Potret seorang mahasiswa yang sedang membayar biaya pakir kepada petugas di pos penjaga parkiran Universitas Islam Bandung (Unisba) pada Sabtu, (27/12) (Foto: Adelia Nanda Maulana/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Persoalan sarana dan prasarana parkir kendaraan bermotor di Universitas Islam Bandung (Unisba) masih menimbulkan beragam keluhan dari sejumlah mahasiswa. Tidak hanya mengenai keterbatasan lahan parkir, tetapi juga sistem keamanan hingga karcis parkir konvensional.
Mulyadi selaku Koordinator Parkir Unisba mengungkapkan, setiap kendaraan yang masuk dan keluar area parkir dicatat secara manual, termasuk nomor kendaraan dan waktu parkir. “Nomornya kita catat, takutnya kalau ada kehilangan pada saat jam kerja ya kita ganti juga, terkecuali helm. Kalau helm sudah dikasih tau, saya tidak bertanggung jawab, keamanan helm dititipkan,” ucap Mulyadi saat diwawancarai pada Senin, (22/12).
Ia melanjutkan, pihaknya hanya bertanggung jawab terhadap kehilangan motor selama jam kerja yang berada di area parkir gedung Unisba. Jika telah terbukti jika motor tersebut hilang dibawah pengawasan UPT Parkir Unisba, maka korban akan mendapatkan kompensasi sebesar 50% dari harga motor.
Adapun terkait peranti parkir, Mulyadi menuturkan bila peranti sudah dapat diperbaiki, namun untuk penggunaannya masih dipertimbangkan. Menurutnya, penerapan peranti parkir berisiko menimbulkan antrian dan keributan, serta membutuhkan biaya perawatan yang cukup besar.
Selain itu, Mulyadi juga menyayangkan banyaknya mahasiswa maupun karyawan Unisba yang enggan untuk membayar tarif parkir. Ia menegaskan, bahwa pengelolaan parkir dan gaji petugas tidak dibiayai oleh Yayasan, melainkan berasal dari kontribusi pengguna parkir.
Lebih lanjut, Mulyadi menegaskan bahwa parkir Unisba tidak akan diberlakukan selama 24 jam mengingat aktivitas kampus memiliki batas waktu operasional. “Dimana aturan mahasiswa bisa tinggal di kampus selama 24 jam, setahu saya tidak lebih sampai jam 8 malam,” ujarnya.
Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi, Alfathir Kintara Karismansyah, mengaku sempat mengalami kehilangan sepeda motor yang diparkir di luar gerbang kampus saat malam hari. “Mungkin kita minta perluasan lahan parkir enggak mungkin karena enggak ada lahan, tapi di malam mungkin minta lebih, kan di dalam lapangan voli kosong dan sepi juga, enggak masalah, lah mungkin kita parkir disana gitu,” ujarnya pada Jumat, (19/12).
Di sisi lain, Dian selaku mahasiswa Fakultas Psikologi menuturkan jika hampir setiap hari menggunakan fasilitas parkir kampus, khususnya di area Dekanat. “Kalau menurut aku di Parkir Dekanat lebih enak soalnya enggak kehujanan, dan tempatnya juga enggak begitu sempit,” katanya saat diwawancarai pada Jumat, (19/12).
Dian mempertanyakan tujuan adanya pembayaran terkait penggunaan lahan parkir. Menurutnya, ada baiknya penggunaan lahan parkir cukup dengan hanya menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) mengingat tidak ada peningkatan dari sarana dan prasarana parkiran.
Senada, Fathur Abdurrahman mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menyebut kondisi keamanan parkir di Unisba relatif aman. Namun, ia mengaku keberatan dengan tarif parkir. “Setelah tahu Unpas (Universitas Pasundan-Red) enggak bayar, ya merasa keberatan. Jadi kampus sebelah juga sama-sama swasta tapi enggak bayar,” ungkapnya pada Jumat, (19/12).
Fathur berharap, pihak kampus dapat menerapkan kebijakan parkir gratis bagi mahasiswa. Begitu pula Dian, berharap akan penerapan parkir gratis disertai peningkatan peran petugas parkir yang lebih aktif dalam menjaga keamanan dan membantu pengaturan kendaraan.
Sementara itu, Mulyadi berharap mahasiswa dapat mematuhi aturan parkir yang berlaku serta memanfaatkan penyediaan area parkir resmi demi meminimalkan risiko kehilangan. “Kerja sama antara penyimpan kendaraan yang tertib, jangan asal nyimpen, tukang parkir kan harus merapikan. Makanya saya kasihan ke tukang parkir, orang terburu-buru asal nyimpen padahal udah diatur alurnya,” pungkasnya.
Reporter: Bisma Rizky Sontani/Job
Penulis: Raisa Aleyda Nurunnisa/Job
Editor: Siska Vania/SM
