Skip to content
Suaramahasiswa.info

Suaramahasiswa.info

Nakal, Tajam, Menggelitik

  • Berita
  • E-Magz
  • Varian
  • Alternatif
    • Artikel
    • Kontributor
    • Curhat
    • Opini
    • Sastra
    • Release
    • Review
    • Advertorial
  • Galeri
  • Editorial
  • Ketentuan Menulis
  • Tentang Kami
SMTV
  • Home
  • Berita
  • Berita Harian
  • Perahu Bugis di Tanah Padjajaran
  • Berita Harian

Perahu Bugis di Tanah Padjajaran

Suara Mahasiswa Juni 9, 2014

Seusai dilapisi cat, perahu pinisi dijemur di bawah sinar matahari langsung selama setengah hari hingga catnya kering. (Sugiharto Purnama/SM)

Fuad Luthfi tampak mengernyitkan kening menahan sengatan matahari, pada penghujung Mei 2014 lalu. Jemari lincahnya mengampelas sepotong kayu menyerupai lambung perahu yang hampir jadi di teras rumahnya di kaki Gunung Puntang di Kampung Kaca-Kaca Dua, Desa Pasir Mulya, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Kamis siang (29/5).

“Kalau cuaca kurang bersahabat, saya sering menjemur perahu yang telah selesai dicat di atas tungku perapian tempat biasa menanak nasi. Tapi, kalau cuacanya cerah, ya, jemurnya di sini (depan rumah),” kata lelaki yang mulai menekuni usaha ini sejak enam bulan lalu tersebut.

Hanya dibantu anak sulungnya, Hamza Rais, 16 tahun, ia mampu menghasilkan empat puluh miniatur perahu pinisi setiap bulan. Sebelum terjun ke usaha kerajinan, sehari-hari ia bekerja sebagai sales di sebuah toko mainan yang belokasi di tepi jalan raya Bandung-Pangalengan, Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Pemilik toko mainan itu masih terpaut ikatan saudara dengannya.

“Saya diberi ruang yang cukup leluasa untuk berjualan perahu-perahu ini di depan tokonya. Saya dan dia (bos toko mainan: red) masih bersaudara,” ujar lelaki berusia 44 tahun ini.

Lelaki humoris ini tak setiap hari menjajakan produknya di depan toko mainan berbentuk ruko tersebut. Jika sedang membutuhkan uang untuk keperluan sekolah ketiga anaknya, ia baru akan membuka lapaknya di sana. Tentu setelah mendapat izin cuti dari bosnya.

“Bekerja sebagai sales mainan selama enam tahun, telah menumbuhkan banyak ide kreatif dalam bidang kerajinan yang sekarang saya tekuni,” cerita ayah beranak tiga ini.

Ketika baru memulai usahanya, Luthfi masih menggunakan alat produksi yang serba sederhana—saat itu belum ada satu pun mesin produksi modern yang berdenging di rumahnya. Semua tahap ia lakukan secara manual menggunakan golok, gergaji, dan pisau raut.

“Mesin harganya mahal. Dua bulan lalu saya baru mampu kebeli dua mesin, satu mesin untuk mengampelas dan satu mesin lagi untuk melubangi. Uang pembeli mesin saya peroleh dari keuntungan menjual produk,” ujar Lutfi sembari mempraktikkan cara kerja kedua mesin barunya tersebut.

Walhasil, kini ia mampu meraup penghasilan juta rupiah setiap bulan dari bisnis membuat miniatur perahu tradisional masyarakat Suku Bugis itu. “Satu perahu kisaran harga antara Rp 50.000 hingga Rp 200.000 per buah. Semakin besar ukurannya, jelas harganya juga semakin tinggi,” ujarnya.

Tahapan pembuatan perahu dimulai dari memotong balok kayu, lalu mengukirnya hingga menyerupai lambung perahu. Khusus bahan baku pembuatan lambung perahu, Luthfi tak mematok jenis kayu apa yang harus digunakan. Ia cukup memanfaatkan limbah bangunan yang diperolehnya dari beberapa toko material di Kabupaten Bandung. Setelah diukir, lambung perahu diampelas hingga halus.

“Proses selanjutnya adalah memasang layar perahu menggunakan potongan fiber dan jalinan benang, setelah semua tahapan itu selesai barulah perahu dilapisi cat,” ungkap Luthfi.

Menurut lelaki yang pernah menjadi fotografer lepas selama empat tahun di Bogor ini, membuka usaha jika hanya mengejar keuntungan tak akan ada artinya, kalau warga di sekitar tempat tinggalnya masih banyak yang menganggur.

