Ilustrasi tangan memegang gawai dengan layar yang menunjukkan isi percakapan dengan Chatbot AI. (Ilustrasi: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM).
Aku mau curhat.. gimana ya, cara bagi waktu kuliah sama organisasi? Bingung, deh..
Wajar banget kamu ngerasa bingung, apalagi kalau akademik dan organisasi sama-sama butuh banyak perhatian. Tapi ini bisa diatur kok. Nih, beberapa cara yang bisa kamu coba buat bagi waktu.
Suaramahasiswa.info, Unisba- Biasanya, mencurahkan isi hati kerap menjadi salah satu solusi di saat hati sedang gundah gulana, meskipun tak jarang terbesit perasaan takut dihakimi atas perasaan sendiri. Jika dulu orang lebih memilih curhat kepada teman atau keluarga kini pola curhat mengalami pergeseran pada chatbot Artificial Intelligence (AI) yang mengikuti perkembangan teknologi.
Hadirnya chatbot berbasis kecerdasan buatan seakan memberi ruang aman bagi banyak individu untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan tanpa perlu mengungkap identitas diri. Faktor anonimitas dan aksesibilitas menjadikan chatbot sebagai ruang aman yang mudah dijangkau tanpa tekanan sosial atau takut akan penilaian.
Di kalangan mahasiswa, chatbot berbasis AI menjadi tempat pelarian untuk berbagi masalah di tengah tekanan akademik yang lebih tinggi seperti menunda-nunda pekerjaan hingga proses penyelesaian tugas akhir. Berbagai tuntutan supaya selalu berhasil seolah meniadakan ruang untuk gagal, hingga memicu kecemasan dan stres yang mendalam.
Kesiapsediaan selama 24 jam menjadi keunggulan utama chatbot AI, terutama ketika dukungan dari konselor atau teman tidak selalu tersedia. Di saat konselor terikat jam kerja dan teman belum tentu siap mendengar, AI hadir sebagai pendengar yang selalu siap setiap dibutuhkan.
Selain itu, banyak mahasiswa enggan berbagi masalah karena takut dianggap berlebihan oleh orang lain. Berkeluh kesah dengan chatbot AI memberi mereka ruang untuk bercerita secara terbuka tanpa khawatir akan penilaian atau penghakiman, sehingga menciptakan rasa aman yang sulit ditemukan dalam interaksi sosial.
Berdasarkan penelitian dari Singapore Management University, mencurahkan isi hati kepada chatbot AI secara efektif dapat meredakan emosi negatif seperti marah dan takut. Lebih dari itu, interaksi ini juga membantu seseorang merasa lebih diakui sekaligus mendorong mereka untuk mengekspresikan emosinya dengan lebih terbuka.
Dampak lain dari penggunaan chatbot AI saat munculnya ketergantungan emosional, yakni seseorang merasa tak lagi membutuhkan hubungan nyata dengan sesama manusia. Padahal, dukungan emosional yang paling efektif justru berasal dari interaksi interpersonal yang tulen, baik itu dari keluarga, teman, maupun tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater.
Menimpali hal tersebut, dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prilya Shanty Andrianie singkap kehadiran AI tak bisa dipungkiri di tengah kemajuan teknologi. Meski fenomena ini dianggap sah, perlu diingat bahwa AI tetaplah mesin yang memberi sanggahan berdasarkan pola, bukan pertimbangan pribadi seperti yang dilakukan psikolog dalam memberikan solusi terpadu sesuai kondisi individu.
Di sisi lain, dosen Psikologi Universitas Islam Riau (UIR), Icha Herawati menilai fenomena ini bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif karena AI mampu memberikan tanggapan dan masukan yang terasa masuk akal. Namun perlu digarisbawahi, hal ini berpotensi membuat seseorang merasa tidak lagi memerlukan keberadaan manusia lain dalam hidupnya.
Dengan segala manfaat yang ditawarkan, chatbot AI memang dapat menjadi teman bicara yang membantu di saat-saat genting. Namun, penting untuk tetap menyeimbangkannya dengan hubungan sosial yang nyata agar kebutuhan emosional tidak hanya bergantung pada teknologi.
Penulis: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
Editor: Adelia Nanda Maulana/SM
