Fadhli Muttaqien Selaku Presiden Mahasiswa Unisba, tengah diwawancarai mengenai tanggapannya terkait kasus pemberhentian Ketua BEM UNJ oleh pihak universitas, Bertempat di BEM Dakwah, Kamis (7/1). (Muthia/Job)
Suaramahasiswa.info, Unisba- Kasus ketua BEM UNJ 2015 Ronny Setiawan, yang belakangan ini sedang ramai dibicarakan terkait pemecatannya secara sepihak oleh universitas, karena dituding melakukan tindak kejahatan berbasis teknologi dan aktivitas penghasutan ini mendapat perhatian lebih dari masyarakat Indonesia. Pasalnya kasus ini menjadi trending topic di media sosial seperti twitter dengan hastag saveRonny dan sahabatRonny.
Muhammad Fadhli Muttaqien selaku Presiden Mahasiswa Unisba mengungkapkan, bahwa Kejadian ini seperti pada zaman Soeharto, ketika ada gerakan mahasiswa masa Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) atau Badan Koordinasi Kegiatan Mahasiswa (BKK) yang dulu pernah dibesut pemerintahan, sekarang ini dilakukan oleh pihak rektor. “Ini sama saja membungkam para aktivis mahasiswa dari suatu fenomena,” ujar pria berkaca mata itu.
Ia menjelaskan pula, bahwa seharusnya setiap kampus mendukung, dan memantik mahasiswa untuk berfikir secara objektif dan kritis. Namun, justru di cederai keegoisan dan kekuasaan pihak bersifat tidak aspresiatif terhadap pemikiran mahasiswa. Mahasiswa sendiri pun harus memiliki kepekaan terhadap suatu fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Selain itu memiliki jiwa independen, bebas dari hal yang sifatnya merugikan, dan merusak netralitas mahasiswa sebagai salah satu pihak yang memiliki peran kontrol sosial.
Fadhli beranggapan, sah-sah saja mahasiswa mengomentari kasus Ronny lewat media sosial, Asalkan tidak asal bicara. Akan lebih baik lagi bila diperkuat dengan data-data, kondisi objektif yang memang terjadi. “Alangkah lebih baiknya jika disampaikan secara langsung,” tuturnya. (Muthia/Job)
