Potret kondisi Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pascalongsor pada Selasa, (27/1). (Foto: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM)
Suaramahasiswa.info, Unisba- Hujan deras yang mengguyur kawasan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat selama beberapa hari terakhir memicu bencana tanah longsor pada Sabtu, (24/1). Peristiwa tersebut menimbun puluhan rumah warga dan menyebabkan sejumlah warga menjadi korban.
Berdasarkan keterangan Tim Search and Rescue (SAR) gabungan dalam konferensi pers di hari keempat pada Selasa, (27/1), jumlah korban terdampak masih bertambah seiring masuknya laporan terbaru dari Incident Command (IC). Data pada hari keempat mencatat sekitar 155 jiwa yang terdampak, dengan 35 orang yang baru saja dinyatakan selamat dan 33 orang masih dalam proses pencarian.
Kesaksian Kronologi Korban Terkait Bencana Tanah Longsor
Sejumlah tanda awal longsor mulai dirasakan warga sejak dini hari. Salah satu warga terdampak, Widi Sri ungkap mulai mendengar suara gemuruh sejak sekitar pukul 01.00 WIB sebelum guncangan hebat terjadi menjelang pukul 03.00 WIB.
Ia menuturkan permukiman di bawah lereng tersebut sudah tertutup sepenuhnya oleh material longsor sekitar pukul 04.00 WIB. “Waktu itu kaya banyak orang yang berteriak, terus ke rumah ibu pada ngagedor katanya ada longsor di gunung terus terbelah, pas keluar rumah orang-orang yang diatas lagi pada turun ke bawah, ternyata yang di bawah, mah udah tertutup udah rata, “ ucap Widi saat diwawancarai pada Selasa, (27/1).
Widi menambahkan, longsor tersebut merupakan peristiwa terparah yang pernah dialami warga selama puluhan tahun. Sekitar empat belas rumah di bawah lereng tertimbun total dan sebagian penghuninya tidak sempat menyelamatkan diri karena peristiwa terjadi saat mereka masih tertidur.
Sayangnya, warga tidak menerima peringatan khusus terkait potensi longsor melainkan hanya peringatan adanya resiko bencana akibat sesar lembang. “Waktu itu peringatannya seluruh warga harus mengumpulkan baju sama identitas, simpan di depan pintu. Nanti katanya kalo udah ada sesar lembang kan, nah padahal ini yang dideteksi sesar lembang enggak ada, jadi sesar lembang sama longsor beda kan, “ ungkap Widi.
Kesaksian warga lain datang dari Maman Bram, dirinya mendengar suara gemuruh pada pukul 02.00 WIB saat material longsor meluncur deras. “Nah, langsung goyang rumah, semua langsung lari keluar ternyata ada paes gede (Batu besar-Red) berwarna hitam gitu seperti diseret gunung, “ ujar Maman saat diwawancarai pada Selasa, (27/1) .
Meski rumahnya tidak tertimbun, Maman menyebut trauma pascalongsor masih dirasakan hingga dua hari setelah kejadian hingga tidak bisa tidur dengan tenang. Ia pun masih bersyukur seluruh anggota keluarganya masih diberi keselamatan.
Kedepannya, Maman berharap pemerintah menyediakan dukungan modal agar kehidupan keluarga dan warga terdampak dapat segera pulih.“Bapak harus berjalan, berjalan lancar usaha bapak jangan sampai hilang. Dari pertanian berjalan biasa gitu, modal harus ada buat makan sehari-hari, “ tutur Maman.
Kondisi Terkini Pencarian Korban
Berdasarkan hasil konferensi pers, Tim SAR gabungan melakukan peninjauan ulang dengan pemetaan udara menggunakan drone. Hasil pemetaan menjadi dasar pembagian wilayah pencarian ke dalam sektor Alpha yang berada di bawah lereng, Bravo di tengah, dan Charlie di bagian atas.
Selain itu, Tim SAR gabungan menemukan delapan bodypack tambahan pada hari keempat di wilayah walkside A1, A2, dan B2. Dengan tambahan tersebut, total yang berhasil dievakuasi sejak hari pertama mencapai 47 bodypack.
Seluruh bodypack tersebut telah diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi. “Kemudian ada informasi dari Tim DVI yang merilis laporan dari hasil yang kami serahkan di jam 19.30 WIB semalam itu ada 27 bodypack. Dari 27 bodypack itu ada di pos Basarnas artinya jumlah korban ada di posko Basarnas yang telah disampaikan oleh Tim DVI, “ menyampaikan Tim DVI saat konferensi pers.
Tak hanya itu, Tim SAR gabungan menyebut cuaca yang memburuk menjadi hambatan dalam pencarian korban, namun pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berupaya memodifikasi cuaca. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat proses pencarian dan tim mencatat adanya progres temuan korban meski hujan masih turun.
Posko Evakuasi dan Bantuan Korban Bencana
Koordinator Pos Komando (Posko) Bencana Pasirlangu, M. Azizi Rois menyampaikan, posko bencana di Desa tersebut dirancang dengan sistem satu pintu. Posko tersebut terhubung dengan berbagai pihak, mulai dari BPBD kabupaten dan provinsi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), hingga kementerian terkait.
Di samping itu, posko terhubung dengan relawan yang tergabung dalam Pos Gabungan Relawan (POSGAN) untuk mendukung program evakuasi korban, dapur umum, trauma healing, dan donasi. Semua kegiatan dikendalikan dari posko utama agar komunikasi dan koordinasi berjalan sesuai tugas masing-masing.
Azizi menambahkan, posko terdiri dari beberapa unit, yakni selain posko utama terdapat posko kesehatan, posko logistik, posko keamanan, dapur umum, posko trauma healing, posko Tim SAR, hingga posko pengurusan jenazah. Sementara itu, posko logistik menerima semua bantuan masuk lalu mendistribusikannya ke pengungsi maupun rumah warga terdampak serta pengeluarannya dilaporkan langsung ke pemerintah daerah maupun pusat.
“Kebutuhan yang paling dibutuhkan sudah pasti paket sembako. Paket sembako lebih efisien dan efektif itu yang paling dibutuhkan hari ini. Satu lagi untuk anak-anak trauma healing memang harus ada juga dikasih mainan gitu. Nah, itu kan jarang sekali yah yang ngasih donasi berupa mainan anak-anak, kalau ada yang mau kasih donasi kasih, lah, “ jelas Azizi.
Lebih lanjut, Azizi ungkap bahwa beberapa kebutuhan untuk pengurusan jenazah seperti kain kafan telah disiapkan oleh BNPB dengan jumlah awal yang cukup untuk mendukung proses evakuasi. Ia pun menjelaskan, jika korban atau kebutuhan meningkat, suplai tambahan akan segera disediakan.
Terakhir, Azizi berharap korban yang segera ditemukan dan pengungsi pulih secara fisik maupun psikis. “Semoga yang dinyatakan hilang dari korban bencana longsor dan banjir bandang ini segera ditemukan. Kita berdoa juga agar para relawan yang mencari diberi kesehatan kemudian korban yang mengungsi juga segera dipulihkan, “ harapnya.
Reporter: Violetta Kahyang Lestari Fauzi, Dandi Pangestu Rusyanadi, & Muhammad Chaidar Syaddad/SM
Penulis: Siti Nur Halizah/Job
Editor: Linda Puji Yanti/SM
