Momen Rektor Unisba, A. Harits Nu'man beserta jajarannya saat menyelenggarakan konferensi pers di Gedung Rektorat Unisba, Jalan Tamansari No. 20, Kota Bandung terkait aksi penembakan gas air mata yang dilakukan aparat ke dalam kampus Unisba. (Foto: Linda Puji Yanti/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas) menjadi sasaran penembakan gas air mata oleh aparat kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pukul 23.30 Waktu Indonesia Barat (WIB) pada Senin, (1/9). Insiden tersebut berlangsung setelah Badan Eksekutif Mahasiswa Unisba (BEMU) menggelar aksi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat (Jabar).
Rektor Unisba, A. Harits Nu’man dalam konferensi pers di Gedung Rektorat Unisba pada Selasa, (2/9) mengatakan bahwa Unisba telah membuka Pos Komando (Posko) medis sejak pukul 17.00 WIB, tidak lama setelah aksi berakhir. Menurutnya, korban massa aksi mulai berdatangan pukul 17.20 WIB dan setelah posko medis ditutup sekitar pukul 21.30 WIB mulai masuk gerombolan massa aksi dari Gedung DPRD ke Jalan Trunojoyo.
“Katanya di Jalan Trunojoyo, Sulanjana. Di Taman Radio juga ada gerombolan dan memblokir jalan lalu berlanjut ke Purnawarman, simpang Hariangbanga atau Ranggagading. Di depan Gedung LPPM sampai Tamansari atas di ujung memblokir jalan di Tamansari, plus di Tamansari bawahnya di depan Gedung Unpas.” Tutur Harits.
Selanjutnya, Harits menyebut gerombolan massa yang memblokade jalan menjadi alasan aparat kepolisian melakukan sweeping. Dirinya menganggap area di sekitar Unisba bukan merupakan area kampus melainkan area publik.
“Namanya juga Jalan Tamansari bukan Jalan Unisba, Jalan Hariangbanga bukan jalan Unisba, ya, juga jalan Ranggagading dan Ranggamalela itu bukan jalan Unisba.” Ujarnya.
Di sisi lain, Harits mempertanyakan motif gerombolan massa yang masih berada di area Tamansari hingga larut malam. Ia menyampaikan, kerusuhan kemungkinan melibatkan sebagian mahasiswa Unisba mengingat tim medis baru selesai menangani korban sekitar pukul 21.00 WIB.
Selain itu, Harits pun menegaskan tidak ada aparat kepolisian ataupun preman yang masuk ke area kampus berdasarkan pantauan Closed-Circuit Television (CCTV). Ia menambahkan, korban hanya tercatat pada aksi di DPRD Jabar pada Jumat, (29/8) dan Sabtu, (1/9).
“Kalau penembakan terjadi di dalam kampus berarti ada aparat yang masuk kan, tadi sebelumnya sudah dijawab, sepanjang penglihatan saya lewat CCTV dan yang di lapangan tidak ada aparat yang masuk ke kampus.” Ucap Harits.
Sementara itu, Keluarga Besar Mahasiswa Unisba (KBMU) dalam sesi tanya jawab konferensi pers pada Selasa, (2/9) mengatakan bahwa ada sekitar 10 hingga 20 mahasiswa yang menjadi korban penembakan gas air mata di dalam kampus. Dalam pers rilisnya, KBMU menyatakan mahasiswa yang menjadi korban mengalami tembakan di bagian dada, sesak nafas, dan luka-luka.
Lebih lanjut, KBMU menilai aparat telah melanggar otonomi kampus, hak asasi manusia, dan melakukan tindakan melawan hukum. Dalam pernyataan sikapnya, KBMU menegaskan penolakan terhadap tindak kekerasan aparat terhadap mahasiswa di Unisba.
“Dari BEMU sendiri mengutuk tindakan keras dan represifitas yang dilakukan oleh aparat, dan dari KBMU akan mengkonsolidasikan ulang juga mengevaluasi hasil aksi kemarin dan akan mengonsepkan serta menyusun ulang ke depan akan mengawal seperti apa.” Ujar Kamal Rahmatullah, Presiden Mahasiswa (Presma) Unisba dalam konferensi pers.
Respon Rektor Unisba Atas Protes Mahasiswa
Menanggapi konferensi pers yang dilaksanakan oleh Rektor Unisba, Mahasiswa Unisba melayangkan aksi protes di depan Gedung Rektorat Unisba pukul 14.00 WIB pada Selasa, (2/9). Aksi protes tersebut dipicu oleh pernyataan rektor dalam konferensi pers yang dinilai nir empati.
Dalam aksi protes tersebut, Harits mengklarifikasi pernyataan sebelumnya yang menyebut tidak ada korban akibat penembakan gas air mata. Ia ungkap, dirinya meninggalkan area kampus pada pukul 21.00 WIB tepat ketika posko ditutup sehingga belum menerima laporan adanya korban baru.
Selain itu, Harits menjelaskan posko ditutup lebih awal karena sudah tidak ada lagi korban yang masuk. Namun, mahasiswa menyebut masih ada sekitar dua orang yang mengalami luka-luka ketika posko ditutup.
Terakhir, Harits menegaskan penembakan gas air mata dilarang di lingkungan kampus dan mengutuk tindakan represif aparat di area kampus Unisba. Dirinya pun menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya serta berterimakasih kepada mahasiswa yang telah menyuarakan aspirasi masyarakat.
Reporter: Dandi Pangestu Rusyanadi & Linda Puji Yanti/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
