Pre-Screning ‘Blending Boundaries’, Guna Mendapatkan Respon Awal

Paling kiri Adi Panuntun (CEO & Creative Head Sembilan Matahari), paling kanan Sony Budi Sasono (Film Director Blending Boundaries) saat berdiskusi dengan para tamu undangan yang datang dalam acara pre-screening di Jln. Purnawarman No.70 Bandung

Suaramahasiswa.info, Bandung – Dalam peluncuran film nya berjudul ‘Blending Boundaries’, Sembilan Matahari mengadakan Pre-Screening yang diisi dengan diskusi dan menonton bersama Adi Panuntun (CEO & Creative Head Sembilan Matahari) dan Sony Budi Sasono (Film Director). Acara tersebut dilaksanakan di Simpul Space BCCF, Jln. Purnawarman No.70 Bandung.

Tujuan diadakannya acara tersebut guna mendapatkan respon awal terkait isu yang dibawakan film. Seperti yang diketahui, bahwa film tersebut mempunyai  tujuan untuk mengingatkan kembali masyarakat atas hak terhadap ruang publik yang sering terlupakan.

Adi Panuntun mengungkapkan bahwa harapan diadakan acara ini supaya kalangan komunitas atau penulis, aktivis blog, bisa mereview film hingga mengangkat pesan yang coba disampaikan dalam film. “Kita mengharapkan dari kalangan komunitas atau penulis, aktivis blog, atau dari kalangan media bisa mereview filmnya, sehingga bisa lebih meramaikan gagasan atau isu yang diangkat oleh film,” ungkapnya saat diwawancarai Suara Mahasiswa pasca diskusi.

Film ‘Blending Boundaries’ sendiri ditujukan kepada khalayak yang segmented, yaitu ditujukan kepada pemerhati kreativitas didunia digital, mahasiswa dan sekolah terkait industri kreatif. Tidak hanya itu, para pemangku kebijakan, pengelola kota, stakeholder kota, pemerhati gedung-gedung heritage ikut menjadi sasaran segemented film.

“Film ini juga ditujukan buat para pemangku kebijakan pengelola kota stakeholder kota pemerhati gedung-gedung heritage, penikmat dan pemerhati budaya, karena disini kita kental sekali dengan budaya ke-Indonesiaan yang coba kita kemas dengan teknik-teknik baru lewat teknologi digital media,” tutur Adi.

Video Mapping Project yang memadukan beberapa kolaborator dan alat-alat teknologi istimewa. ternyata merogoh kocek sampai ratusan juta. Hal tersebut juga dipaparkan Adi, biaya operasional untuk kolaborator dan software yang harus original harus tim keluarkan untuk suksesnya menampilkan Video Mapping.

“Bikin visual sebesar gedung nilainya memang mahal, karena kita harus menyewa alat projector dengan kekuatan yang besar, itu sewanya aja udah makan biaya lebih dari ratusan juta, belum lagi software video mapping nya yang harus original, biaya operasional untuk kolaborator biaya riset dan sebagainya bisa dihtung lah ya, diatas seratus juta-an,” tutur pria berkacamata  lulusan ITB ini. (Adil Nursalam/SM)