Filateli, Tak Sekedar Hobi Memburu Petisi

Foto: Net

Suaramahasiswa.info, Bandung – Siang itu di penghujung Januari 2014. Sinar matahari masih terhalang di balik awan siklon tropis. Sembari menyesap tembakau kretek di kursi belakang mobil Suzuki Carry keluaran tahun 1985 –yang terparkir di seberang jalan depan gerbang Museum Pos Indonesia– Maman Abdul Malik, dengan dibantu  anak bungsunya merapikan tumpukan perangko kuno yangberserakan di kardus lalu memilahnya satu per satu berdasarkan harga.

Lelaki berperawakan kurus ini memang sudah menggeluti dunia filateli sejak kecil. Tak aneh jika jemarinya terampil dalam memilah perangko. Bukan hanya tahun pembuatan perangko yang dia amati –keunikan dan jumlah cetakan– menjadi poin penting. “Dulu saat saya masih sekolah –wilayah ini menjadi tempat bermain saya– berburu karet gelang di belakang Gedung  Sate. Nah, di sana (dulu) ada tempat sampah  peninggalan Belanda –banyak surat dan perangko bekas dari petugas Gedung Sate dibuangnya ke tempat itu,” ujar lelaki berumur 64 tahun ini saat ditemui di sela kesibukannya, Senin (27/1) lalu.

Menurutnya, ketertarikan akan dunia perangko kian kuat setelah dia diterima masuk sebagai karyawan PT Pos Indonesia Biro Bandung. “Kerja di pos ada kaitannya dengan ini. Saya mulai berbisnis sejak tahun 1975. Berburu perangko bekas dengan berjalan kaki ke berbagai stasiun radio di Bandung. Di sana ada banyak perangko kiriman dari para pendengar,” kenang Maman.

Lelaki kelahiran Bandung ini berujar, menjadi filatelis bukan hanya sekedar hobi mengumpulkan petisi penting yang dikandung sebuah perangko sehingga menjadikannya bernilai tinggi. Baginya, perangko merupakan salah satu medium komunikasi yang mampu mendekatkan satu sama lain dari yang tak kenal menjadi kenal.

Melalui kecintaan pada perangko itulah yang menghantarkannya bertemu dengan presiden kedua Republik Indonesia, kala itu. Bermodal perangko bergambar Soeharto keluaran tahun 1993, lelaki yang pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar ini berangkat dari Bandung ke Jakarta menemui Soeharto agar menandatangi perangkonya. (Sugiharto Purnama/SM)