Suasana Kantin Barokah yang dikelola Koperasi Dosen dan Karyawan (Kopdoskar) Universitas Islam Bandung (Unisba) di Jalan Tamansari No. 1, Kota Bandung, tampak lengang setelah operasional dihentikan sementara untuk proses revitalisasi pada Senin, (27/7).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Kantin Barokah yang dikelola Koperasi Dosen dan Karyawan (Kopdoskar) Universitas Islam Bandung (Unisba) menghentikan operasionalnya sementara sejak sekitar April 2026 untuk renovasi bangunan dan pembenahan sistem pengelolaan. Revitalisasi tersebut ditargetkan rampung sebelum pelaksanaan Ta’aruf Mahasiswa Baru (Maba) tahun ajaran 2026/2027.
Ketua Pengurus Kopdoskar Unisba, Erwin Hamdani Harahap, menegaskan Kantin Barokah tidak ditutup permanen, melainkan tengah menjalani proses perancangan ulang. Ia menyampaikan, hasil penataan tersebut diharapkan mulai terlihat saat maba memasuki masa perkuliahan.
Erwin menambahkan, penurunan aktivitas di Kantin Barokah dipengaruhi oleh lokasi yang dinilai kurang strategis sehingga mahasiswa lebih memilih membeli makanan di kawasan sekitar kampus. Penyebaran gedung perkuliahan pun menyebabkan jumlah pengunjung terus menurun hingga banyak tenant menghentikan usahanya.
Selain itu, makanan dari Kantin Barokah juga disuplai ke food truck serta sejumlah kegiatan di lingkungan kampus. “Tapi ada masalah lain ketika liburan mahasiswa, kita sudah bantu misalnya saat Jumat Berkah, beberapa fakultas yang tidak memasak itu pesan ke kantin. Namun, ya, secara omzet kayaknya kurang.” Ujarnya pada Selasa, (21/7).
Dalam perancangan ulang tersebut, Erwin mengatakan Kopdoskar akan menerapkan konsep baru dalam pengelolaan Kantin Barokah. Terlebih, tenant-tenant tidak lagi diwajibkan memasak di lokasi, melainkan hanya menyuplai makanan yang kemudian dipanaskan menggunakan fasilitas yang disediakan pengelola.
Sementara itu, Kepala Unit Toko dan Kantin Kopdoskar Unisba, Septiana Ayu Estri Mahani, mengatakan penutupan kali ini merupakan yang kedua setelah pandemi Covid-19. Dirinya menjelaskan penutupan dilakukan untuk mengevaluasi kondisi bangunan sekaligus sistem operasional yang selama ini berjalan.
Pembenahan tersebut mencakup mekanisme penjualan buka-tutup tenant, mengkaji ulang layout, melakukan perjanjian ulang hingga meninjau kembali menu-menu yang disajikan sebelumnya. Selain itu, pengelola juga akan melakukan pembenahan instalasi kelistrikan serta mengaktifkan kembali sistem digital.
Kemudian, Septiana menuturkan terdapat dua konsep yang akan diterapkan dalam pengelolaan Kantin Barokah. Konsep pertama, menjadikan kantin sebagai ruang aktivitas mahasiswa melalui konsep co-learning, sedangkan konsep kedua menghadirkan makanan seharga Rp10 ribu serta penyediaan makanan dari siang hingga sore melalui supplier.
Lebih lanjut, ia menyampaikan Kopdoskar berencana menjalin kerja sama dengan Koperasi Mahasiswa (Kopma) Unisba maupun alumni dalam pengelolaan Kantin Barokah. Di sisi lain, ia ungkap Kantin Barokah sempat ditawarkan untuk mengelola pedagang di depan kampus yang berpotensi terdampak penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) oleh Pemerintah Daerah (Pemda).
“Sempat ada info dari Pemda bahwa kaki lima yang di depan kampus tahun 2028 itu harus bersih nggak boleh ada yang jualan, itu ditawarkan ke koperasi mau mengelola nggak, “ ucap Septiana pada Senin, (20/7).
Rencana pembenahan tersebut turut mendapat tanggapan dari sejumlah mahasiswa. Mahasiswa Fakultas Hukum, Intan Fathiatul Hasanah, menilai minimnya promosi dan berkurangnya jumlah tenant menjadi penyebab Kantin Barokah semakin sepi pengunjung.
“Lebih digencarkan lagi promosinya, layout-nya pun bisa direnovasi lebih nyaman soalnya kalo aku ada di lantai 2 tuh suka agak gerah jadi, ya, bisa disediakan kipas atau gimana.” Kata Intan pada Selasa, (21/7).
Di sisi lain, mahasiswa Fakultas Teknik, Nazwa Lutphi Aulia, mengaku lebih sering memanfaatkan Kantin Barokah sebagai tempat makan dan berbincang daripada mengerjakan tugas. Dirinya menilai, variasi menu, serta fasilitas, seperti meja, stop kontak, dan jaringan internet masih perlu ditingkatkan agar lebih menunjang kebutuhan mahasiswa.
“Mungkin ada tenant yang mau inovasi menu-menunya lebih banyak atau lebih oke dan kurang inovasi menurut aku untuk sekelas kantin di universitas itu menurut aku kurang sih,” tuturnya saat diwawancarai pada Rabu, (22/7).
Senada, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Febria Aulia Putri menyoroti fasilitas kantin yang masih perlu dibenahi, mulai dari kebersihan hingga sirkulasi udara yang membuat ruangan terasa panas. “Terus untuk pelayanannya mungkin kita juga bingung mau menyuarakan ini ke mana karena jarang ada orang yang bisa kita tanyakan tentang Kantin Barokah,” pungkasnya.
Terakhir, Erwin berharap Kantin Barokah dapat kembali menjadi pusat kegiatan mahasiswa dengan suasana yang ramai seperti beberapa tahun lalu. Menurutnya, jam operasional yang lebih panjang akan mendukung aktivitas mahasiswa sehingga kantin dapat kembali menjadi ruang berkumpul dan belajar di lingkungan kampus.
Reporter: Siti Nur Halizah/SM
Penulis: Violetta Kahyang Lestari Fauzi/SM
Editor: Siska Vania/SM
