Pertemuan Mahasiswa dan Kemahasiswaan: Ingin Tuntaskan Problematika Unisba

Suasana Malam Keakraban (Makrab) Keluarga Besar Mahasiswa Unisba (KBMU) beserta pihak Kemahasiswaan Unisba yang bertempat di Vila Istana Bunga, Lembang, pada Jumat (2/8/2019). (Foto: Shella Mellinia)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Malam Keakraban (Makrab) Keluarga Besar Mahasiswa Unisba (KBMU) yang dicanangkan Badan Eksekutif Mahasiswa Unisba (BEMU) berlangsung pada Jumat-Sabtu (2-3/8) di Vila Istana Bunga, Lembang. Dalam momentum itu, mahasiswa dari berbagai elemen berkumpul dengan pihak Kemahasiswaan untuk membicarakan persoalan kampus Unisba yang tidak kunjung mereda.

  1. Buku Pedoman Kemahasiswaan

Berangkat dari ketidaktertiban organisasi mahasiswa dalam urusan administrasi – seperti pengajuan proposal dan izin kegiatan – kemudian dibuatlah Pedoman Kemahasiswaan pada 2015. Sejak itu, Pihak Kemahasiswaan, Hikmat Taofiq mengaku pedoman itu belum cukup tersosialisasikan.

Ia menyebut, sering kali proposal dari mahasiswa ditolak karena tidak sesuai dengan standar yang ada. “Karena enggak sesuai, dan saya enggak mau asal menerima. Jadi saya kembalikan ke organisasinya, supaya dikoreksi dan supaya ada proses pembelajaran,” singgungnya dalam Makrab.

Selain itu, dia mengatakan sering terulang kesalahan perizinan yang dilakukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). UKM acap kali melakukan kontak perizinan langsung dengan Kemahasiswaan, bukan kepada BEMU. Sehingga ia merasa miris, sebab segala sesuatu terkait UKM harusnya menjadi tanggungjawab BEMU. Ia menilai selama ini BEMU dipandang sebagai BEM-F kesebelas.

  1. Kewajiban Mengenakan Hijab

Unisba adalah kampus Islam. Sejatinya, Islam mewajibkan penganutnya yang perempuan memakai hijab, menurut perwakilan dari Unit Pengembangan Tilawatil Quran (UPTQ). Ia mempertanyakan kejelasan Surat Keterangan (SK) Hijab yang tidak merata untuk mahasiswa Unisba atau pun orang yang masuk ke area Unisba. Ia menyarankan untuk memfasilitasi hijab bagi yang akan memasuki kampus tanpa berhijab.

Wakil Rektor (Warek) III, Asep Ramdhan mengatakan sejauh ini wajib berhijab hanya untuk pegawai. Aturan untuk mahasiswa memang belum merata, namun dirinya akan mengusahakan untuk mencari solusi untuk itu.

  1. UKM Tidak Memiliki Sekretariat

Beberapa UKM tidak memiliki jatah hunian, salah satunya Hipmi-PT. Perwakilannya, Juandri Harianja mengeluhkan soal itu. “Periode sebelumnya saja ada 300 orang pendaftar, sangat disayangkan karena kita tidak punya sekretariat untuk berkumpul yang kemudian berdampak dengan banyak anggota yang kini menjadi tidak aktif,” keluhnya.

Perihal sekretariat, Asep mengaku kebingungan mencari lokasi untuk sekretariat baru karena Unisba telah kehabisan lahan. Namun saat ini, kata Asep, terdapat empat ruangan kosong yang memungkinkan untuk ditempati.

  1. Kantin Deret

Tata lokasi, kebersihan kantin, dan kelayakan hidangan di Kantin Deret patut jadi sorotan menurut Ketua BEM-F Kedokteran, Riki Hidayat. Dalam membenahi masalah yang Lalu Presiden Mahasiswa, Norman Lutfi menginisiasikan bantuan untuk membenahi Kantin Deret.

  1. Parkiran Unisba yang Tidak Kunjung Rampung

Satu lagi masalah yang (masih) abadi di Unisba: parkiran. Asep mengakui, parkiran memang problematik dan sulit untuk dituntaskan. Mahasiswa pun ikut membantu untuk memecahkan masalah ini, seperti perwakilan dari Teknik Planologi, Abdurrahman. Ia dan teman-teman di fakultasnya membuat rancangan parkiran dan berharap bisa diterima.

Taufik Sirajuddin, rekan satu fakultas Abdurrahman juga menawarkan solusi lain untuk menekan banyaknya pengguna kendaraan pribadi. “Program bike to school yang dilakukan pemerintah, bisa dilakukan juga di Unisba.”

Asep menanggapi, “Programnya juga harus mempertimbangkan kesiapan dari dosen-dosen wanita, serta mahasiswa atau dosen yang jarak kediamannya cukup jauh,” ungkapnya. Selain itu, Asep mengaku sudah ada obrolan untuk kerja sama dengan ojek daring untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi di Unisba.

***

Sekitar Sabtu (3/8) pukul 00.30 WIB, diskusi berakhir yang ditutup dengan pendatanganan nota kesepahaman oleh Asep selaku Warek III. Namun ia menolak lantaran naskah kesepahaman belum rapih. “Jika sudah rapih, nanti tinggal datang ke ruangan saya untuk ditandatangani.”

Reporter: Shella Mellinia Salsabila & Febrian Hafizh Muchtamar

Penulis: Shella Mellinia Salsabila

Editor: Febrian Hafizh Muchtamar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *