Suasana aksi solidaritas Hari Anti Bhayangkara ketika salah satu masa aksi sedang berorasi di Taman Cikapayang Jl. Ir. H. Juanda No.79, Kota Bandung pada Selasa, (1/7). (Foto: Muhammad Chaidar Syaddad/SM).
Suaramahasiswa.info, Unisba- Berbagai elemen mahasiswa dan kolektif menggelar aksi solidaritas bertajuk “Bebaskan 7 Kawan Kami” pada Selasa, (1/7) di Taman Cikapayang Jl. Ir. H. Juanda No.79, Kota Bandung. Aksi tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara dengan mengkritisi kinerja dari kepolisian dan menuntut pembebasan rekan mereka yang ditahan secara paksa.
Hal ini dikonfirmasi oleh perwakilan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Ahmad Sajali bahwa momentum hari jadi kepolisian bukan seharusnya untuk dirayakan. “Kita lihat betapa megahnya perayaan di Jakarta, dua tahun lalu mengundang Slank dan tahun ini Iwan Fals. Padahal, momentum ini (seharusnya, Red) dipakai untuk mengevaluasi dan mengoreksi. Banyak permasalahan hukum yang diakibatkan sama mereka,” jelas Ahmad saat diwawancarai pada Selasa, (1/7).
Ahmad melanjutkan jika nyatanya, banyak masyarakat yang menjadi korban kejahatan seperti pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan yang tidak di usut tuntas kasusnya oleh aparat. Ironisnya, dalam beberapa kasus justru tercatat bahwa aparat kepolisian sendirilah yang terlibat dalam berbagai pelanggaran hukum dan tindak kekerasan pada masyarakat.
Aksi ini sendiri diinisiasi oleh sejumlah elemen mahasiswa dan kolektif yaitu, Non Governmental Organization (NGO), Koalisi Kertas Putih, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, KontraS, serta Kamisan Bandung. “Emang warga-wargi bandung nih salut ya anak mudanya, juga banyak yang emang udah organisir sendiri saling belajar satu sama lain, sehingga ya untuk acara-acara kayak gini Insyaallah mudah didukung,” tutur Ahmad.
Selain itu, aksi ini dihadiri oleh berbagai kelompok organisasi anak muda dan mahasiswa. Tidak hanya itu, beberapa band seperti Dongker, I Hate Summer, Abah Omtris, dan penampilan dari Teater Serum. Lalu beberapa lapakan juga hadir, yakni Rise Above Media, Bale Selesa, Flower Bomb, serta lapakan lain pun ikut meramaikan aksi tersebut.
Ahmad berharap, masyarakat menjadi lebih berani dalam menyuarakan kebenaran meskipun banyaknya tindak represifitas dari aparat kepolisian kepada masyarakat. “Semoga ini bisa jadi pintu gerbang lagi untuk menyemarakkan aksi-aksi nya kembali, saling bersolidaritas satu sama lain, bangun komunikasi untuk mewujudkan apa yang diinginkan, tegaknya hak asasi dan demokrasi di Indonesia,” ucapnya.
Salah satu massa aksi Azhar Zulfikar, mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (Unikom), mengungkapkan bahwa aksi ini dilakukan untuk memperingati kekerasan yang pernah dilakukan oleh aparat kepolisian, termasuk tragedi Kanjuruhan. “Kalo buat aku mah, itu selalu inget aja bahwa si polisi itu pernah melakukan kejahatan kepada rakyat,” ujar Azhar.
Selaras dengan Azhar, Tebetihan, mahasiswa Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) ikut menjelaskan aksi ini sebagai salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi. Terutama dalam menyuarakan kekecewaan atas kinerja kepolisian yang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku.
Tebetihan berharap masyarakat lebih sadar akan permasalahan yang terjadi saat ini. “Dengan adanya aksi ini, kami tetap terjaga semangatnya, tetap aware dengan keadaan juga, kami senantiasa menyuarakan terus menerus. Apabila di atas sana tidak melihat aksi-aksi kami, maka kami pastikan kedepannya akan melakukan gebrakan yang lebih besar lagi,” pungkasnya.
Reporter: Wiam Fadlul Rahman/SM
Penulis: Nabila Siti Nurfadilah/SM
Redaktur: Sopia Nopita/SM
