Makanan Ta’aruf: Kesehatan, Peluang Bisnis, dan Lemahnya Visi Go Green

Ilustrasi bekal makanan. (Ifsani Ehsan Fahrez/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Sudah menjadi budaya tersendiri bagi mahasiswa baru (maba) untuk mengemban tugas yang diberikan ketika Orientasi Studi Pengenalan Kampus (Ospek) – atau di Unisba dikenal sebagai masa Ta’aruf – guna melengkapi langkah awalnya sebelum ‘resmi’ menjadi seorang mahasiswa di suatu perguruan tinggi.

Sama seperti tahun sebelumnya, di tahun ajaran baru 2019-2020, Unisba kembali mewajibkan mahasiswa membawa bekal makanan. Wakil Rektor III, Asep Ramdan Hidayat menyebut tugas tersebut wajib hukumnya. Jika tidak diamini, akan diberi sanksi akademik berupa tes hafalan Al-Quran (nyatanya tidak).

Kondusifitas saat Ta’aruf menjadi alasan mahasiswa harus membawa bekal makanan. Berdasarkan laporan yang Asep terima dari Korps Suka Rela (KSR), mahasiswa yang pingsan atau jatuh sakit saat Ta’aruf sering kali dilatarbelakangi telat makan atau tidak sarapan. Oleh karena itu, kata Asep, menu makanan telah diperhitungkan takaran gizinya, sehingga bisa meng-cover energi yang dibutuhkan mahasiswa selama mengikuti Ta’aruf.

Peluang Bisnis

Kewajiban membawa makanan serta menu yang diatur, rupanya dimanfaatkan oleh beberapa pihak sebagai ladang bisnis berbasis pre-order. Sebut saja Info.mahasiswaunisba, Koperasi Mahasiswa (Kopma), dan Himpunan Mahasiswa Akutansi (Himasi).

Direktur Eksekutif Info.mahasiswaunisba, Tanto Haryanto mengatakan bisnis makanan tersebut dapat memudahkan mahasiswa rantau. Berbeda dengan Tanto, Pengurus Himasi, Esti Meilani mengungkapkan berdagang demi kebersamaan.

“Orientasi utama kita bukan buat cari keuntungan, tapi yang lebih kami utamakan itu kebersamaan antar pengurus. Karena kita masak sendiri makanannya, dengan begitu bisa menambah keakraban kita,” ucap Esti.

Lemahnya Visi Go Green

Asep menekankan wadah makanan yang dianjurkan berupa kontainer makanan yang bisa digunakan kembali. Bila ditemukan maba yang berbekal makanan dengan wadah yang berpotensi menjadi sampah maka nantinya akan diberikan sanksi.

Berdasarkan hasil pantauan reporter Suara Mahasiswa pada saat Ta’aruf hari pertama, Senin (2/9), beberapa mahasiswa membawa bekal dengan wadah plastik sekali pakai serta dus berbahan karton. Setelah ditelusuri, wadah sekali pakai tersebut berasal dari bekal jasa boga. Diantaranya, Info.mahasiswaunisba yang menggunakan wadah berbahan plastik sekali pakai, serta Kopma dan Himasi yang menggunakan wadah dus berbahan karton.

Hal tersebut bertentangan dengan visi Unisba dalam mewujudkan campus go green, seperti memberikan botol tumbler kepada mahasiswa baru. Dalam penetapan visi tersebut, Unisba terbilang lemah. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa yang masih membawa bekal makanan berbahan plastik sekali pakai.

Konsekuensi Wadah Sekali Pakai

Mengingat baru hari pertama Ta’aruf, Asep akan memberikan konsekuensi bagi mahasiswa yang menggunakan wadah makanan sekali pakai. “Hanya perlu membawa pulang sampahnya masing-masing dan tidak mengulangi kesalahannya di keesokan hari,” katanya.

Asep juga menyarankan mahasiswa yang memesan pre-order makanan agar membawa wadah makanan sendiri. Mereka hanya perlu memberikan wadah miliknya kepada penyedia jasa guna mewadahi menu yang mereka pesan. Dengan begitu mereka tidak perlu menggunakan wadah makan sekali pakai yang disediakan oleh jasa boga.

Sebagai salah satu penyedia jasa boga, Esti berjanji akan merubah wadah makanan menjadi kotak makanan yang bisa dipakai berulang kali. Ia juga menjelaskan pihak Himasi akan membeli sendiri kotak makanannya dan tidak membebankan kepada pembeli. “Selain bantu maba, jadi mempermudah kita buat bawanya.”

Perihal wadah bekal makan, Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis 2019, Rani Audina mengaku beryukur tidak memesan pre-order. Rani beralasan ia tidak mau ikut menambah jumlah sampah di Unisba. Ia juga merasa akan lebih puas memakan makanan yang dipersiapkan ibunya yang jelas lebih enak.

Di sisi lain, Mahasiswi Fakultas Hukum 2019, Yasyfa Nadhirah menyesal memesan bekal makan di jasa boga. Ia mengeluhkan wadah makan yang hanya sekali pakai sehingga melanggaran anjuran Unisba. Ia juga menyayangkan wadah tersebut akan menjadi tumpukan sampah. “Ada keluhan lain. Makanan aku juga kurang pula, aku enggak kebagian ayam.”

Mahasiswa Fakultas Hukum 2018, Alifvio Bramandika mempermasalahkan wadah makanan yang digunakan oleh pihak jasa boga karena tidak sesuai dengan yang dianjurkan Unisba. Kedepannya ia mengharapkan universitas membuat regulasi khusus agar tidak terjadi penumpukan sampah dari wadah bekas bekal makanan.

Reporter: Shella Mellinia Salsabila

Penulis: Shella Mellinia Salsabila

Editor: Febrian Hafizh Muchtamar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *