Potret ibu dan anak yang tengah bermain clay sebagai media untuk mengekspresikan emosi.
Oleh Denia Catherine Cecilia Gultom
“Tidak apa-apa.” Dua kata sederhana yang kerap terdengar ketika seseorang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Bagi anak yang sedang menghadapi kanker, kalimat itu bisa menjadi cara untuk menyembunyikan rasa takut, lelah, atau sedih.
Di samping itu, ibu yang mendampingi juga dapat mengalami kecemasan, kelelahan, dan kekhawatiran yang tidak selalu mudah disampaikan kepada anak. Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan hanya bagaimana seorang anak menghadapi emosinya sendiri atau bagaimana seorang ibu mengelola perasaannya, tetapi juga bagaimana keduanya menghadapi tekanan sebagai sebuah pasangan ibu dan anak.
Di sinilah konsep keserasian emosi menjadi penting. Keserasian emosi bukan berarti ibu dan anak harus selalu merasakan emosi yang sama, melainkan mampu mengenali, memahami, menerima, dan merespons emosi satu sama lain secara tepat.
Ketika anak mengatakan kata “Aku takut” respons yang dibutuhkan tidak selalu berupa nasihat untuk tidak merasa takut. Terkadang, yang lebih dibutuhkan adalah pengakuan sederhana bahwa rasa takut tersebut memang ada dan ibu bersedia menemaninya.
Keserasian emosi kemudian menjadi penting karena hubungan ibu dan anak bukan hubungan satu arah. Emosi salah satu pihak dapat memengaruhi pihak lainnya, sehingga ketika anak mengalami tekanan, ibu dapat ikut terdampak dan begitu pula sebaliknya.
Bukan Menghadapi Sendiri, tetapi Bersama
Dalam Psikologi, cara pasangan menghadapi tekanan secara bersama-sama dikenal dengan istilah dyadic coping. Secara sederhana, dyadic coping dapat dipahami sebagai kemampuan dua orang yang memiliki hubungan dekat untuk menghadapi stress sebagai sebuah tim.
Pada konteks ibu dan anak yang tengah menghadapi kanker, dyadic coping berarti bukan hanya melihat bagaimana anak menghadapi kanker atau bagaimana ibu menghadapi anak yang sakit. Pertanyaannya justru berkembang menjadi bagaimana ibu dan anak dapat menghadapi situasi sulit tersebut bersama.
Bentuknya dapat bermacam-macam, seperti ibu membantu anak mengungkapkan perasaannya atau memahami ketika ibunya sedang lelah. Keduanya juga dapat saling memberikan dukungan dan melakukan aktivitas bersama-sama yang membuat mereka merasa lebih nyaman.
Namun, membangun pola seperti ini tentu tidak selalu mudah, terlebih bagi anak yang mungkin belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan emosinya dengan jelas. Oleh karena itu, diperlukan cara yang sederhana dan sesuai dengan dunia anak.
Ketika Jurnal Menjadi Ruang untuk Bercerita
Gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam program METAMORPHOSIS yang dikembangkan untuk mendukung pembentukan dyadic coping dan keserasian emosi antara ibu dan anak pengidap kanker di rumah singgah. METAMORPHOSIS memadukan pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dengan Values-Based Cooperative Play.
Salah satu media yang digunakan dalam prosesnya adalah Jurnal METAMORPHOSIS. Jurnal ini tidak dirancang sebagai buku tugas yang menuntut anak untuk menulis panjang, tetapi sebagai ruang sederhana untuk membantu ibu dan anak mengenali pengalaman emosional mereka.
Anak dapat menuangkan perasaannya melalui tulisan, pilihan sederhana, maupun gambar, sementara ibu pun dapat ikut merefleksikan pengalaman dan perasaannya. Dari aktivitas tersebut, muncul kesempatan bagi keduanya untuk membuka percakapan tentang apa yang sedang dirasakan dan dibutuhkan.
Memberi Ruang untuk Ikut Merasakan
Dalam pendampingan anak yang tengah menghadapi kanker, perhatian sering kali berpusat pada kondisi fisik dan proses pengobatan. Padahal, pengalaman menghadapi kanker juga membawa dimensi emosional yang perlu mendapat ruang, baik bagi anak maupun ibu.
Melalui METAMORPHOSIS, prosesnya bisa melalui aktivitas-aktivitas yang dekat dengan dunia anak, contohnya dengan bermain, menggambar, bercerita, dan menulis. Terkadang, dukungan terbaik bukan hanya dengan mengucapkan “jangan sedih” melainkan ditambah dengan dukungan penguat diri dengan mengatakan, “kalau kamu sedih, kita dapat hadapi bersama”.
Pada akhirnya, membangun dyadic coping bukan hanya tentang membuat ibu dan anak harus selalu terlihat kuat. Tetapi tentang bagaimana membuat keduanya tidak harus kuat sendirian.
Penulis merupakan mahasiswa IPB University.
