STUBA Unjuk Gigi Lewat Pagelaran Aksidental

STUBA hadir kembali dengan pegelaran bertajuk “Siapa Yang Akan Datang?” Kamis (20/2). Berbeda dengan penampilan sebelumnya, kini STUBA mengambil tempat pegelaran di lorong Aquarium Unisba. 

Suaramahasiswa.info, Unisba – Studi Teater Unisba(STUBA) kembali menampilkan sebuah pagelaran bertajuk “Siapa Yang Akan Datang?”pada Kamis (20/2) di lorong akuarium Unisba. Pertunjukan yang diperankan oleh Riman, Alif, dan Pasa, ini memunculkan sisi gelap dari kehidupan. Tampilan artistik, interior dan design, serta properti yang digunakan oleh pemain mampu menghidupkan juga memperkuat karakter yang dilakoni.

Teater ini menceritakan tentang pembunuh yang menyimpan dendam dan ketidaksukaan pada seorang tokoh terkenal. Cerita dimulai ketika seorang kakek muncul dan duduk dalam amarahnya di sebuah kursi, lalu muncul seorang akuntan dan anak muda yang menunggu kereta datang. Mereka saling adu mulut dan saling tuduh dalam sebuah penantian.Klimaks cerita terjadi saat anak muda dibunuh oleh seorang kakek dan akuntan yang ternyata adalah pembunuh.

Tujuan utama diadakannya pertunjukkan ini selain sebagai bentuk hiburan merupakan bentuk nyata dari rasa rindu anggota STUBA untuk mengolah rasa, rupa, dan karsa mereka dalam bermain peran, juga sebagai bentuk inisiatif. “Mudah-mudahan pagelaran ini dapat menginspirasi anggota STUBA yang lain, calon anggota STUBA, dan masyarakat pada umumnya untuk terus berkreasi dan tidak pernah puas,” tukas Riman selaku pemain dan ketua STUBA.

Meskipun pertunjukkan ini dibuat dua hari sebelum hari-H, tanpa naskah dan tanpa sutradara, namun acara ini berhasil dikemas dengan baik dan cukup menarik animo partisipan. “Kita bikin acara ini cuman berpatok pada poster, lalu kita bertiga (Riman, Alif, dan Pasa) berdiskusi buat cari benang merahnya. Rasanya selesai tampil tuh, saya seneng dan kepengen tampil lagi. Kita jadi lebih waspada juga berimajinasi saat tampil di depan karena tanpa naskah,”ungkap Riman lagi.

Panonton yang cukup memadati lorong akuarium pun rupanya menyimpan kesan masing-masing setelah menyaksikan pagelaran. “Setelah saya nonton pertunjukan teatrikal ini, wawasan saya semakin terbuka dan saya semakin menyadari bahwa teatrikal itu menarik dan menyampaikan pesan tertentu,” ujar Zaelani, mahasiswa FIKOM angkatan 2012. (Faza R./SM)