AJI Tuntut Penyelesaian Diskriminasi Pers

 

 

 

Teks oleh : Karel

Foto oleh : M.Ghafur F

 


IMG 97171

 


Salah seorang anggota AJI yang memegang poster menolak impunitas terhadap jurnalis, Bandung (3/5).


Bandung, SM– Hari Kebebasan Pers Internasional yang jatuh pada 3 Mei di warnai
dengan aksi sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) di Gedung Sate Bandung (3/5).

Mereka melakukan aksi demo dan tutup mulut untuk menuntut hak jurnalis terkait kasus pembunuhan dan diskriminasi yang terjadi terhadap pers di Indonesia. Para pendemo memulai aksinya dengan menutup mulut mereka memakai plester berwarna hitam, sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang tidak mengusut tuntas delapan kasus pembunuhan para jurnalis. 

Salah satu anggota AJI regional Bandung, Adi Marseila, mengungkapkan peringatan Hari Pers Internasional adalah sebuah peringatan bahwa pers dan masyarakat mempunyai hak untuk menyampaikan pesan.  Menurutnya, saat ini kondisi penyampaian pesan di Indonesia dirasa sangat kurang, terbukti dari tahun 1996-2011 telah terjadi 8 kasus pembunuhan terhadap jurnalis yang kasusnya belum terungkap sampai saat ini. “Seperti yang kawan-kawan tahu, kasus Fuad Muhammad Syarifuddin jurnalis harian Bernas tahun 1996. Beliau meninggal
ketika meliput kasus korupsi di Bantul”, ucapnya.

Selain aksi tadi, Mat Don dari Majelis Sastra Bandung (MSB) sempat membacakan sebuah sajak yang bernama “Sakaratul Cinta”. Sajak tersebut berisikan keluhan yang menilai pemerintah seenaknya memimpin bangsa ini.  “Jika wartawan dijadikan budak belian dan umpan saja itulah sakaratul cinta”, itulah beberapa kutipan sajak tersebut.