Potret massa aksi Keluarga Besar Mahasiswa Unisba (KBMU) di depan Balai Kota Bandung, Jl. Wastukencana No.2, Kota Bandung pada Jumat, (1/8). (Foto: Linda Puji Yanti/SM).
Suaramahasiswa.info,- Keluarga Besar Mahasiswa Unisba (KBMU) menggelar aksi bertajuk “Semrawutnya Kota Bandung: Mau Dibawa Kemana Kota Kembang Ini?” di Balai Kota Bandung Jl. Wastukencana No.2, Kota Bandung pada Jumat, (1/8). Aksi ini diinisiasi sebagai bentuk kekecewaan terhadap Wali Kota yang dinilai abai menangani berbagai persoalan kota.
Koordinator Lapangan (Korlap), Kamal Rahmatullah mengatakan bahwa diskusi dan konsolidasi telah dilakukan sebelum akhirnya melaksanakan aksi. “Kita juga sudah melaksanakan diskusi dua kali juga melakukan konsolidasi hingga akhirnya mekanisme organisasi yang tentunya sudah kita lakukan.” Ujar Kamal pada Jumat, (1/8).
Selanjutnya, rangkaian aksi diawali dengan massa berkumpul di Unisba dan mulai bergerak ke Balai Kota Bandung dengan berorasi dan menutup jalan. Aksi dilanjutkan dengan pembacaan pers rilis berisi tuntutan kepada Pemkot Bandung agar segera mendengarkan dan menyelesaikan berbagai persoalan tersebut.
Berdasarkan pers rilis, permasalahan yang diangkat antara lain pengelolaan sampah yang amburadul, banjir musiman yang semakin parah, kemacetan lalu lintas, serta ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin mencolok. Selain itu, ketimpangan akses pendidikan, ekonomi dan layanan publik antara masyarakat pusat kota dan pinggiran, ditambah proyek infrastruktur yang mangkrak menjadi bukti masih lemahnya koordinasi lintas sektor dan minimnya transparansi anggaran.
Sementara itu, semua permasalahan kian diperparah oleh bobroknya birokrasi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang ditandai dengan mencuatnya berbagai kasus korupsi dan skandal pejabat publik. Hal itu bertentangan dengan peraturan yang telah ditentukan.
Peraturan tersebut, antara lain Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Lalu, Pasal 3 UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Di samping itu, kendala aksi terletak pada minimnya partisipasi karena massa hanya berasal dari KBMU, mengingat kampus sedang menjalani libur semester. Meski begitu, Kamal menyampaikan bahwa mereka telah berkomunikasi dengan berbagai organisasi internal Unisba untuk sama-sama menyuarakan aspirasi dan ikut turun aksi.
Salah satu mahasiswa Fakultas Syariah, Fitri menyambut baik pelaksanaan aksi meski partisipasinya masih minim. “Bandung itu semrawut ya, tidak bisa dikelola dengan baik oleh wali kota, wakil walikotanya pun begitu, dan sejauh ini belum ada gitu yang diciptakan dari mereka untuk Kota Bandung sendiri.” Ucapnya saat diwawancarai pada Jumat, (1/8).
Fitri juga menyampaikan bahwa sebelumnya KBMU telah mengirimkan surat audiensi untuk berdiskusi dengan Pemkot Bandung yang sayangnya tidak mendapat respon apapun. Menurutnya, hal itu dapat dianggap sebagai bentuk pelecehan karena seharusnya permasalahan dapat diselesaikan bersama melalui obrolan.
Ia berharap, Kota Bandung tidak lagi semrawut dengan pengelolaan sampah dan pasar yang lebih tertata. Ia juga menegaskan bahwa sebagai warga, dirinya memiliki kepercayaan terhadap upaya perbaikan yang bisa dilakukan.
Tidak hanya itu, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Angga Pramana mengatakan bahwa persoalan Kota Bandung yang tak kunjung usai serta mekanisme KBMU yang diabaikan Pemkot menjadi alasan mereka turun ke jalan. Angga menilai, aksi perlu dilakukan karena berbagai permasalahan tersebut kian mengganggu dan meresahkan kehidupan sehari-harinya.
Angga juga berharap agar Pemkot sadar, tanggap dan segera menuntaskan permasalahan-permasalahan di Kota Bandung. “Seminimal mungkin dari Pemkot Bandung merespon dan mengetahui permasalahan yang ada, dan segera menuntaskan itu agar Kota Bandung-kota kembang dan juga keestetikaan Kota Bandung itu tidak tercoreng,” ujarnya.
Senada dengan Angga, Kamal berharap permasalahan di Kota Bandung dapat segera ditangani dan diselesaikan dengan baik. Kamal menegaskan, penanganan yang lambat hanya akan memperburuk kondisi kota.
“Saya harap pemerintah Kota Bandung tidak buta dan tuli untuk akhirnya berpihak dan mendengar permasalahan di Kota Bandung. Bukan hanya menjalankan kegiatan-kegiatan yang sifatnya ceremonial, tapi fokusnya terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di Kota Bandung gitu.” Pungkasnya.
Reporter: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
