Teks oleh: karel
Foto oleh: Tiara Pascanoviera Robaeni
Bertempat di Executive Lounge Gedung 2 UniversitasPadjajaran, Jalan Dipatiukur No.35 Bandung, diselenggarakannya sebuah diskusi seni berjudul “Konteks Kekinian Pentas Mastodon Dan Burung Kondor”. Diskusi seni ini dihadiri oleh para narasumber yang berkompeten di bidang seniman yaitu Edi Haryono (senior Bengkel Teater Rendra), Yoesmil Anwar (budayawan), Yacob Sumardjo (budayawan), dan Eep Saefulloh Fatah (pengamat politik) yang menjelaskan mengenai kisah dibalik karya-karya dari W.S.Rendra.
Sinopsis dari pementasan teaternya sendiri yaitu menceritakan sebuah pergulatan sosial politik yang sedang di dera kontra revolusi dalam Negara Indonesia. Dengan mengibaratkan mastodon sebagai penguasa yang membabi buta sedangkan burung kondor sebagai rakyat-rakyat yang menderita dimana kemiskinan dan ketertindasan merajalela. Pementasan teater ini adalah salah satu karya drama masterpiece Rendra yang ditulisnya dalam rentang tahun 1971-1973. Pertama kali dipentaskan oleh Bengkel Teater pada tahun 1973 di tiga tempat yaitu, 24 November di Sport Hall Kridosono Jogjakarta, 7 Desember di Gedung Merdeka Bandung, dan 15 Desember di Istora Senayan Jakarta.
Setelah pada tahun 1973 pementasan Mastodon dan Burung Kondor tidak lagi dipentaskan karena satu dan lain hal, namun setelah hampir 40 tahun tidak dipentaskan Mastodon dan Burung Kondor kembali dipentaskan pada tanggal 10-14 Agustus 2011 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dan pementasan selanjutnya pada tanggal 12-13 Januari 2012 di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Universitas Padjajaran jalan Dipatiukur no.35, Bandung. Alasan mengapa dipentaskan kembali, karena menurut Ken Zuraida istri dari alm.W.S.Rendra dan juga sebagai sutradara, “setelah mempunyai enam presiden dan setelah hampir 40 tahun Mastodon dan Burung Kondo rdipentaskan (tahun 1973) kondisi republik ini tidak berubah”, tegas beliau dalam pemutaran video eksklusif.
Menurut salah seorang peserta diskusi yang berasal dari MSB (Majelis Sastra Bandung), “pementasan seni budaya yang bernilai sosial politik ini sangat bagus untuk dikembangkan, sayangnya publikasi yang kurang dari panitia membuat pementasan yang akan diselenggarakan di Bandung menjadi abu-abu atau kurang jelas”.
Kesimpulan yang didapat bahwa kampus bisa menjadi tonggak perkembangan budaya khususnya budaya kearifan lokal seperti pada teater Mastodon dan Burung Kondor. Kesimpulan ini juga didukung oleh perkataan Eep Saefulloh Fatah (pengamat politik), “kampus sama seperti rebung, jika bibit yang baik menghasilkan bambu yang baik. Jadi kalo kita mau menghasilkan suatu budaya harus didukung dengan pemikiran yang intelek dari mahasiswanya”
