
Oleh: Framesti Frisma Sriarumtias
Dataran tinggi Dieng, Wonosobo, keindahannya sudah tersohor kemana-mana. Turis dalam negeri bahkan mancanegara tak segan berkali-kali berkunjung. Banyak julukan yang disematkan pada Dieng: negeri para dewa, negeri diatas awan, dan pastinya negeri seribu bukit, karena tampak puluhan bukit yang berjajar seolah melindungi rakyat Dieng dari serangan luar.
Dalam benak kita saat mendengar kata bukit yang terlintas pasti pepohonan yang lebat, kesejukan, serta hamparan hijau dari pepohonan. Tapi kini, bukit para dewa telah beralih fungsi. Bukan lagi pohon penyangga bukit yang bisa dijumpai, tapi petak-petak ladang pertanian.
Saat panen berakhir bukit semakin terlihat gundul, berwarna cokelat dengan petak-petak ibaratkan puzzle. Miris memang.

Bukan hanya kegundulan, kemarau yang berkepanjangan juga berdampak pada bukit Dieng. Kebakaran hutan kini seolah menjadi hal yang biasa. Bukit Sikunir, yang merupakan objek wisata yang tergabung dalam desa wisata ini adalah satu saksi bisu. Tempat yang sekarang dipakai untuk melihat penampakan golden sunrise Dieng yang khas, kini berubah hitam. Selain bisa melihat keindahan juga tersaji kemirisan bukit Dieng, sisa-sisa kebakaran yang meninggalkan jejak hitam. Sangat memilukan.
“Setelah panen, para petani biasanya membakar sisa-sisa panennya di ladang. Karena hutan sekitar begitu kering dengan angin yang bertiup tanpa henti, kebakaran pun menjalar,” ucap Dikdik, salah satu tour guide di Sikunir. Bukan hanya Sikunir yang mendapat serangan api, juga Bukit Sindoro yang juga merasakan efek dari kemarau ini. Kebakaran hebat yang melanda menghitamkan sejarah Dieng.
Harapan dan doa tak henti dipanjatkan para rakyat Dieng, berharap malaikat segera menurunkan hujan. Berharap hijau itu kembali ada.
