Suasana lenggang Gedung Ahmad Sadali (Gedung Akuarium) Unisba dengan vending machine dan mesin kopi otomatis di Jl. Tamansari No.1 Kota Bandung pada Selasa, (24/6). (Foto: Dandi Pangestu Rusyanadi/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba– Universitas Islam Bandung (Unisba) menunjukan komitmennya dalam mewujudkan pelestarian lingkungan dengan menerapkan program yang mengacu pada konsep Green Campus atau biasa dikenal Eco Campus. Meski berbagai hal telah dilakukan, evaluasi terhadap pencapaian indikator tersebut masih menuai pertanyaan.
Green Campus merupakan konsep pengelolaan lingkungan di perguruan tinggi untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan sivitas akademika. Melalui penerapan nilai-nilai keberlanjutan dalam kebijakan, tata kelola, dan aktivitas Tridharma, kampus diharapkan tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Penerapan konsep Green Campus menjadi langkah tepat dalam mendukung upaya keberlanjutan lingkungan sekaligus menciptakan ekosistem akademik yang sehat. Selain mengurangi emisi karbon, konsep ini juga mendorong efisiensi energi, konservasi air, pengelolaan limbah serta menyediakan ruang hijau yang menunjang peningkatan kualitas udara dan kenyamanan dalam proses belajar.
Indikator Green Campus
Sebagai wujud nyata komitmen pada prinsip berkelanjutan, perguruan tinggi dituntut untuk mengelola berbagai aspek secara menyeluruh dan berkesinambungan. Hal ini tercermin dalam penerapan konsep Green Campus yang merujuk pada indikator, seperti kebijakan pengelolaan lingkungan, konservasi sumber daya (air, kertas, listrik), peningkatan ruang hijau, dan bangunan ramah lingkungan.
Tak hanya itu, konsep ini juga mencakup peran kampus dalam membangun kesadaran lingkungan. Kampus didorong untuk menjadi area bebas asap dan polusi, sekaligus aktif dalam memberikan edukasi lingkungan serta melibatkan seluruh sivitas akademika dalam upaya pelestarian lingkungan.
Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Clean And Green (CNG) Unisba, Mohamad Satori mengatakan, konsep Green Campus ini telah ada sejak 2005 sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Tujuannya untuk menciptakan suasana yang lebih asri, menumbuhkan budaya cinta lingkungan di kalangan sivitas akademika, dan memperkuat citra Unisba sebagai kampus islami yang peduli lingkungan.
Sementara itu, ketua CNG Unisba, Muthi Khairunnisa Aiman menilai penerapan konsep Eco Campus di Unisba sudah berjalan dengan baik. “Alhamdulillah, dari mahasiswanya udah pada bawa tumbler sendiri jadi mengurangi sampah plastik,“ ucapnya saat diwawancarai pada Jumat, (20/6).
Tantangan Menerapkan Green Campus
Meskipun menawarkan banyak manfaat, penerapan konsep Green Campus di lingkungan perguruan tinggi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya, terletak pada pembangunan infrastruktur ramah lingkungan yang memerlukan investasi awal yang besar. Selain itu, masih rendahnya kesadaran sivitas akademika dan terbatasnya akses terhadap teknologi hemat energi pun turut menghambat penerapan konsep ini secara menyeluruh.
Adanya kerusakan pada sejumlah fasilitas Smart Water Station (SWS) di beberapa titik lingkungan kampus juga dapat meningkatkan penggunaan sampah plastik minuman kemasan. Kerusakan ini berpotensi menghambat akses mahasiswa terhadap fasilitas isi ulang air yang mendukung gaya hidup ramah lingkungan.
Selain itu, Satori ungkap bahwa penerapan konsep Green Campus di Unisba masih dihadapi dengan berbagai hambatan. “Kebijakan pimpinan yang belum sepenuhnya mensuport, SDM (Sumber Daya Manusia-Red) yang masih minim, sarana prasarana yang masih minim, kepedulian dan sosialisasi kepada masyarakat kampus yang masih kurang, “ ungkapnya saat diwawancarai pada Jumat, (20/6).
Kendala lain yang masih terlihat di lapangan, yakni belum meratanya ketersediaan sampah terpilah. Muthi menuturkan, kesadaran mahasiswa dalam memilah sampah masih tergolong rendah. “Masih banyak yang buang sampah sembarangan, bawa makanan ke ruang kuliah, bahkan merokok di area kampus,” ucapnya.
Senada dengan Muthi, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba, Syaifa Nazwa menilai bahwa penerapan konsep Green Campus yang dilakukan Unisba masih belum sepenuhnya sempurna. Ia menyoroti, kurangnya penekanan kepada mahasiswa untuk menerapkan konsep ini serta minimnya aksi nyata seperti seminar atau kegiatan edukatif.
Dampak Green Campus
Penerapan Green Campus dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan kampus. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, Green Campus dapat meningkatkan reputasi kampus, menarik minat calon mahasiswa yang peduli lingkungan, serta menciptakan budaya keberlanjutan di kalangan sivitas akademika.
Secara akademis, keberhasilan penerapan program Green Campus bergantung pada berbagai faktor. Hal ini mencakup terlibatnya seluruh pemangku kepentingan, ketersediaan sumber daya yang memadai, serta edukasi dan pelatihan berkelanjutan bagi seluruh anggota komunitas kampus.
Selanjutnya, penerapan teknologi ramah lingkungan, peningkatan efisiensi energi, dan pengelolaan limbah yang efektif pun menjadi hal penting dalam strategi Green Campus. Pendekatan tata kelola perubahan yang sistematis dan terencana dapat mencapai tujuan keberlanjutan jangka panjang.
Upaya Kampus Mewujudkan Green Campus
Menyadari masih adanya celah dan tantangan dalam mewujudkan kampus ramah lingkungan, Unisba terus menggali langkah progresif. Berbagai program berupa edukasi dan sosialisasi gencar dilakukan guna meningkatkan kesadaran sivitas akademika akan pentingnya keberlanjutan lingkungan.
Meski begitu, Unisba telah memiliki inisiatif pengelolaan sampah organik melalui program bank sampah yang terpusat di belakang sekretariat CNG atau dikenal dengan Bata Terawang. Melalui program tersebut, sampah organik diolah menjadi kompos yang mencerminkan inovasi kampus dalam pengelolaan limbah berkelanjutan.
Satori berharap program Eco Campus dapat menjadi kebijakan strategis di bawah kepemimpinan rektor baru, dengan dukungan penuh dari seluruh sivitas akademika dan pengelolaan yang lebih terintegrasi. “Program Eco Campus harus menjadi kebijakan Rektor baru dengan semangat Islam Rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, harus diwujudkan baik dalam hal manajemen pengelolaan maupun pembiayaan,“ pungkasnya.
Di sisi lain, Muthi dan Syaifa berharap kesadaran lingkungan dapat tumbuh dari masing-masing individu. Menurut mereka, keterlibatan seluruh sivitas akademika penting agar program Green Campus bisa berjalan lebih maksimal.
Reporter: Violetta Kahyang Lestari Fauzi, Siska Vania, & Dandi Pangestu Rusyanadi/SM
Penulis: Siska Vania/SM
Editor: Linda Puji Yanti/SM
