Poster dan beberapa cuplikan adegan film Gie.
Suaramahasiswa.info, Unisba- “Saya tidak mau jadi pohon bambu. Saya mau jadi pohon oak yang berani menantang angin.”
Kalimat Soe Hok Gie tersebut menjadi gambaran sosoknya dalam film Gie (2005) karya Riri Riza. Diadaptasi dari buku Catatan Seorang Demonstran, film ini menceritakan perjalanan Gie sebagai mahasiswa di tengah gejolak politik Indonesia pada 1960-an.
Dalam film, Gie digambarkan sebagai mahasiswa yang berani menyuarakan kritik terhadap pemerintah melalui tulisan maupun gerakan mahasiswa. Ia tidak mudah menerima keadaan dan memilih mempertanyakan kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Keresahan Gie terhadap keadaan politik membuatnya terlibat dalam berbagai gerakan mahasiswa. Namun, film ini tidak hanya memperlihatkan Gie sebagai seorang demonstran, tetapi juga sebagai anak muda yang memiliki kehidupan pribadi, kecintaan terhadap alam, serta hubungan dengan teman-temannya.
Menariknya, kritik Gie tidak hanya ditujukan kepada pemerintah. Ia juga berani mengkritik orang-orang yang pernah berjuang bersamanya ketika mereka mulai dekat dengan kekuasaan.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa bagi Gie, kritik bukan persoalan siapa yang sedang berkuasa, melainkan bagaimana kekuasaan digunakan. Ketika kekuasaan mulai tidak berpihak kepada masyarakat, kritik tetap diperlukan siapa pun yang berada di baliknya.
Puluhan tahun setelah Gie meninggal, persoalan mengenai kritik terhadap kekuasaan masih relevan dengan kondisi politik Indonesia saat ini. Salah satunya dapat dilihat dari pentingnya mempertanyakan siapa yang menjalankan fungsi pengawasan terhadap kekuasaan.
Di sisi lain, posisi partai politik dalam mengawasi pemerintah juga kembali menjadi pembicaraan. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada 2026 menyatakan dirinya sebagai “partai penyeimbang”, yaitu tetap berada di luar pemerintahan dan mendukung kebijakan yang dianggap baik bagi rakyat, tetapi memberikan kritik ketika kebijakan tersebut dinilai tidak tepat.
Situasi tersebut menarik jika dikaitkan dengan sikap Gie dalam film. Meskipun Gie bukan politisi dan tidak berada dalam sistem oposisi, ia menunjukkan bahwa kritik terhadap kekuasaan tidak harus menunggu seseorang menjadi bagian dari politik.
Justru ketika kekuasaan semakin kuat dan banyak pihak berada di dalam lingkarannya, suara dari luar kekuasaan menjadi semakin penting. Mahasiswa, pers, akademisi, dan masyarakat sipil tetap memiliki ruang untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah tanpa harus terlebih dahulu menjadi bagian dari kelompok politik tertentu.
Gie telah lama pergi, tetapi pertanyaan yang dibawanya masih relevan hingga hari ini. Ketika kekuasaan semakin kuat, siapa yang berani mengawasi?
Sebab, demokrasi bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan kekuasaan. Demokrasi juga tentang siapa yang berani mengingatkan ketika kekuasaan mulai kehilangan pengawasan.
Penulis: Siska Vania/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
