Sesi pertunjukan Maem Mendut #3 di Selasar Sunaryo, Bandung, Rabu (11/6). Penonton di buat berekspetasi sebebas mungkin akan maksud dari jalan cerita yang disajikan. (M. Roby Iskandar/SM)
Suaramahasiswa.info-Bandung, Pergelaran teater garapan Sugiyanti Ariani, Maem Mendut #3 “Semangka Pati” terinspirasi dari cerita legenda Jawa, berceritakan seorang wanita yang hidup di tengah sebuah rezim pemerintahan yang mewajibkan upeti pada rakyatnya. Uniknya tak semua jalan cerita disajikan secara apik di pergelaran ini. Penonton diajak untuk merangkai jalan cerita dari tiap gerak, mimik, ekspersi serta latar yang disajikan di panggung.
Semangka Pati adalah sequel ketiga dari Maem Mendut yang menceritakan jalan cerita secara acak . Ariani sendiri menegaskan karyanya ini adalah upaya untuk berbagi imaji tentang karakter perempuan lewat medium laki-laki dengan penonton, selanjutnya terserah, tergantung selera masing-masing audience. “Mendut seperti halnya semangka, hijau, putih, hitam dan begitu berair. Keras dan lembut secara bersamaan, begitu lembut dan pasu” ungkap mahasiswi STSI Bandung ini.
Kurang lebih selama 4 bulan, Ariani dan kawan-kawannya menghabiskan waktu untuk menggarap pementasan ini. Ia mengaku, semua itu terbayar melihat antusiasme penonton di pegelaran hari pertama. “Aku deg-degan dan bersyukur banget,” ujar wanita berambut pendek tersebut.
Diakhir wawancara, Ariani berpesan untuk kawan-kawan yang ingin berkarya dibidang teater. Ia menganjurkan untuk tetap terus mencoba dan jalin komunikasi dengan rekan-rekan karena bidang ini tidak bisa mengandalkan kerja individual, yang lebih penting adalah jangan takut untuk di kritik. (M. Roby Iskandar/SM)