“Saya punya impian menjadikan kampung ini sebagai lingkungan para perajin seperti di daerah Jelekong, Baleendah. Setiap orang, muda maupun tua bisa menjadi manusia yang produktif,” ujar lelaki lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini dengan mata berkaca-kaca.

Filosofi hidup yang ia terapkan rupanya belum mendapat tanggapan positif dari warga di lingkungannya. Impian itu kandas di tengah jalan. Beberapa kali ia berkomunikasi dengan Anggota Karang Taruna di kampungnya, tapi belum satu pun yang menyatakan tertarik bergabung.

“Padahal saya tidak mengajak mereka untuk bekerja di tempat saya. Mereka cukup mengamati apa yang saya lakukan, lalu membuka usaha sendiri di rumah. Aneh, hingga saat ini belum ada satu pun penduduk di sini yang tertarik untuk belajar. Saya tak minta biaya sepeser pun dari mereka. Ini gratis,” ungkap lelaki berkacamata ini.

Berkat semangat dalam menekuni usaha tersebut, kini Lutfi tak lagi kesulitan dalam mencari uang tambahan untuk mendanai biaya pendidikan ketiga buah hatinya di bangku sekolah. Meski hanya bekerja dibantu anak sulungnya, Luthfi yakin jika suatu hari nanti para pemuda di lingkungannya akan menjadi generasi yang kreatif dan produktif. “Apa karena usaha saya masih berumur muda, jadi kemungkinan warga di sini belum yakin kalau usaha ini cukup menjanjikan? Ya, saya harap kelak mereka akan tergerak hati,” imbuhnya.

Tak hanya perahu pinisi, Luthfi juga memproduksi beberapa jenis kerajinan dari kayu, seperti jam dinding dan kaligrafi. Ia juga melayani bentuk lain yang diinginkan para konsumen. Pemasaran produk adalah kesulitan utama lelaki kelahiran Bandung ini.

“Pernah ada pembeli yang datang dan pesan jam dinding, tapi bentuknya boneka. Itu saya bingungnya bukan main, soalnya saya belum pernah memproduksi bentuk unik seperti itu. Tapi, alhamdulilahnya pesanan itu jadi juga,” ujar lelaki ini sembari tertawa. (Sugiharto Purnama/SM)

Tags: @suaramahasiswa bugis Index kebudayaan kerajinan tangan khalida

Continue Reading

Previous: Masihkah Kampusku ‘Bersih’?
Next: Bebaskan Ekspetasi Cerita di Maem Mendut #3

Hal Terkait

Sunyi di Gema Takbir Lewat Single Ala Dongker
  • Berita
  • Berita Harian

Sunyi di Gema Takbir Lewat Single Ala Dongker

Maret 17, 2026
IWD 2026 di Bandung Suarakan Hak-hak Perempuan dan Kelompok Rentan
  • Berita
  • Berita Harian

IWD 2026 di Bandung Suarakan Hak-hak Perempuan dan Kelompok Rentan

Maret 9, 2026
Enam Demonstran Divonis Penjara, Penasihat Hukum Angkat Bicara
  • Berita
  • Berita Harian

Enam Demonstran Divonis Penjara, Penasihat Hukum Angkat Bicara

Februari 24, 2026

Zine Lawan Edisi April 2025

You may have missed

Mahasiswa Refleksikan Penyerangan Aparat melalui Diskusi, “Merawat Ingatan & Lawan Balik”
  • Berita
  • Berita Kampus

Mahasiswa Refleksikan Penyerangan Aparat melalui Diskusi, “Merawat Ingatan & Lawan Balik”

April 19, 2026
Analisis Pandangan Netizen terhadap Konflik K-Netz vs SEAblings di Media Sosial
  • Advertorial

Analisis Pandangan Netizen terhadap Konflik K-Netz vs SEAblings di Media Sosial

April 11, 2026
BEMU Fokus Rampungkan Program Kerja di Sisa Masa Kepengurusan
  • Berita
  • Berita Kampus

BEMU Fokus Rampungkan Program Kerja di Sisa Masa Kepengurusan

Maret 18, 2026
Sunyi di Gema Takbir Lewat Single Ala Dongker
  • Berita
  • Berita Harian

Sunyi di Gema Takbir Lewat Single Ala Dongker

Maret 17, 2026
Copyright © 2025 Pers Suara Mahasiswa Unisba, All rights reserved. Dari Mahasiswa Untuk Kemanusiaan | DarkNews by AF themes.