Skip to content
Suaramahasiswa.info

Suaramahasiswa.info

Nakal, Tajam, Menggelitik

  • Berita
  • E-Magz
  • Varian
  • Alternatif
    • Artikel
    • Kontributor
    • Curhat
    • Opini
    • Sastra
    • Release
    • Review
    • Advertorial
  • Galeri
  • Editorial
  • Ketentuan Menulis
  • Tentang Kami
SMTV
  • Home
  • Olahraga
  • Siaran Langsung RRI Menjadi Inspirasi Sutiono Bela Maung Bandung
  • Olahraga

Siaran Langsung RRI Menjadi Inspirasi Sutiono Bela Maung Bandung

BANDUNG, (14/11)- Siaran langsung pandangan mata pertandingan Persib Bandung di Radio Republik Indonesia (RRI), ternyata bisa menjadi cikal bakal lahirnya seorang pemain legenda di Persib Bandung.

Ya, siapa sangka jika motivasi Sutiono Lamso, sosok tunggal dan penting dibalik kemenangan Maung Bandung atas Petrokimia Putra di final Liga Indonesia I musim 1994/1995 menggapai mimpi-mimpinya lewat live pertandingan Persib di RRI.

Suara Mahasiswa November 15, 2011

Kepada Radar Bandung, Sutiono berbagi cerita dan pengalaman perjalanan kariernya sebagai pesepakbola hingga didaulat sebagai pemain legendaris Maung Bandung.

Awal tahun 1980-an, Sutiono mengaku hanya mendengarkan berita dan pertandingan  Persib lewat siaran radio. Mulai saat itu dirinya mempunyai angan-angan bisa mengenakan seragam biru yang menjadi warna kebesaran Maung Bandung.

Apa yang ia cita-citakan sudah terwujud bahkan melebihi asanya yang hanya ingin sekadar berseragam biru.  Sekarang sosok kelahiran 19 Agustus 1966 itu, masuk dalam daftar sebagai salah satu legenda hidup Persib.

Putra Purwokerto yang memilih hijrah ke Kota Kembang dengan niat bisa menjadi bagian dari Maung Bandung. Mengawali karier sepakbola di Pro Duta FC pada awal tahun 1988, Sutiono membuktikan bakat spesialnya di lapangan hijau.

Cerita perjalanan Sutiono di Persib dimulai pada pertengahan tahun 1988. Adalah Nandar Iskandar yang saat itu menukangi Persib, merasa tertarik dengan bakat Sutiono dan langsung merekrutnya untuk bergabung bersama Persib yang tengah mempersiapkan diri mengikuti turnamen Piala Persija di Jakarta.

Kemunculannya di Persib saat itu, memang sudah diperhitungkan. Pada tahun 1989 Persib kembali mengikuti turnamen Segitiga Djarum yang di ikuti Persita Tangerang, Persib Bandung, dan Tim Djarum Selection.

Pada turnamen Djarum itulah, namanya mulai diperhitungkan untuk bergabung bersama Adjat Sudrajat cs sebagai pemain inti Maung Bandung. Kepercayaan diri Sutiono semakin menggebu saat dirinya mampu mencetak gol ketika Persib berhadapan dengan Tim Djarum. Setelah turnamen segitiga tersebut, Sutiono langsung mendapat kepercayaan bermain bersama Maung Bandung.

Kompetisi Perserikatan musim 1989/1990 jadi musim pertama Sutiono resmi membela Persib. Lebih spesialnya lagi, beliau sudah merasakan manisnya gelar juara Perserikatan di musim pertamanya bergabung di tim kebanggaan Jawa Barat ini.

Status sebagai salah seorang pemain dengan pencetak gol tersubur sepanjang masa pun mulai disematkan kepada Sutiono, seiring dengan pembuktian yang terus diperlihatkannya sebagai striker bernaluri tinggi.

Selama kareirnya di Persib, jumlah gol yang pernah di lesakkan Sutiono sudah tidak terhitung. Tak jarang gol-gol yang disumbangnya kerap berujung momen emas.

Sebagai striker Sutiono kerap berhasil menyabet gelar individual sebagai top skor atau pencetak gol terbanyak seperti diajang Piala Persija, Gubernur Cup, Jawa Pos, Piala Utama dan Liga Perserikatan yang pernah di ikuti Persib di era 1990’an.

“Saya sudah lupa berapa gol yang dulu pernah saya cetak untuk Persib. Sudah tidak terhitung,” ucap Sutiono sambil terkekeh kepada Radar Bandung.

Yang jelas kata Sutiono ada rasa bangga, karena selalu bisa mencetak gol penting bagi Persib. Namun, di satu sisi Sutiono mengaku kecewa, sebab sampai saat ini tidak ada pemain lokal yang bisa melebihi koleksi gol-nya.

“Padahal, saya selalu berharap, ada penerus,” ujar Sutiono yang kini sibuk mengurus sekolah sepak bola milik pribadinya yakni SSB Sutiono Lamso FC di Jalan Rancamanyar, Kabupaten Bandung.

