Potret wilayah Parkir Kantin Deret (Kander) Universitas Islam Bandung (Unisba) sebagai Tempat Terduga Kejadian Kekerasan terhadap H, pada Selasa, (5/8).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Seorang mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Bandung (Unisba) dengan inisial H menjadi korban pengeroyokan saat dini hari di area kampus pada Minggu, (27/7). Kini, kasus tersebut sedang ditangani oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Unisba.
Ketua Satgas PPKPT Unisba, Ade Mahmud menyebutkan bahwa motif dalam kasus ini masih dikaji lebih lanjut. “Motif yang kami terima ada motif dendam, ada motif asmara, itu sih, yang saya terima. Kita akan tanyakan tapi itu bukan kejadian yang penting. Bagi kami yang penting adalah peristiwa itu ada dan siapa yang terlibat di Unisba,” jelas Ade saat diwawancarai pada Kamis, (31/7).
Untuk sementara ini, kasus tersebut sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut dan telah meminta klarifikasi dari sejumlah pihak yang berada di lokasi kejadian. Selain itu, Satgas PPKPT Unisba juga melakukan kerja sama dengan kepolisian setempat.
“Pemeriksaan itu bekerja sama dengan Kepolisian Bandung Wetan dan belum melakukan kesimpulan apapun. Kami juga bertukar dan memberikan informasi kepada kepolisian, jadi insyaallah kita cari jalan yang terbaik ini untuk penanganan kasus ini,” kata Ade.
Kepolisian Sektor (Polsek) Bandung Wetan ketika dihampiri oleh Suara Mahasiswa pada, Senin (4/8) menyatakan jika pihak mereka belum dapat menyimpulkan dan memberikan pernyataan atas kasus tersebut sebab masih dalam proses penyidikan. Pihak Polsek juga mengatakan jika akan ada kemungkinan perilisan pers rilis oleh Kepolisian Resor (Polres) terkait kasus kekerasan yang menimpa H.
Selain itu, Suara Mahasiswa juga telah berupaya menghubungi kembali Ketua Satgas PPKPT untuk meminta tanggapan lebih lanjut terkait kasus ini. Namun, hingga berita ini diterbitkan konfirmasi belum diperoleh.
Kronologi Kekerasan Terhadap H
Terkait kronologi, Ade sendiri menyatakan bahwa pihaknya belum mengetahui detail terkait kekerasan tersebut dan masih diperlukan konfirmasi lebih lanjut kepada para saksi. Kini, para saksi telah diminta keterangan untuk mengonfirmasi siapa saja yang berada di tempat perkara.
“Ada informasi, satu dari fakultas teknik satu dari fakultas ilkom (Ilmu Komunikasi-Red). tapi itu sedang dimintakan klarifikasi apakah itu betul atau ini dari masyarakat luar yang bergabung di tempat perkara. Nah, itu sedang dimintai keterangan dari yang dilaporkan, apakah betul dari fakultas tertentu di Unisba atau memang meminta bantuan dari kelompok-kelompok di luar unisba,” Tegas Ade pada Kamis, (31/7).
Terkait hal tersebut, Suara Mahasiswa juga telah menghubungi Wakil Dekan (Wadek) III FH, Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom). Namun, hingga berita ini terbit, pihak terkait enggan untuk menanggapi hal tersebut.
Adapun, Jimmy (Bukan nama sebenarnya) selaku saksi mengatakan jika kejadian kekerasan tersebut terjadi di sekitar Kantin Deret (Kander) Unisba tepatnya di belakang warung roti bakar Mang Ade pada Minggu, (27/7) sekitar pukul satu dini hari. “Kok ada yang ribut ya, ribut nya gede. Takut, kan, ternyata ada orang dikeroyokin sampai babak belur,” tuturnya saat diwawancarai pada Jumat, (1/8).
Jimmy mengira asal suara tidak jelas tersebut berasal dari orang yang sedang dalam kondisi mabuk, mengingat situasi seperti itu dinilai biasa terjadi di area luar kampus yang cenderung sepi. Ia juga menyebut, ada sekitar 15 orang yang terlibat termasuk dua perempuan yang tidak mengenakan kerudung.
Lebih lanjut, Jimmy mengatakan jika ia hanya menyaksikan bagian akhir ketika H sedang dipukuli. “Aku malah liatnya cuma di akhir doang, digebuk, habis itu udah beres. Mereka tuh mukulinnya, kayak udah terbiasa,” ucapnya.
Selain itu, Jimmy ungkap bahwa tidak ada kehadiran dari pihak satpam maupun polisi saat kejadian berlangsung, akan tetapi terdapat beberapa warga daerah Tamansari yang menghampiri. “ Jaraknya sama tempat sana (Pos satpam-Red) itu nggak kedengeran, dia udah bonyok, disuruh balik sama satu dua warga kan, kasian juga,” jelasnya.
Kejadian tersebut terekam oleh Closed-Circuit Television (CCTV) yang ada di daerah Ruang Sekretariat Resimen Mahasiswa (Menwa) Unisba. Namun, Suara Mahasiswa tidak diizinkan untuk mengakses rekaman CCTV tersebut.
Sikap Satgas PPKPT
Selaku ketua Satgas PPKPT, Ade menuturkan akan terus mengembangkan kasus kekerasan tersebut sejelas-jelasnya. “Kita akan terus koordinasi dengan kepolisian untuk ungkap keterangan dari saksi-saksi yang bukan hanya dua tiga, ya. Kalau memang ada di tempat kejadian itu belasan, ya mungkin siapa aja yang disampaikan oleh saksi maka itu yang akan undang untuk memberikan klarifikasi,” tutur Ade pada Kamis, (31/7).
Ade juga menegaskan, sebelum seluruh fakta dari saksi serta informasi dari kepolisian dikumpulkan, pihak Satgas PPKPT belum dapat mengambil langkah lebih jauh terkait penyelesaian kasus. Semua keputusan tersebut sepenuhnya akan bergantung pada fakta-fakta yang terungkap dan kesediaan para pihak yang terlibat.
Berdasarkan postingan yang diunggah pada akun instagram Unisba dan Satgas PPKPT Unisba, pihak kampus telah melakukan langkah-langkah untuk menangani kasus tersebut. Yakni, melaksanakan tahapan klarifikasi awal dengan memanggil pihak-pihak terkait, berkoordinasi dan berkomunikasi dengan polsek setempat serta orang tua korban pun pelaku.
Selanjutnya, perkara tersebut telah dilaporkan kepada aparat penegak hukum dan sedang ditangani oleh polsek setempat. Lebih lagi, Unisba telah melaksanakan langkah-langkah sesuai prosedur hukum sebagaimana telah diatur dalam perundang-undangan yang berlaku.
Atas peristiwa ini, Ade berharap kasus tersebut dapat diselesaikan secara baik-baik. “Selesai baik-baik, untuk menjaga kepentingan pelaku terduga, pelaku, korban dan juga untuk kepentingan kita semua.” Tutupnya.
Reporter: Muhammad Chaidar Syaddad & Linda Puji Yanti/SM
Penulis: Alfira Putri Marcheliana Idris/SM
Editor: Adelia Nanda Maulana/SM
