Potret massa aksi memegang banner dan bendera pada aksi bertajuk "Bandung Tetap Marah" yang diselenggarakan di depan Gedung Sate, Jl. Diponegoro No.22, Kota Bandung pada Jumat, (26/12) (Foto: Wiam Fadlul Rahman/SM)
Suaramahasiswa.info, Unisba- Teater Aruslaras menggelar aksi bertajuk “Bandung Tetap Marah” yang bertempat di Gedung Sate, Jl. Diponegoro No.22, Kota Bandung pada Jumat, (26/12). Aksi ini diikuti oleh Amateerun, Front Mahasiswa Nasional (FMN) Bandung, Pembebasan Kolektif Kota Bandung, Inqueery, Flowerbomb dan beberapa elemen masyarakat.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, May menyebut aksi kali ini sebagai momentum solidaritas untuk tahanan politik yang sampai saat ini belum dibebaskan. Adapun rangkaian dimulai dengan membentuk mimbar bebas yang terdiri dari orasi pembukaan, orasi puisi, teatrikal oleh Aruslaras, dan ditutup dengan doa bersama.
Lebih lanjut, May menuturkan beberapa poin yang menjadi kemarahan saat ini diantaranya meliputi masifnya kekerasan seksual terhadap perempuan dan femisida. “Kondisi perempuan yang belakangan ini masif kekerasan seksual, femisida. Kemudian, kedua itu tadi terkait tahanan politik, apa yang sudah dilakukan negara belakangan ini terhadap aktivis massa,” ujar May saat diwawancarai pada Jumat, (26/12).
Salah satu massa aksi dari Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Affan menyebut alasannya mengikuti aksi karena ingin membela rakyat dari penindasan yang dirasakan oleh rakyat Indonesia. Selain itu, ia menganggap aksi ini sebagai sesuatu yang baru dari aksi sebelumnya, sebab dibarengi dengan penampilan puisi dan teater.
“Perjuangan rakyat juga perjuangan perempuan, perjuangan perempuan juga perjuangan rakyat, jadi pembebasan rakyat juga pembebasan perempuan. Oleh karena itu dengan tema utama perempuan disini tentunya saya harus ikut, UKSK, FMN, Great (Gender Research Student Center-Red) UPI, dan juga Teater Aruslaras sama-sama menyuarakan,” tuturnya saat diwawancarai pada Jumat, (26/12).
Massa aksi lain dari UKSK UPI, Laras mengaku tertarik ikut aksi ini karena judulnya yang membahas soal perempuan. Ia berpendapat aksi kali ini berjalan dengan baik karena tidak menggunakan kekerasan melainkan benar-benar menyuarakan apa yang mereka rasakan selama ini.
Laras berharap pemerintah dan negara lebih terbuka soal perempuan dan pembunuh perempuan mendapat ganjaran yang setimpal. “Aku juga pengennya, sih Indonesia jadi lebih terbuka jadi lebih ngerti untuk menghukum orang-orang yang melakukan kekerasan kejahatan atau hal-hal negatif kepada kita warga Indonesia,” ujarnya saat diwawancarai pada Jumat, (26/12).
Affan sendiri mengharapkan aksi seperti ini terus berjalan dan tidak redup walaupun Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bisa jadi akan berlaku di tahun 2026. Sementara May, berharap rakyat Indonesia terus bangkit melawan meskipun ditengah kekejaman fasisme rezim.
“Kemarin pasca Agustus ini kawan-kawan kita mengalami demoralisasi yang cukup besar, semakin sedikit yang turun (Aksi-Red) dan harapan saya jangan sampai itu berlangsung lama tapi marilah bergabung kembali bersama kita gitu,” harapnya
Reporter: Wiam Fadlul Rahman/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Adelia Nanda Maulana/SM
