Cerita Korban Usai Demonstrasi Kedua di Bandung

Massa aksi berhamburan ke Unisba usai demonstrasi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro No. 27, Kota Bandung pada Selasa (24/9/2019). (Puspa Elissa Putri/SM)

Suaramahasiswa.info, Unisba – Satria Kafin Muntazhar hendak melindungi massa perempuan dan rekannya saat kericuhan terjadi. Massa aksi liar, saling dorong. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisba itu pun ikut terdorong sampai jatuh. Sudah jatuh, kaki Satria terinjak sampai angkelnya terluka.

Satria tidak sendiri. Beberapa massa aksi yang lain juga mengalami berbagai cedera saat demonstrasi  Selasa (24/9) di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro No. 27. Seperti Syaeful Bahri yang berada di posisi paling depan mencoba mendobrak pagar. Saat pagar terbuka, polisi menahan dengan tamengnya.

“Saya kedorong sama shield polisi, terus jatuh dan dihantam pakai tongkat polisi. Saya langsung berdiri dan lari,” ucap siswa SMA Yayasan Wanita Kereta Api (YWKA) Bandung.

Selain itu, mahasiswa Sekolah Tinggi Ekuitas, Rizki Fitrian mengaku terkena gas air mata. Saat itu, ia tengah menolong massa yang terkena gas air mata hingga pingsan. Lama-lama ia juga merasa tidak kuat dengan efek gas air mata. “Lama-lama perih dan sesak nafas.”

Massa juga semakin melawan lagi. Pagar gedung pun berhasil dirubuhkan. Mahasiswa Itenas, Aldi Septiadi tidak sengaja menginjak pagar hingga menembus sepatunya. Ia pun merasakan cedera di telapak kakinya.

Evakuasi di Unisba Lagi

Massa aksi lagi-lagi memilih Unisba sebagai titik evakuasi. Mereka berhamburan ke Unisba menyelamatkan korban demonstrasi. “Karena kemarin jadi tempat evakuasi, makanya massa pada ke sini lagi,” Koordinator Posko KSR Unisba, Bagja Kautsar.

Usai para korban demonstrasi dievakuasi, Bagja mengkhawatirkan cedera akibat gas air mata dan water canon. Bagja menyebut gas air mata mengakibatkan sesak nafas, sedangkan water canon dengan tekanan kuat mengakibatkan patah tulang.

Selain KSR, Fakultas Kedokteran juga mengirim bala bantuan. Nurul Romadhona, dosen Fakultas Kedokteran mengatakan sejauh ini rata-rata korban mengalami shock karena proses demo. Selain itu, Nurul juga menangani korban yang perlu dirujuk ke rumah sakit.

“Tadi ada luka di bagian dada. Di dada dikhawatirkan ada patah tulang, maka kami rujuk ke rumah sakit,” ucapnya ketika memantau korban evakuasi.

Hingga saat ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Unisba (BEMU) menyebut terdapat 107 korban yang dievakuasi di Unisba, termasuk 6 orang dirujuk ke rumah sakit.

Sesaat setelah beberapa korban cedera mengosongkan Aula Unisba, Kepala Bagian Umum (Kabagum) Abdul Muflih meminta agar massa aksi yang berhamburan ke Unisba, agar segera pergi. Menurutnya, area Unisba sudah tidak kondusif. Ia juga meminta pihak kampus untuk mengunci gerbang, clear area.

Aksi sekarang tidak hanya diramaikan mahasiswa, tetapi juga buruh dan tani. Kehadiran tani dalam demonstrasi itu bertepatan dengan Hari Tani Nasional. Mereka menolak rencana revisi UU Mineral dan Batu Bara (Minerba), UU Pertanahan, UU Permasyarakatan, dan UU Ketenegakerjaan yang bermasalah.

Reporter: Puspa Elissa Putri & Aryana Catur Rangga

Penulis: Febrian Hafizh Muchtamar

Editor: Puspa Elissa Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *