Lika-liku Pembentukan Prodi di Fikom

Proses Milad Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) ke-36 di Gd. Kartimi Kridoharsdjo, Jalan Tamansari No. 1, Kota Bandung pada Rabu (26/6/2019). (Puteri Redha Patria/SM)

Suaramahasiswa.info, UnisbaFakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) sudah menginjak usia ke-36 tahun pada Rabu (26/6). Dalam usia lanjutnya itu, Fikom menggelar acara di Gd. Hj. Kartimi Kridoharsdjo, Jalan Tamansari No. 1. Tentunya Fikom punya keinginan lebih baik dalam segi apapun, salah satunya pembentukan program studi (prodi) baru. Lantas kenapa hingga kini belum juga terealisasi?

Dekan Fikom, Septiawan Santana mengatakan kini Fikom sedang menyiapkan prodi baru. Dalam prosesnya, dekanat bertugas mendorong bidang kajian [konsentrasi] untuk membuat prodi. “Namun, lebih baik Fikom membuat prodi dan konsentrasi baru seperti film, televisi dan lain-lain,” ucapnya. Pelaksanaannya, menurut Septiawan, setelah akreditasi fakultas selesai.

Dalam membuat prodi, terdapat sembilan poin yang harus dipenuhi. Wakil Dekan I Fikom, Ani Yuningsih menuturkan di antaranya: (1) visi, misi, dan strategi, (2) tata kelola dan keorganisasian, (3) kemahasiswaan, (4) sumber daya mahasiswa, dosen dan tenaga pendidik (tendik), (5) kurikulum dan proses pembelajaran, (6) sarana dan prasarana dan IT atau laboratorium, (7) penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), (8) kerjasama internasional, (9) penerbitan, penelitian dan PKM internasional.

“Kami menyarankan kepada bidang kajian untuk studi kelayakan mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya. Ternyata kajiannya belum selesai dan baru tertangkap resiko yang tinggi dibanding keuntungannya,” tuturnya saat ditemui di ruangannya, Gedung Fikom, Jalan Tamansari No. 1 pada (28/6).

Beda Persiapan Tiga Bidang Kajian

Ketua bidang kajian Manajemen Komunikasi (Mankom), Zulfebriges menjelaskan jika kesepakatan diawal dari mulai persiapan, pelaksanaan sampai hasil akhir, tiga bidang kajian berjalan bersama. Mankom, menurut Zul belum memulai karena panitia pembentukan prodi telah dibentuk tetapi belum berjalan.

Selain itu, menurut Zul pembentukkan prodi ini beresiko bagi para mahasiswa. “Resiko pada mahasiswa yang mau lulus jika kita akan menjadi prodi maka nanti lulusannya Akreditasi C. Itu resiko yang masih sangat dipertimbangkan oleh fakultas.”

Ketua Bidang Kajian Hubungan Masyarakat (Humas) mengaku siap untuk menjadi prodi karena dirasa bobot dosen, sarana prasarana dan dana sudah terpenuhi. “Paling memungkinkan tahun depan sudah serius mulai berjalan mempersiapkan prodi. Bidang kajian yang dirasa paling sanggup duluan, ya lebih baik maju, karena mungkin lebih baik satu-satu aja,” ujarnya.

Berbeda dengan Ketua Bidang Kajian Jurnalistik, Yenni Yuniati yang ingin lebih dulu melakukan riset pasar untuk memastikan jurusan jurnalistik masih diminati oleh masyarakat. Bidang Kajian Jurnalistik juga harus menghadapi masalah internalnya, yakni tidak semua dosen jurnalistik menginginkan pembentukan prodi.

“Masih ada perdebatan mengenai nama dan nilai jual. Begitupun jumlah mahasiswa jurnalistik yang notabene sedikit.”

Reporter: Puteri Redha Patria

Penulis: Puteri Redha Patria

Editor: Febrian Hafizh Muchtamar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *