomatis juga ada beberapa korban yang sesak napas juga dari satpam ada beberapa korban,” katanya pada Senin, (1/9).
Kamal menyebut sekitar dua puluh orang mengalami sesak napas saat serangan pertama di area Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) serta sepuluh orang lainnya saat penembakan gas air mata di kampus utama. Dari jumlah tersebut, tiga orang mendapat penanganan medis, sementara sisanya terdampak gas air mata.
Seorang satpam Unisba, Mulyana sedang melakukan evakuasi mahasiswa ketika sekelompok aparat tiba-tiba datang dan langsung melepaskan tembakan gas air mata. Ia pun turut mendapatkan hantaman peluru gas air mata di bagian dada yang menyebabkan sesak.
Mulyana menambahkan, aksi penyerangan tersebut berlangsung cepat dengan perkiraan sekitar lima belas menit. “Kalau di gerbang mah cuma lima menit, cuma lewat sambil nembak, lewat sambil nembak,” tuturnya saat diwawancarai pada, Selasa (2/9).
Ia melanjutkan, mulanya terlihat personil aparat yang tidak berkendara mulai menembakkan gas air mata. Ia menganggap tembakan tersebut dilayangkan sebagai peringatan pertama.
“Tapi ada satu mobil yang diam. Bapak kan, udah liat dari atas (Arah Dekanat Unisba-Red) juga nembak satu kali, udah nembak, yang nembak tuh jalan. Yang nembak kesini (Gedung Kampus 1 Unisba-Red) tuh, yang pake mobil, jadi diem dulu di depan,” jelasnya.
Mobil tersebut sempat dilempari molotov oleh massa yang melawan tembakan gas air mata. Selain itu, ia juga menegaskan tidak ada korban jiwa di dalam kampus, hanya beberapa orang yang terdampak akibat gas air mata.
“Pas kejadian itu, bapak (Mulyana-Red) lagi evakuasi mahasiswa. Terus aparat itu nembak, langsung terkena badan bapak, ke dada, Udah itu nggak tau lagi gimana karena bangun-bangun udah ada di aula, udah sama medis kejadiannya,” ungkapnya.
Reporter: Linda Puji Yanti & Nabil Fadilah Budiman/SM
Penulis: Siska Vania/SM
Editor: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