Kenangan bersama Persib tidak selalu indah, Sutiono pun mengaku dirinya pernah mengalami pengalaman pahit saat ‘dicurangi’ dan gagal  menjadi top skor  di Liga Perserikatan tahun 1993/1994.

Gelar itu yang seharusnya diperoleh Sutiono, lepas begitu saja karena kebijakan PSSI saat itu hanya menghitung jumlah gol seorang pemain di putaran final saja.

Padahal jika diakumulasikan dengan jumlah gol yang dikoleksinya sejak babak penyisihan wilayah, koleksi gol Sutiono melebih pencapaian pemain Persebaya Surabaya, Agus Winarno yang akhirnya diberikan gelar sebagai top skor kompetisi.

“Ya, saya masih ingat, padahal, saat itu saya yang jadi top skor dan Persib pun juara, bahkan saya jadi pemain terbaik pada kompetisi Perserikatan terakhir. Tapi, gelar top skor harus di berikan kepada Agus Winarno karena penilaian golnya hanya di hitung putaran final saja,” cerita Sutiono.

Dalam sejarahnya bersama Persib, Sutiono merasa sangat bahagia ketika pada Liga Indonesia pertama 1994-1995, dirinya jadi pencetak gol tunggal dan membawa Persib meraih juara Liga yang pertama kali.

“Sebenarnya tidak ada perasaan yang begitu lebih, karena sebelumnya, saya sudah tiga kali bawa Persib juara Perserikatan dan selalu cetak gol pada final Perserikatan. Namun, yang jadi berkesannya, itu Liga yang sebenarnya. Kalau Perserikatan, itu kan masih terbilang amatir,” ungkapnya.

Sutiono memang menjadi salah satu legenda Persib yang bisa di banggakan hingga sampai saat ini. Instingnya sebagai penyelesai memang tinggi dan selalu mengalirkan gol demi gol dalam setiap pertandingan yang dijalani Maung Bandung.

Sutiono pun merasa sangat bangga bisa membela Persib karena didasari kecintaannya kepada Bandung. Saat usianya menginjak 34 tahun tepatnya pada 2000, ia memutuskan untuk gantung sepatu.

Mengakhiri karier sebagai pemain sepak bola, dirinya tak lantas meninggalkan dunia sepak bola. Sutiono sempat menjadi pelatih di SSB Palber yang bermarkas di Cibaduyut.

Pada awal bulan September 2011, Suti sapaan akrabnya memutuskan untuk keluar dari SSB Palber dan mendirikan SSB yang ia dirikan sendiri dan dinamai SSB Sutiono Lamso FC di daerah Rancamanyar, Kabupaten Bandung. Saat ini, Sutiono masih tercatat sebagai pegawai Pemerintah Kota Bandung bersama Anwar Sanusi, Cecep Supriatna dan lainnya.(cr2)

Teks Oleh : Firyal Firdaus – Wartawan Radar Bandung

Continue Reading

Previous: Pemprov Jabar Siapkan Rp 2 Miliar Untuk Bonus Atlet
Next: Peluang Bisnis Bagi Mahasiswa

Hal Terkait

Duet Ganda Kembar Penyumbang Poin Untuk Unisba
  • ALL POST
  • Artikel
  • Berita Harian
  • Berita Kampus
  • Olahraga

Duet Ganda Kembar Penyumbang Poin Untuk Unisba

Mei 10, 2017
USBU Tersingkir dari TUNFC
  • ALL POST
  • Berita Harian
  • Berita Kampus
  • Olahraga

USBU Tersingkir dari TUNFC

Februari 3, 2016
Pertandingan Basket Meriahkan Pom Fikom 2015
  • Olahraga

Pertandingan Basket Meriahkan Pom Fikom 2015

April 25, 2015

Zine Lawan Edisi April 2025

You may have missed

Analisis Pandangan Netizen terhadap Konflik K-Netz vs SEAblings di Media Sosial
  • Advertorial

Analisis Pandangan Netizen terhadap Konflik K-Netz vs SEAblings di Media Sosial

April 11, 2026
BEMU Fokus Rampungkan Program Kerja di Sisa Masa Kepengurusan
  • Berita
  • Berita Kampus

BEMU Fokus Rampungkan Program Kerja di Sisa Masa Kepengurusan

Maret 18, 2026
Sunyi di Gema Takbir Lewat Single Ala Dongker
  • Berita
  • Berita Harian

Sunyi di Gema Takbir Lewat Single Ala Dongker

Maret 17, 2026
Pelaksanaan Pemira Belum Temui Kepastian di Sisa Satu Bulan Periode BEMU
  • Berita
  • Berita Kampus

Pelaksanaan Pemira Belum Temui Kepastian di Sisa Satu Bulan Periode BEMU

Maret 16, 2026
Copyright © 2025 Pers Suara Mahasiswa Unisba, All rights reserved. Dari Mahasiswa Untuk Kemanusiaan | DarkNews by AF themes.