Skip to content
Suaramahasiswa.info

Suaramahasiswa.info

Nakal, Tajam, Menggelitik

  • Berita
  • E-Magz
  • Varian
  • Alternatif
    • Artikel
    • Kontributor
    • Curhat
    • Opini
    • Sastra
    • Release
    • Review
    • Advertorial
  • Galeri
  • Editorial
  • Ketentuan Menulis
  • Tentang Kami
SMTV
  • Home
  • Alternatif
  • Artikel
  • Sore
  • ALL POST
  • Artikel

Sore

Suara Mahasiswa Januari 23, 2014

Sore. Sangat naif memang seandainya jika memikirkan malam. Saat semua sibuk dengan harapan, pujian, kebahagiaan, kesedihan sampai pada akhirnya hanya terdiam. Ya, terdiam dalam lamunan yang tak menentu. Terkadang bisa berkhayal yang tak dapat dipahami akal sehat.

Jalan yang paling tepat adalah menikmati sore ini walaupun ada beberapa hal yang kurang disukai. Apa yang bisa kita perbuat? Akan menyerah pada keadaan, dengan tidur meninggalkan sore ini seandainya ada hal yang kurang kita sukai terjadi? Atau kita akan bersepakat dengan diri pribadi untuk bisa bersahabat dengan kondisi apapun?

Itu semua memang pilihan. Kala sore kita diceriakan matahari itu artinya tergantung kita akan menganggapnya bagaimana. Kala sore kita ditemani awan tebal itu artinya apakah kita akan terdiam dan terbuai. Kala sore kita diajarkan kerendahan oleh hujan itu artinya kita harus bisa menerima semua yang sudah, sedang atau bahkan akan terjadi.

Hujan mengajarkan kita tentang arti kerendahan. Lihat saja sampai saat ini kita tahu hujan turun dari langit membasahi bumi. Memang tidak semua bumi basah, namun daerah yang terkena air hujan pasti akan basah. Begitupun manusia yang tidak cukup dengan rendah hati saja tetapi kita harus bisa masuk ke area dimana kita berada lalu bisa memiliki arti.

Terlalu standar seandainya hidup kita hanya diatur oleh waktu. Dimanapun kita berada pasti waktu tersebut akan terus berjalan, tanpa kita perintah, tak perlu dilihat dan tidak usah dimainkan. Waktu memiliki inisiatif sendiri untuk berputar pada poros penariknya. Jika sudah demikian maka saat waktu menunjukkan kelelahannya tepat di 00.00 itu artinya kita tidak memanfaatkannya secara maksimal.

Cobalah sedikit berkenalan dengan waktu. Jika sudah begitu maka kita bisa mengatur waktu sebagaimana yang kita mau. Kita bisa lebih leluasa jika waktu sudah kita kenali, bahkan dunia bisa kita miliki.

Teruntuk sore. Jangan terlalu cepat untuk datang tanpa permisi untuk esok hadir lagi. Tanpa berbicara hari ini akan ditemani oleh matahari, awan atau hujan. Pamit dan berbicaralah karena kita pasti bisa menikmatinya bersama.

 

Ditulis oleh Dirga KR, Mahasiswa Fikom Unisba 2012

Foto: Dokumentasi Suara Mahasiswa

Tags: artikel opini senja sore Waktu

Continue Reading

Previous: [Foto] Cuaca Buruk, Omset Fotografer di Kawah Putih Anjlok
Next: Banjir Subang Tenggelamkan Mata Pencaharian Warga

Hal Terkait

Gunung Api dan Segala Hal di Sekitarnya
  • Artikel

Gunung Api dan Segala Hal di Sekitarnya

September 10, 2026
Ketidakcakapan Pemerintah dalam Menangani Bencana Alam
  • Alternatif
  • Artikel

Ketidakcakapan Pemerintah dalam Menangani Bencana Alam

September 9, 2026
September Hitam dan Keadilan yang Mati
  • Alternatif
  • Artikel

September Hitam dan Keadilan yang Mati

September 7, 2026

Zine Lawan Edisi April 2025

You may have missed

Pemira Unisba Lagi-Lagi Aklamasi
  • Berita
  • Berita Kampus

Pemira Unisba Lagi-Lagi Aklamasi

September 12, 2026
Gunung Api dan Segala Hal di Sekitarnya
  • Artikel

Gunung Api dan Segala Hal di Sekitarnya

September 10, 2026
Ketidakcakapan Pemerintah dalam Menangani Bencana Alam
  • Alternatif
  • Artikel

Ketidakcakapan Pemerintah dalam Menangani Bencana Alam

September 9, 2026
September Hitam dan Keadilan yang Mati
  • Alternatif
  • Artikel

September Hitam dan Keadilan yang Mati

September 7, 2026
Copyright © 2025 Pers Suara Mahasiswa Unisba, All rights reserved. Dari Mahasiswa Untuk Kemanusiaan | DarkNews by AF themes.