Skip to content
Suaramahasiswa.info

Suaramahasiswa.info

Nakal, Tajam, Menggelitik

  • Berita
  • E-Magz
  • Varian
  • Alternatif
    • Artikel
    • Kontributor
    • Curhat
    • Opini
    • Sastra
    • Release
    • Review
    • Advertorial
  • Galeri
  • Editorial
  • Ketentuan Menulis
  • Tentang Kami
SMTV
  • Home
  • Opini
  • Kontributor
  • Taraksa # 5: Yang Bertahan, Bagian 1
  • Kontributor

Taraksa # 5: Yang Bertahan, Bagian 1

Naskah : Sutansyah Marahakim
Ilustrasi :
Fadhel Adam
Adaptasi Twitter : Anissa Rahma Sukardi

 

Sebuah lorong panjang dengan tembok tembok batu. Kususuri setiap bagiannya sambil pandangi detil ukiran relief yang seolah berbisik tentang cerita tertua yang bumi ini pernah tuturkan. Disana, rerumputan perlahan menipis dari permukaan tanah. Beberapa mengering, hingga seluruh telapak kakiku memijak pada pasir padat yang tidak lagi sejuk, namun amat dingin. Setiap butirnya adalah kristal es yang remuk dan ditebarkan secara sengaja oleh Sang Dewi Malam, peringatan pada mereka yang ingin memasuki lapis keempat, tanda bahwa Drumdaara tak lagi melindungi. ‘Kali ini kau seorang diri’

Suara Mahasiswa Januari 7, 2013

Badanku bergidik perlahan, ketika kuangkat kepalaku dan menyadari sebuah pemandangan yang tak kusangka akan datang. Disana aku melihat ujung kanopi, dedaunan terakhir dari tanah suci, bukti pasti bahwa telah kumasuki langit selanjutnya, dan disini, seperti kata Kepala Desa, terhampar tanah peperangan tanpa akhir. Tidak ada bayi yang lahir, tidak ada pula yang pernah hidup terlalu lama untuk menjadi tua. Sebuah keluarga Peri yang dititahkan sebagai penjaga tinggal disini, seratus tiga puluh juta adalah jumlah yang tidak sedikit untuk jatuh setiap hari. Namun toh mereka tidak pernah bersemayam terlalu lama, mereka bangkit kembali di setiap malam, untuk kembali hunuskan petir-petir, kembali berbaris layaknya prajurit yang setia, kembali menabuh genderang perang, teriakkan perlawanan pada kekaisaran ruang hampa.

Begitu banyak kematian, namun aroma yang akan tercium adalah aroma peperangan.  Begitu banyak teriakan, namun suara yang bisa kau dengar hanyalah suara peluru menghantam batu, kemudian tulang rusuk yang luluh lantak diterpa serangan bertubi antariksa. Begitu luas hamparan pasir, tapi matamu terpaku pada tiga tembok yang berdiri kokoh, yang runtuh namun terus dibangun, yang mati-matian berusaha menahan gempuran Zallaka, Sang Taring Pasir. Ketiga benteng beserta isinya, yang dikutuk untuk hidup selamanya.

Untuk mereka yang tak hidup, untuk mereka yang tak bisa menikmati mati.

Begitu lama aku tenggelam dalam cerita Kepala Desa, hingga tak kusadari sekujur badan telah mengigil cukup lama, tanda bahwa kakiku telah berjalan cukup jauh meninggalkan pohon utara. Jiwa yang gemetar membuat pandanganku luput. Akan perubahan sekitar, akan ranting yang tak lagi bergururan, akan sebuah kenyataan bahwa tiga lapis pertama telah kutinggalkan. Diriku yang dahulu penuh takut takkan lagi lagi kutemui. Hilang, pergi bersama indera yang dihancurkan, bersama sejuta ingatan tentang malam, bersama kebijaksanaan yang diam.

inilah titik mula sebuah perjuangan. Kutatap sekitar yang sekarang gersang, membisikkan kehancuran yang tak kunjung henti, pedang kilat dan tameng berbatu saling rajam, janjikan huru-hara dan siksa tak terhingga. Namun jantungku berdegup sunyi. Tidak ada ledakan perasaan, lenyaplah kekhawatiran, diriku sekarang melanglang dalam tenang. Akhirnya kusadari, telah sepenuhnya kudapatkan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghentikan bahkan peperangan terbesar. Meski tanpa tahu sebesar apa lawan yang menanti.

Dan lorong itu berakhir.

Relief pun berhenti bercerita, tidak ada lagi jalan yang terapit dua dinding, hanya bangunan batu menjulang di kejauhan yang berdiri angkuh mengisi pojokan pojokan dunia. Susunan balok saling silang tertanam sebagai elemen dasar, bertemu dengan serbuk mengkilap yang menyelimuti sekujur tubuh sang tembok, seperti daging pada tulang endoskeleton yang pengecut. Namun serbuk ini tidak menghilangkan struktur dasar tulang sebagaimana kulit terhadap daging, serbuk ini begitu lembut, memancarkan cahaya dan bersinar begitu indah sebagaimana rendah hatinya. Meski aku tahu menyentuhnya sama dengan mati kejang.

Tiap butirnya menyimpan tegangan seratus dua puluh juta volt, serta arus suara sekuat seratus dua puluh desibel. Butiran ini tidak berbicara, tenang dalam bungkam namun dengan harga sebuah sentuhan, kau bisa buat mereka mengaum dengan geram. Bising yang menumbuk susunan tulang, menghantam tubuh dengan brutal, karena di titik tersebut, bunyi yang membahana tak hanya meminta telinga sebagai korban. Aku pun sadar benar setelah itu, ketiga benteng yang berdiri ini bukan hanya berusaha menghalau sesuatu dengan kekuatan tak terkira, namun untuk menahan sesuatu yang bukan manusia, sesuatu yang tidak akan tumbang bahkan dengan gempuran lembing petir.

Sayup-sayup terdengar bunyi genderang. Perlahan mengeras, juga tanah berpasir yang sekarang bergetar bersiap memuntahkan prajurit prajurit terkuatnya. Dan langit pun berseteru hebat, ketika suara terompet memekakkanku, membangkitkan para peri penenun petir.

Suara besi yang saling hantam, dijawab gemuruh halilintar setiap kali tombak petir itu ditempa. Mesin tenun raksasa berdiri jauh di belakangku, dengan peri-peri dan sebuah paron yang terpintal erat dalam lautan benang, menyatu dan menjadi pusat dari sang mesin. Sarung tangan besi melapisi kedua tangan peri-peri penempa, panjang tulang mereka korbankan untuk mengisi tubuh yang padat dengan otot-otot, bukti bahwa telah mereka angkat martil raksasa itu semenjak bahkan waktu masih dalam kandungan. Beberapa dari mereka yang tidak menempa berdiri di kedua sisi mesin penenun sambil terpejam merapal mantera ke arah sudut tembok, mereka gerakkan tangan dengan pola tertentu sambil sesekali terpaksa melayang. Serbuk-serbuk mengkilat yang sebelumnya melapisi tembok pun seolah terhirup, berterbangan sesuai gerakan tangan Sang Pemintal Benang, menyerap ke dalam mesin penenun dan siap untuk ditempa menjadi senjata.

Betapa aku percaya, bahwa ketakutan telah kutinggalkan, kebijaksanaan telah kupahami, dan cara guna indera langit telah kuketahui. Namun hatiku bergetar, dalam beberapa mikro detik setelahnya jaringan ototku pun melemas dan kehilangan tenaga. Aku melihat dunia, namun tak mampu memahaminya. Aku ketakutan. Entah apa yang akan mereka lawan, para peri berperangai mengerikan terlihat bersiap menghadapi sesuatu yang tak tergambarkan. Sulit kupahami apa yang mampu membuat mereka cukup takut hingga mendirikan menara-menara perang yang menjulang. Pada pijakan tertingginya para pelempar berdiri.

Puluhan lembing besar di punggung mereka, dua diantaranya telah mereka hunuskan dan siap dilontarkan. Dengus nafas mereka menggema, menjadi aba-aba untuk regu kedua bangkit dengan kabut besar di punggung mereka. Tubuh pasukan kedua yang nyaris tanpa otot membuat langkah mereka seolah melayang. Dengan mudahnya mereka menyeruduk maju ke garis depan, membawa lapisan kabut yang membentuk tirai. Sebuah pertahanan demi membutakan lawan.

Setelah itu raungan.

Langit muntahkan bebatuan, butiran kristal yang menjadi pasir beterbangan.

Peperangan akhirnya dimulai.

Info lebih lanjut :

@taraksa_
@majalahEPIK
www.facebook.com/TeaterEPIK
www.majalahepik.com

Continue Reading

Previous: Taraksa #4: Yang Diam
Next: Taraksa #5 : Yang Bertahan, Bagian 2

Hal Terkait

Crypto: Inovasi Besar yang Datang Terlalu Cepat untuk Indonesia?
  • Kontributor
  • Opini

Crypto: Inovasi Besar yang Datang Terlalu Cepat untuk Indonesia?

Desember 12, 2025
InvestSiswa dan Masa Depan Literasi Keuangan Pelajar Indonesia
  • Kontributor
  • Opini

InvestSiswa dan Masa Depan Literasi Keuangan Pelajar Indonesia

Desember 5, 2025
Tersandung Syarat Dunia Kerja
  • Kontributor
  • Opini

Tersandung Syarat Dunia Kerja

Agustus 4, 2024

Zine Lawan Edisi April 2025

You may have missed

Mahasiswa Refleksikan Penyerangan Aparat melalui Diskusi, “Merawat Ingatan & Lawan Balik”
  • Berita
  • Berita Kampus

Mahasiswa Refleksikan Penyerangan Aparat melalui Diskusi, “Merawat Ingatan & Lawan Balik”

April 19, 2026
Analisis Pandangan Netizen terhadap Konflik K-Netz vs SEAblings di Media Sosial
  • Advertorial

Analisis Pandangan Netizen terhadap Konflik K-Netz vs SEAblings di Media Sosial

April 11, 2026
BEMU Fokus Rampungkan Program Kerja di Sisa Masa Kepengurusan
  • Berita
  • Berita Kampus

BEMU Fokus Rampungkan Program Kerja di Sisa Masa Kepengurusan

Maret 18, 2026
Sunyi di Gema Takbir Lewat Single Ala Dongker
  • Berita
  • Berita Harian

Sunyi di Gema Takbir Lewat Single Ala Dongker

Maret 17, 2026
Copyright © 2025 Pers Suara Mahasiswa Unisba, All rights reserved. Dari Mahasiswa Untuk Kemanusiaan | DarkNews by AF themes.