Gedung SC pun seakan diserang oleh puluhan, bahkan ratusan mahasiswa untuk menyambung pendidikan mereka di kampus biru ini. Berdesakan adalah gambaran dari realitas rumitnya birokrasi di kampus Unisba. Penuh sesak, keadaan semerawut bagai benang kusut yang tak dapat digulung lagi. Sindiran dan keluhan berdatangan kepada pihak kampus. Namun, hal yang menjadi angan-angan ini hanya isapan jempol belaka.
Cukup! Persoalan yang sama kembali merebak ke permukaan. Mahasiswa yang selalu ‘menanti’ hingga akhir masa penyerahaan uang, menjadi faktor kecil namun vital adanya. Keluh kesah pada pihak pengelola selalu terlontar dari mulut indah tiap mahasiswa yang mengantri. Lembar demi lembar, menjadi jembatan untuk para mahasiswa meraih gelar sarjana mereka.
Sebenarnya siapa yang harus disalahkan? semua merasa benar jika ditanya mengenai hal seperti ini. Hanya pihak pengelola yang dapat menyelesaikan permasalahan ini, tapi jika para ‘agen perubahan’ masih ‘menanti’ akan detik-detik akhir, masalah ini tidak akan ada habisnya. Mencari jarum dalam

